Seiring berjalannya waktu, teknologi dan internet tidak dapat lagi dipisahkan antara satu sama lain. Hal ini menyebabkan munculnya kolaborasi yang menghasilkan teknologi yang bernama ruang digital.  

Ruang digital atau dikenal dengan istilah jagad maya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian masyarakat di era digital ini dengan segala dampak positif dalam kehidupan sosial manusia yang ditawarkannya.

Namun demikian, hal ini juga tak lepas dari berbagai dampak negatif  dalam kehidupan sosial manusia, salah satunya terkait dengan maraknya ujaran kebencian dan rasisme. Secara umum kebanyakan pengguna ruang digital di Indonesia sudah menunjukkan kesadaran yang cukup tinggi akan berbagai jenis ujaran kebencian dan rasisme yang menyangkut pandangan politik, suku, budaya dan agama.

Meski demikian, terlepas dari banyaknya pengguna yang memberikan reaksi negatif (tidaksuka, sedih, atau marah) ketika melihat ujaran kebencian di  runang digital dan menyatakan itu sebagai sesuatu yang salah. Namun sebagian besar masih tetap memilih untuk mendiamkannya saja, terutama jika mereka bukan merupakan bagian dari kelompok yang menjadi target ujaran kebencian tersebut.

Ujaran Kebencian dan rasisme adalah salah satu dampak negatifnya. Dalam kehidupan di ruang digital, khususnya sosial media, pasti banyak dijumpai tulisan yang mengandung ujaran kebencian. Namun kemudian beberapa di antaranya juga dapat kita jumpai dalam bentuk rasisme terhadap suatu kelompok atau individu dari kelompok tertentu.

Bahkan ujaran kebencian dan Rasisme sudah menjadi kanker yang masuk dalam akar ruang digital kita. Berbagai macam ujaran kebencian dan rasisme di di ruang digital --seperti hinaan, provokasi, atau hasutan-- tidak terhitung lagi jumlahnya.

Perlakuan rasisme dan ujaran kebencian di rung digital bukan persoalan yang sederhana. Banyak pengguna ruang digital secara sengaja menulis dan memposting ujaran kebencian dan rasisme yang ditujukan khusus kepada pihak-pihak tertentu .

Berbagai jenis ujaran kebencian ini juga salah satunya menyerang kelompok-kelompok ras tertentu, yang bahkan kadang dapat dipastikan meskipun mereka tidak melakukan kesalahan apapun kepada orang lain, tetapi tetap mendapat lontaran ujaran kebencian.

Hal seperti itu sering terjadi karena banyak orang menggunakan ruang digital merasa mereka mempunyai derajat lebih tinggi dari kelompok lain, dan secara sadar atau tidak sadar sering melanggar etika dalam media sosial dengan melontarkan hinaan atau ejekan kepada pihak-pihak tertentu.

Ada beberapa alasan mengapa ujaran kebencian dan rasisme ini terus terjadi hingga sekarang karena pelaku ujaran kebencian di sosial media merasa mereka mempunyai banyak 'teman' yang juga merupakan sesama pelaku yang kerap melontarkan ujaran kebencian pada pihak lain. Kadang, mereka melontarkan ujaran kebencian dan rasisme karena merasa itu hal yang lucu dan biasa saja.

Berdasarkan berbagai hasil penelitian, para penyebar ujaran kebencian dan rasisme di ruang digital mayoritas menggunakan nama samaran untuk akun mereka dengan tujuan untuk menghindari diketahuinya identitas asli mereka. Selain itu mereka umumnya menargetkan akun-akun yang memiliki jumlah pengikut yang banyak atau akun yang memiliki tingkat aktivitas yang tinggi.

Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Silvio Santos,dkk diperoleh hasil bahwa kemunculan ujaran kebencian dan rasisme di sosial media disebabkan oleh relasi yang tidak seimbang antara teknologi dan kehidupan sosial sehari-hari dan jika teknologi digunakan oleh seseorang atau komunitas yang tidak paham mengenai manfaat dari perkembangan teknologi, maka akan muncul potensi terjadinya hal yang tidak diinginkan.

Twitter, Facebook, dan Youtube merupakan platform sosial media yg paling marak ujaran kebencian dan rasisme. Hal ini dapat dibuktikan dengan infografis yang dikeluarkan oleh Facebook mengenai jumlah ujaran kebencian yang telah mereka hilangkan sejak tahun 2018 hingga bulan Maret tahun2020 .

Tahun 2020 sebanyak 9,6 juta ujaran kebencian telah dihilangkan oleh Facebook. Dari tahun 2019 menuju ke tahun 2020 terjadi peningkatan jumlah ujaran kebencian yang dihilangkan oleh Facebook sebanyak 3,9 juta.

Maraknya ujaran kebencian dan rasis di ruang digital sangatlah mengkhawatirkan. karena jumlah pengguna ruang digital, khususnya sosial media akan selalu mengalami peningkatan tiap harinya sehingga jumlah ujaran kebencian di masa yang akan datang dimungkinkan melebihi angka 9,6 juta.

Jumlah ujaran kebencian dan rasisme yang ada di ruang digital sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan hilang atau teratasi. Bahkan ujaran kebencian dan rasisme akan makin jelas terlihat eksistensinya jelang perhelatan politik pemilu.

Ujaran kebencian dan rasisme memberikan dampak yang signifikan terhadap pemikiran dan toleransi antara pengguna ruang digital. Selain itu, remaja dan anak-anak muda merupakan salah satu subjek yang rawan sekali mencerna dan terkena hal-hal negatif karena mereka lebih banyak menghabiskan waktu mereka pada platform tersebut.

Dilain sisi, dampak yang diberikan oleh maraknya ujaran kebencian ini tidak hanya akan dirasakan oleh tiap-tiap individu saja, akan tetapi dampak dari hal ini juga dapat dirasakan oleh dunia internasional. 

Ujaran kebencian dan rasisme yang ditujukan kepada warga negara lain dapat menimbulkan perseteruan dan mengganggu hubungan internasional antara kedua negara tersebut.