2 tahun lalu · 338 view · 5 min baca · Agama 23369.jpg
Halaman Depan Kampus Sekolah Pascasarjana al-Azhar

Ujian, Keberkahan dan "Campur Tangan" Tuhan yang Di Luar Dugaan

Di tengah teriknya sengatan musim panas, bisa dibilang hari saya mereguk air kebahagiaan setelah mengayunkan kaki dan keluar dari ruangan ujian. Hari ini adalah ujian mata kuliah ketiga dari tujuh mata kuliah yang diujikan oleh pihak sekolah. Sebelumnya saya sudah melewati ujian al-Quran dan Bahasa Inggris. Dan dengan izin Tuhan, keduanya sudah saya lewati tanpa adanya hambatan. Yang diujikan hari ini adalah mata kuliah yang konon—menurut penuturan salah seorang senior saya—sulit dan rumit sehingga tak banyak mahasiswa yang diberikan kelulusan.

Mata kuliah tersebut ialah mata kuliah Ilmu Tauhid. Ilmu ini dikenal juga dengan sebutan Ilmu Kalam, atau al-Fiqh al-Akbar (fikih makro), di samping kajian ilmu fikih yang biasa disebut al-Fiqh al-Ashghar (fikih mikro). Ilmu Tauhid atau Ilmu Kalam adalah satu disiplin ilmu dalam Islam yang fokus membahas tentang dalil-dalil keimanan mengenai keberadaan Tuhan, konsep kenabian, kewahyuan al-Quran, eskatologi, dan hal-hal lain yang saling berkaitan.

Harus saya akui bahwa, selain rumit, bahan yang diujikan dalam mata kuliah ini memang cukup banyak. Tadi malam saya sudah hampir putus atas dan lebih memilih untuk bersantai-santai. Saya tidak memiliki persiapan yang cukup untuk mengikuti mata kuliah yang satu ini. Alih-alih membolak-balikan diktat kuliah, yang saya lakukan sejak tadi malam hanyalah memelototi laptop sambil iseng-iseng merangkai tulisan.

Terkadang saya merasakan kenikmatan tersendiri ketika menulis. Kenikmatan merangkai kata, kenikmatan berpikir, berimajinasi dan tentunya kenikmatan menuangkan pikiran yang akan dibaca oleh banyak orang. Karena itu, daripada pusing membaca diktat kuliah, menulis bagi saya adalah sebuah pilihan. Di sela-sela menulis itu saya sempatkan beberapa menit untuk membaca diktat kuliah. Karena semakin lama semakin membuat pusing, akhirnya saya memutuskan untuk mengaparkan badan di atas kasur pembaringan.

Sampai menjelang pagi saya memilih untuk melanjutkan tulisan yang belum sempat saya selesaikan sejak tadi malam. Saya sudah malas untuk membaca diktat kuliah. Saya hanya berpikir pasrah saja sepasrah saya dalam menunggu hadirnya pasangan yang tak kunjung datang. Dua jam sebelum masuk kelas pun saya hanya ngobrol-ngobrol dengan orang Mesir sambil merayu-gombali mereka untuk tidak belajar. Agar nanti, kalau saya gagal di mata kuliah ini, di ujian mendatang saya bisa punya teman.

Saya katakan kepada salah seorang teman kalau saya lebih memilih untuk mengikuti ujian susulan yang akan diadakan sekitar satu setengah bulan yang akan datang. Sebelum masuk kelaspun saya bilang ke ke teman saya: “Saakunu min awail man yakhruj (gua akan jadi orang pertama yang keluar duluan!)” Orang Mesir itu hanya tertawa saja. Karena dia juga ternyata tidak punya persiapan. Haha.

Di luar Sangkaan

Tapi apa yang terjadi ketika jam sudah memasuki pukul sepuluh dan lembar jawaban sudah mulai dibagikan ke seluruh peserta ujian? Setelah lembar soal dibagikan, saya mulai membaca satu-persatu persoalan teologis yang dijadikan bahan pertanyaan.

Mula-mula, ketika membaca soal, saya bingung untuk menuangkan jawaban. Saya galau. Meskipun tak segalau Ahok yang kini terkurung di dalam tahanan. Tapi kali ini saya harus berkata lebay kepada Anda. Selesai membaca soal, saya betul-betul kaget ketika saya mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diujikan itu dengan lancar dan tanpa hambatan.

Secara umum, pertanyaan yang diajukan ialah seputar perdebatan konsep sifat Tuhan dalam perspektif para Filosof dan kaum Asy’arian. Selain itu, dalam satu salah satu bagian soal, ada juga permintaan untuk menguraikan detil perdebatan antara para filosof dan para teolog seputar konsep emanasi alam. Di samping tentunya ada juga soal-soal lain yang tidak perlu saya sebutkan.

Menjawab persoalan tersebut tentu saja tidak mudah apalagi bagi saya yang memang tidak dibekali persiapan. Namun, sebagai orang beragama, saya percaya dengan adanya keberkahan dan “campur tangan” Tuhan. Di saat merasa kesulitan, orang beragama pasti menyandarkan dirinya kepada Tuhan. Akhirnya, sebelum menuangkan jawaban, saya membaca Alfatihah untuk guru-guru saya di Pesantren. Di samping saya juga meminta doa (ingat, meminta doa, bukan menujukan kepadanya sebuah doa) kepada salah seorang wali yang satu hari sebelum ujian biografinya sempat saya baca di depan kamar.

Dalam tradisi fikih Islam, apa yang saya lakukan ini adalah bentuk tawassul, yakni meminta kepada Tuhan tapi melalui perantaraan (al-Wasilah). Perantaraan tersebut bisa berupa amal saleh, ataupun Nabi dan orang-orang yang memiliki kedekatan khusus dengan Tuhan (auliya). Bagi Anda mungkin ini adalah hal sepele yang bisa jadi akan Anda tertawakan. Tapi, bagi saya, justru dengan cara seperti inilah saya meminta kemudahan kepada Tuhan.

Kalau Anda terjangkit virus Wahabi, saya pastikan bahwa Anda akan mengajukan pertanyaan seperti ini: Memangnya Kenapa Anda perlu meminta kepada Tuhan melalui perantara segala? Bukankah Tuhan itu Maha Dekat sehingga tidak perlu dengan yang namanya perantaraan? Bukankah Tuhan sendiri yang berjanji bahwa kalau ada hamba-Nya yang meminta maka Dia sendiri yang akan mengabulkan? Bukankah cara bertawassul ini pada akhirnya dapat menimbulkan kemusyrikan? Bukankah ini bertentangan dengan ajaran tauhid yang melarang kita untuk mengajukan permohonan kepada selain Tuhan?   

Saya tidak mau berdebat dan mengulas panjang persoalan ini melalui argumen-argumen keagamaan. Tapi paling tidak, jawaban sederhana yang bisa saya katakan sekarang ialah: Bertawassul dengan orang-orang pilihan itu sebenarnya mengandung ekspresi kerendahhatian kita di hadapan Tuhan. Tawassul itu dibangun atas kesadaran bahwa kita adalah makhluk lemah yang dilumuri dosa dan kemaksiatan. Karena kita menyadari hal tersebut, maka kita mengajukan permohonan kepada Tuhan melalui mereka yang “lebih dekat” dengan harapan agar doa kita dikabulkan sesuai dengan yang dimintakan. 

Dengan demikian, jelas bahwa dalam bertawassul tidak ada unsur kemusyrikan. Karena yang kita jadikan perantara bukan berhala, melainkan orang-orang saleh dan orang-orang pilihan Tuhan.

Dan ternyata, setelah saya mengamalkan ajaran yang diharamkan oleh orang-orang Wahabi itu, saya betul-betul mendapatkan kemudahan. Setelah keluar ruangan, saya sendiri hampir tak percaya bagaimana mungkin saya yang tadinya tidak memiliki persiapan mampu menjawab soal-soal rumit dengan lancar dan tanpa hambatan. Saya yakin ini adalah campur tangan Tuhan yang sebelumnya tidak saya sangkakan.

Hal-hal kecil seperti ini saya kira sering kita jumpai dalam kehidupan. Orang sering menyebutnya sebagai sebuah kebetulan. Tapi, sebagai seorang mukmin, saya percaya bahwa ini adalah campur tangan Tuhan. Saya tak menganjurkan Anda untuk meniru kemalasan saya ini. Tapi, kalau soal bertawassul tadi, silakan Anda amalkan. Catatan ini sengaja saya tulis sebagai rasa tanda syukur saya kepada Tuhan. Karena saya tahu bahwa jika saya bersyukur, maka Tuhan akan memberikan nikmat tambahan, seperti yang dikatakan dalam al-Quran. Semoga di ujian mendatang saya tetap diberikan kemudahan. Amin.

 Kairo, Saqar Quraish, 8 Juli 2017

Artikel Terkait