Arsiparis
1 bulan lalu · 49 view · 3 menit baca · Budaya 65379_32399.jpg

Uji Kompetensi bagi Musisi

Kisruh RUU Permusikan

Bermusik kini tak lagi bisa dilakukan semua orang. Bukan karena mereka tak berbakat atau tak mempunyai kemampuan untuk itu, tapi karena, untuk dikatakan sebagai pemusik, mereka harus punya syarat-syarat tertentu. Musik dan seni pada umumnya kini menjadi wilayah eksklusif sebagian orang-orang  tertentu saja.

Kegaduhan tentang Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan kini mewarnai isi beberapa media. RUU ini dianggap oleh para pelaku di dunia musik mempunyai kecacatan karena bisa mengekang kreativitas musisi dan juga elemen yang terlibat di dalamnya.

Ada salah satu pasal yang akan penulis soroti, yaitu tentang adanya uji kompetensi bagi musisi. Masalah yang tertuang dalam pasal 32 RUU tersebut menghendaki:

  1. Untuk diakui sebagai profesi, pelaku musik yang berasal dari jalur pendidikan atau autodidak harus mengikuti uji kompetensi.
  2. Uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan standar kompetensi profesi pelaku musik yang didasarkan pada pengetahuan, keterampilan, dan pengetahuan.
  3. Standar kompetensi dimaksud pada ayat (2) disusun dan ditetapkan oleh menteri dengan memperhatikan usulan dari organisasi profesi.

Entah dengan alasan apa sehingga musisi harus diuji kompetensinya agar dianggap sebagai profesi. Mungkin musisi hendak disamakan dengan profesi lain yang berhubungan dengan institusi kelembagaan yang berhubungan dengan kredibilitas lembaga tersebut. Misalnya, lembaga pendidikan dan kesehatan.

Di dua lembaga yang saya maksud tersebut, kompetensi yang diwajibkan adalah kemampuan transfer ilmunya bukan pada keahlian diri pribadinya. Seorang ahli matematika tidak ada uji kompetensinya untuk disebut matematikawan, tapi, bila ia ingin mengajar, tentunya harus mempunyai kompetensi pada seluk-beluk mengajarnya.

Untuk dunia seni, uji kompetensi hanyalah mengada-ada saja. Mereka akan diuji oleh lingkungan tanpa perlu adanya sertifikat dan tetek-bengeknya itu. 

Musisi, sebagaimana seniman lainnya, tak memerlukan uji kompetensi untuk diakui. Karena mereka disebut musisi bukan karena sertifikatnya tapi lebih pada banyaknya karya yang ia hasilkan.

Karya Menjadi Sarana Uji yang Sesungguhnya 

Seorang musisi akan hilang dari peredaran jika ia tidak berkarya. Demikian halnya pelukis, ia tidak akan diakui sebagai pelukis jika tak mempunyai satupun karya yang pernah disajikan kepada publik. 

Musisi akan diakui jika ada lagu yang ia ciptakan. Sebaik dan sehebat apa pun seseorang bermusik, jika tak punya lagu, maka ia bukan dianggap musisi. Dia pemain musik. Dan yang seperti ini banyak.

Jika memang uji kompetensi menjadi syarat utama untuk seseorang dianggap berprofesi sebagai musisi,  alangkah mudahnya menjadi musisi itu. Hanya dengan selembar sertifikat uji kompetensi, kita mengantongi sebutan musisi.

Para perancang RUU ini mungkin ada yang sebagian musisi dan tidak pede dengan statusnya sebagai musisi karena kurang ngetren jadi dan berkelas seperti profesi lainnya yang ada uji kompetensinya. Dengan melalui uji kompetensi, seseorang dianggapnya musisi akan terlihat kredibel.

Salah besar jika menganggap uji kompetensi adalah syarat untuk menjadi musisi. Seperti yang saya singgung di atas, karya adalah kunci untuk dianggap sebagai musisi.

Tidak bisa kita samakan keterampilan bermusik ini dengan profesi lain yang mengharuskan uji kompetensi. Kemampuan dan pembuktian lebih diutamakan dalam dunia kreativitas. 

Bukan hanya selembar kertas sertifikat yang kadang tak jelas validitasnya. Bukan rahasia lagi jika sertifikat uji kompetensi tak sesuai dengan kemampuan pemegangnya.

Apakah kita menghendaki adanya musisi abal-abal yang hanya lulus uji kompetensi tanpa pernah sekalipun berkarya?

Inilah yang membedakan profesi guru musik dan musisi. Guru musik perlu uji kompetensi tentang transfer ilmu musiknya kepada peserta didik. Meski guru tersebut mahir dan terampil bermusik, ia tak akan pernah disebut musisi sepanjang ia belum pernah berkarya. Dan musisi hanya perlu membuktikan dengan karya tak harus diuji kompetensi dan sebagainya.

Kadang memang kita sering latah dengan ikut-ikutan apa yang sedang ramai. Untuk kasus musisi ini, tentunya tidak pada tempatnya jika para penggagasnya juga ikut latah. 

Musisi jelas berhubungan dengan kreativitas yang mesti dibuktikan bukan dengan uji kompetensi. Tapi mereka harus membuktikan dengan membuat karya yang dinikmati publik.

Banyak musisi yang lahir dari bakat alam maupun yang lahir dari pendidikan. Tapi sebelum mereka menjadi musisi, mereka harus melalui jalan panjang persaingan dalam menunjukkan karya mereka ke masyarakat. 

Ada yang akhirnya berhenti dan ada yang terus bertahan. Salah satu syarat untuk bertahan di dunia musik jelas berkarya dan berkarya.

Untuk apa uji kompetensi bagi musisi? Mereka telah diuji dengan sarana uji yang lebih kredibel dan terpercaya validitasnya, yaitu kritik dari para penikmat karya-karyanya. 

Mereka yang benar-benar musisi tak butuh uji kompetensi dan syarat-syarat administratif lainnya. Mereka telah berdarah-darah untuk menghasilkan karya. Dan proses berkarya itulah ujian yang sesungguhnya.