Sebagai bapak poitivisme, Aguste Comte (1798-1857) memperkenalkan karya utamanya tentang positivisme dalam buku Cours de Philosophic de Positive, yaitu Kursus tentang Filsafat Positif (1830-1842).  Buku inilah yang kemudian diterangkannya mengenai poitivisme, hukum tiga tahap, klasifikasi ilmu-ilmu pengetahuan dan bagian mengenai tatanan dan kemajuan.

Positivisme berasal dari positif yang dalam konteks ini berarti faktual, yaitu apa yang berdasarkan fakta-fakta. Menurut positivisme, pengetahuan seseorang tidak boleh melebihi fakta-fakta. Alhasil ilmu pengetahuan empriris menjadi yang istimewa. Namun, dalam tinjauan metafisika, positivisme ditolak secara definitif. Kant, dalam kritisismenya menerima adanya das Ding an sich, objek yang tidak bisa diselidiki pengetahuan ilmiah. Tetapi bagi Comte, objek adalah yang faktual, alhasil ia menolak etika, teologi, ataupun seni yang mempunyai fenomena yang dapat teramati.

Fakta pun berkata bahawa poitivisme ini sebagai fenomena yang yang dapat diobservasi, sehingga erat kaitannya dengan empirisme. Namun empirisme dalam kaitan positivisme ini hanya menerima pengalaman objektif yang bersifat lahiriah. Sehingga hanya mengandalkan fakta-fakta belaka yang ada. Postivisme ini membuka diri terhadap fakta-fakta baru dan dasar pengetahuan baru yang dapat ditinjau kembali.

Postivisme merupakan peruncingan tren pemikiran sejarah modern barat yang telah mulai menyingsing sejak ambruknya tatanan dunia abad pertengahan melalui rasionalisasi dan empirisme. Dalam positivisme kedudukan pengetahuan diganti metodologi, sehingga positivisme menempatkan metodologi ilmu alam pada ruang yang dulunya menjadi wilayah refleksi epistemologi, yaitu pengetahuan manusia mengenai kenyataan.

Hukum Tiga Tahap

Hukum tiga tahap adalah usaha Comte untuk menjelaskan kemajuan evolusioner umat manusia mulai dari perkembangan individu dari masa kanak-kanak, melalui masa remaja hingga ke masa dewasa hal ini sesuai dengan perkembangan mental manusia sebagai suatu keseluruhan. Sehingga dijabarkan tahapan itu dengan 3 tahap: yaitu tahap teologis, tahap metafisik serta tahap positif.

Tahap Teologis

Pada tahap ini, manusia mencari sebab-sebab terakhir dibalik peristiwa alam dan menemukannya dalam kekuatan-kekuatan adi-manusiawi. Kekuatan ini, baik itu dewa maupun Allah, dibayangkan memiliki kehendak atau rasio yang melampaui manusia. Pada tahapan ini dibagi menjadi tiga lagi yaitu: fetisisme atau animisme yang mana objek fisik itu berjiwa, berkehendak dan berhasrat. Kemudian politeisme, kekuatan-kekuatan alam itu diproyeksikan dalam rupa dewa. Terakhir, monoteisme, dewa-dewa dipadukan menjadi satu kekuatan adimanusiawi yaitu Allah.

Tahap Metafisik

Pada tahap berikutnya, dapat dikatakan menjadi tahap transisi sebelum memasuki tahap positif. Sebab dalam tahapan ini dinyatakan dalam gagasan ada kebenaran tertentu yang asasi manusia mengenai hukum alam yang jelas dengan sendirinya menurut pikiran manusia dan juga dalam berpikir metafisik.

Tahap Positif

Pada tahapan ini, akal budi sangat berarti dan penting. Seperti dalam tahapan metafisik, tetapi harus dipimpin oleh data empiris. Analisis rasional mengenai data empiris akhirnya memungkinkan manusia untuk mendapatkan hukum-hukum namun dilihat sebagai uniformitas empiris. Dengan kata lain bahwa manusia memusatkan diri pada yang faktual yang sebenarnya ada.

Analisis

Dari teori tersebut, dengan jelas bahwa Aguste Comte menjabarkan tentang positivisme. Dengan kata lain ia menekankan pada positivisme yang mana data empriris sebagai data yang faktual dan yang terpercaya. Aguste Comte lebih melihat bahwa segela sesuatu diselidiki atau diobservasi sehingga memunculkan empiris sebagai hal yang utama, karena Aguste Comte berfokus pada pengalaman hidup yang terjadi dalam keseharian.

Teori ini memandang objek sebagai hal yang penting, karena objek tersebut akan dijadikan bahan observasi dan mau mengatakan bahwa objek (bisa juga fenomena) yang terjadi akan dijelaskan secara ilmiah berdasarkan hasil peninjauan, pengujian dan dibuktikan melalui data empiris yang ada dan faktual. Dengan begitu bahwa manusia harus menerima kenyataan yang ada, bukan untuk melarikan diri melainkan terus berjuang untuk menguji objek yang akan diteliti. Teori ini terus menggunakan akal budi dalam proses pengupasan objek hingga menemukan data empriris yang ada. Alhasil, penggunaan rasionalitas sangat diperlukan untuk proses ini untuk semakin memvalidkan suatu data empiris.

Jika dilihat kembali dengan fenomena pandemi Covid-19 ini, para ilmuwan berusaha untuk menemukan vaksin yang tepat untuk membasmi virus ini. Bahkan sebelum itu, pada awal-awal pandemi ini, sempat WHO mengumumkan bahwa virus ini tidak menular dan akan mati jika berada dalam suhu yang panas. Jika ditinjau kembali, pengumuman dari WHO tersebut memang belum melakukan sebuah riset, namun hanya berdasarkan pengandaian saja. Tetapi semakin lama semakin banyak yang terjangkit, WHO semakin gencar melakukan riset mengenai vaksin yang ampuh. Oleh Cina, Inggris misalnya yang membuat bakal calon vaksin yang terus diobservasi baik di laboratorium maupun uji klinis oleh banyak orang. Oleh karena itu, semua negara mengharapkan segera terealisasi dari adanya vaksin untuk Covid-19 ini.

Di Indonesia sendiri, telah melakukan tahap uji klinis pada tahap ke-3 telah dilakukan dan dari hasil pemantauan kepada orang yang telah menerima calon vaksin ini, menunjukkan hasil yang baik. Riset yang dilakukan pun dilakukan dengan penuh kehati-hatian, sebab tim akan melakukan yang terbaik untuk terus gencar membasmi virus ini.

Pada tahapan uji klinis fase 3 di Indonesia merupakan suatu hal yang amat penting. Sebagai tahap uji coba yang nantinya akan divalidkan datanya yang akan dijadikan bahan penelitian lagi apakah vaksin ini aman, tidak ada efek samping dan tentunya sertifikasi halal dari MUI.

Teori Aguste Comte dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam mengobservasi uji klinis vaksin tahap 3 ini. Mengandalkan data yang faktual sebagai acuan dari tahapan berikutnya merupakan suatu langkah yang telah dilakukan pemerintah Indonesia. Karena tidak boleh sembarangan dalam menganlisis, dan berdasarkan pengalaman yang ada.

Kita bisa lihat, bahwa proses peongobservasian uji klinis vaksin ini, tentu akan melihat aspek mutu, keamanan dan dampaknya. Pengobservasian ini terus dilakukan bukan hanya di Indonesia saja, tetapi juga di negara lain, sehingga dapat menjadi bahan perbandingan dari keefektifan vaksin ini. Pengobservasian ini bukan hanya memakan satu bulan saja, melainkan berbulan-bulan, karena akan memantau subjek yang telah menerima suntikan calon vaksin tersebut dan selama itu hasil analisis sampel darah harus menunjukkan imunogenisitas yang mana analisis imunogenisitas menjadi parameter ukur yang dapat menajdi bukti ilmiah dari aspek keamanan dan khasiat setelah penuntikan.