Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) kini termasuk internet oleh masyarakat Indonesia sudah semakin masif. Survey indikator TIK 2015 untuk Rumah Tangga dan Individu yang dilakukan oleh Kominfo (2015) menyimpulkan bahwa akses rumah tangga terhadap internet mengalami peningkatan pesat (Gagliardone dkk, 2015).

Proporsi rumah tangga yang telah mengakses internet tahun 2015 mencapai 35,1% atau setara dengan 22,8 juta rumah tangga. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding dua tahun sebelumnya yang baru mencapai 19,6% dan 22,2%. 

Penelitian ini juga menemukan bahwa aktivitas yang dilakukan sebagian besar pengguna internet adalah membuka situs jejaring sosial, mengirim pesan melalui instant messaging (termasuk chatting), dan mencari informasi mengenai barang dan jasa (Christiany Juditha, 2017).

Tidak saja media sosial, pemanfaatan situs berita juga menjadi aktivitas tertinggi lainnya yang dilakukan oleh netizen. Hasil penelitian tentang Studi Konsumsi Media Online yang dilakukan oleh Digital Association (IDA) bekerjasama dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Aplikasi Baidu (2016) mengungkapkan bahwa pembaca berita online didominasi kelompok usia 33 sampai 42 tahun, dan didominasi oleh laki-laki (Christiany Juditha, 2017).

Pemanfaatan media sosial dan situs berita online yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun ini menimbulkan fenomena baru. Setiap orang bebas mengungkapkan apa saja melalui akun media sosial mereka. Atau bahkan berita-berita pada situs berita dengan mudah di share ke media sosial dan kemudian dapat dikomentari oleh netizen lainnya.

Bahkan kini dalam situs berita online pun disiapkan ruang komentar untuk para pembaca. Berita-berita ini kemudian ditanggapi secara beragam oleh netizen di ruang komentar baik itu positif, negatif, maupun netral. Namun hal ini juga mendatangkan masalah baru dimana praktik hatespeech atau ujaran kebencian juga tumbuh pesat melalui medium ini.

Dalam istilah hukum, menurut Unesco, kebencian cenderung untuk merujuk pada ekspresi yang menganjurkan hasutan untuk merugikan berdasarkan target yang diidentifikasi dengan kelompok sosial atau demografis tertentu.

Definisi oleh Council of Europe (2012), hatespeech dipahami sebagai semua bentuk ekspresi yang menyebar, menghasut, mempromosikan atau membenarkan kebencian rasial, xenophobia, anti-semitisme atau lainnya dalam bentuk kebencian berdasarkan intoleransi, termasuk: intoleransi nasionalisme agresif dan etnosentrisme, diskriminasi dan permusuhan terhadap kelompok minoritas, migran dan orang-orang asal imigran" (Jubany dan Roiha, 2015).

Hatespeech juga merupakan bagian dari marjinalisasi dimana seseorang atau sekelompok orang digambarkan buruk (Eriyanto, 2011: 124). Dalam hal ini, marjinalisasi dilakukan dengan beberapa cara yaitu: Eufimisme, Disfemisme, Labeling, dan Stereotipe. 

Eufimisme (penghalusan makna), umumnya digunakan untuk memperhalus “keburukan”.  Eufimisme banyak dipakai oleh media serta banyak dipakai untuk menyebut tindakan kelompok dominan kepada masyarakat bawah, sehingga dalam banyak hal bisa menipu, terutama menipu rakyat (Eriyanto, 2011: 125).

Disfemisme (pengasaran bahasa) digunakan untuk “memburukkan” sesuatu. Labeling adalah pemakaian kata-kata yang ofensif kepada individu, kelompok, atau kegiatan. Stereotipe adalah penyamaan sebuah kata yang menunjukkan sifat-sifat negatif atau positif (umumnya negatif) dengan orang, kelas, atau perangkat tindakan (Eriyanto, 2011: 126-127).

Di sini, stereotipe adalah praktik representasi yang menggambarkan sesuatu dengan penuh prasangka, konotasi yang negatif dan bersifat subjektif. Kategorisasi praktik hatespeech dalam dimensi prasangka sendiri dilakukan dengan cara ejekan, julukan, dan cercaan.

Sedangkan dalam dimensi tema, hatespeech itu sendiri dikategorisasikan sebagai praktik kebencian terhadap suku, agama, aliran keagamaan, keyakinan atau kepercayaan, ras, antar golongan, warna kulit, etnis, gender, kaum difabel, dan orientasi seksual.

Disadari atau tidak penggunaan media online yang semakin tinggi di Indonesia berdampak pada meningkatnya aktivitas hatespeech atau ujaran kebencian secara online. Fenomena hatespeech secara online dari tahun ke tahun semakin berkembang dan menimbulkan beragam masalah baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Hatespeech secara online merupakan salah satu tren utama di Indonesia sejak berlangsungnya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur DKI Jakarta 2017. Peristiwa ini merupakan yang paling banyak mendapat perhatian masyarakat Indonesia baik warga Jakarta maupun di luar Jakarta. Karena hatespeech melalui media online sudah semakin pesat dan memiliki potensi untuk mencapai audiens yang lebih besar.

Terbukti sejak tiga pasangan calon gubernur dan wakilnya yaitu Ahok-Jarot, Anis-Sandiaga, dan Agus-Sylvia resmi mendaftar di KPU pada 20 September 2016. Sejak saat itu berita dan informasi tentang ketiga pasangan bakal calon ini ramai diperbincangkan di media online oleh para pendukung maupun haters (pembenci) masing-masing.

Ajang pemilihan kepala daerah ini sarat dengan ujaran kebencian yang dikembangkan masing-masing pendukung terhadap rival mereka. Pilkada yang diharapkan berjalan baik tanpa kendala berarti berubah menjadi ajang berkembangnya ujaran kebencian yang paling fenomenal sepanjang sejarah pemilihan kepala daerah di Indonesia.

Situasi tersebut semakin memanas ketika komentar netizen di media sosial paling dominan mengarah pada kebencian terhadap agama dan SARA yang ditujukan kepada Ahok. Meski demikian, komentar yang pro Ahok diruang komentar lebih tinggi. Media yang digunakan untuk menyuburkan praktik ujaran kebencian ini adalah media online yang terhubung dengan portal berita resmi dan juga media sosial.

Efek hatespeech yang terjadi sebelumnya berdampak besar pada penggunaan media sosial di massa sekarang. Banyak sekali pengguna media sosial yang tidak ramah dalam menggunakan akun pribadinya. Seringkali ditemukan bahkan semakin banyak ujaran kebencian yang beredar meskipun Surat Edaran tentang Penanganan Ujaran Kebencian (hatespeech) telah ditandatangani Kapolri.

Kegaduhan mengenai ujaran kebencian sebenarnya lebih pada masalah strategi komunikasi. Dalam wacana publik, isu mengenai ujaran kebencian sendiri sebenarnya sudah disampaikan oleh banyak pihak.

Hal ini terkait dengan banyaknya peristiwa yang dipicu oleh selebaran atau surat yang menegaskan adanya upaya provokatif untuk menyerang seseorang, agama, atau aliran kepercayaan tertentu.

Sederet peristiwa kekerasan di Indonesia dan di dunia merupakan awal mula terbitnya surat edaran terkait ujaran kebencian. Surat Edaran Kapolri tentang hatespeech atau ujaran kebencian ditujukan untuk mencegah bangsa Indonesia menjadi pendendam.

Penghinaan kalau tidak diatur akan membuat kita jadi bangsa pendendam yang disalurkan melalui caci maki kepada orang lain tanpa ada rasa bersalah. Hal ini berfungsi untuk sosialisasi kepada masyarakat agar tidak sembarangan berpendapat di dunia maya.

Dengan adanya aturan yang telah diberlakukan, netizen seharusnya lebih santun dan beradab dalam bersosialisasi di dunia maya. Tidak berisi hinaan dan hasutan yang bisa memancing konflik sosial.