Seniman
1 tahun lalu · 129 view · 5 menit baca · Media 75684_99768.jpg
https://asset.kompas.com/

Ujaran Kebencian dalam Media

Ajang Perlombaan Berburu Pendukung

Melihat kondisi dunia sekarang ini, saya sering terdiam, kadang kalau mood lagi tidak bagus, ketakutan juga menyelinap di diri. Itu kalau saya melihatnya dari media, yang saat ini sungguh begitu banyak jenisnya. 

Misalnya televisi, berita pembunuhan. Siapa yang tidak ngeri dengan pembunuhan, apalagi kalau terpikir bagaimana jika diri ini yang jadi korbannya, sungguh membuat nyali kendur.

Apa hubungannya pembunuhan dengan kebencian? Sangat ada. Seseorang membunuh pasti karena dipicu benci. Benci dimulai dari perasaan tidak suka, tersakiti atau karena tersinggung. Hingga rasa iri pun juga bisa membentuk benci. Namun jangan lupa, merasa diri paling benar pun sebenarnya bisa memicu benci pada mereka yang dinilai salah.

Tidak semua orang bisa bicara di televisi. Televisi ibarat media mahal. Hanya yang mahal yang bisa masuk televisi. Pembunuhan itu bisa jadi salah satu barang mahal. Karena kebencian awalnya, pembunuhan menjadi akhirnya. 

Mungkin memang benar, pembunuhan adalah titik akhir sikap dari seseorang yang memendam kebencian, dan pembunuhan pun adalah ujaran kebenciannya. Apalagi televisi menampilkannya dalam bentuk yang lebih pekat dan tampak jelas.

Saya pernah membaca berita, yang paling banyak menerima serangan berbentuk ujaran kebencian pada 2017 di Indonesia, adalah Presiden Jokowi. Orang nomor satu di negara ini. Jelas, dengan begitu Jokowi jadi salah satu orang yang paling disorot media. 

Pada hakikatnya, semakin terkenal seseorang, semakin banyak bertambah orang yang menyukainya, seiring itu pula bertambah pula pembencinya. Karena apa lagi yang membedakan manusia kalau bukan tentang suka dan benci? Hitam-putih.

Pembunuhan adalah salah satu sikap yang bisa menjadi bentuk dari meledaknya ujaran kebencian yang lama terpendam. Sikap teratas, keras, dan membabi buta dengan emosi yang tak terkira. Tapi kata-kata bisa lebih berbahaya. Ujaran kebencian dengan kata-kata pun akan lebih menusuk hingga ke hati.

Meminjam lirik band Naif, cinta untuk membenci, benci untuk mencinta, dan pertanyaannya, kita di posisi yang mana? Untuk membenci atau mencinta?

Kehidupan sangat paradoks. Cinta dan benci pemicunya. Cinta untuk membenci bisa jadi artinya mencintai untuk kemudian membencinya, bisa juga ada yang mengartikan, keinginan yang sangat dalam untuk membenci segalanya. 

Bisa juga sebaliknya, benci untuk mencinta, bisa jadi artinya seseorang yang ingin menyebarkan cinta dengan benci, atau bisa juga seseorang yang tidak ingin mencinta sama sekali. Semua tergantung arah, ke hitam ke putih? ke cinta atau ke benci?

Pada 2017 dan beberapa tahun sebelumnya, media sudah semakin canggih, mudah dan siapa saja bisa punya. Bayangkan, semua orang boleh dan bisa memiliki media, yang kemudian dijembatani oleh beragam media sosial, blog atau website. 

Postingan-postingan yang disampaikan tidak berubah, tetap tentang cinta dan benci. Dan begitulah, yang cinta menyajikan kesukaannya, dan yang benci menyajikan ketidaksukaannya.

Orang yang terus menggali sesuatu yang tidak disukai dari sesuatu yang dibenci, pasti akan semakin menambah tumpukan kemarahan di hatinya. Tumpukan ini kalau meledak, urajan kebencian-lah bentuknya. Segala macam disebut, diucap, ditulis dengan niat agar orang lain juga ikut membenci. 

Kalau satu orang yang dia benci semakin dibenci orang-orang, atau bertambah jumlah pembencinya, dia semakin senang. Tipe seperti ini biasanya ingin diakui dan diikuti kebenciannya. Orang-orang yang butuh dukungan, biar orang atau hal yang dibenci semakin terlihat hina, rapuh, lalu kalah.

Semakin banyak tempat manusia berbicara, semakin mudah untuk menyampaikan ujaran cinta, ataupun juga ujaran kebencian. Ujaran kebencian adalah adu domba. Jika ujaran kebencian juga membuat orang lain tersulut untuk ikut membenci, berarti perang semakin menjadi. Peperangan antara benci dan cinta.

Semakin pesatnya perkembangan dunia maya, dan semakin luas menyisir kehidupan masyarakat, kemudian, sesuai fakta, muncullah kaum lovers dan haters di media sosial. Media yang semua orang bisa bicara. 

Di dalam grup masing-masing, mereka saling memupuk kecintaan tentang apa yang dibenci, atau apa yang dicinta. Semakin sering isi kepala disusupi tentang kebencian, emosi pun sukar dibendung, obatnya bikin status. Isinya ujaran kebencian terhadap sesuatu hal. Yang setuju memberi jempol, yang tidak setuju mencari-cari alasan untuk mengalahkannya.

Ujaran kebencian adalah muncul dari persepsi. Ada yang berdasarkan ketidaksukaan, ada juga karena penilaian mereka tentang sesuatu yang hanya akan merusak. Semakin persepsi digali, semakin keras keyakinan terhadap hal itu, dan semakin keras sikapnya. 

Keras ini pun menciptakan sikap radikal. Merasa paling benar, merasa kalau hanya dirinya saja yang suci, dan berusaha membunuh semua hal yang dianggap salah atau buruk agar ‘benar’-nya bisa terwujud menjadi kebenaran yang disepakati semua manusia. Ujung-ujungnya, toleransi mati.

Kalau sudah terlalu benci, mana bisa toleransi. Pengujar kebencian tidak mau sendiri untuk membenci. Mereka mencari pendukung, pengikut, dengan maksud tercapai yang diinginkan, atau agar semakin yakin tentang persepsinya tentang sesuatu yang dibenci.

Ujaran kebencian berusaha untuk merusak citra pihak atau seseorang yang menjadi sasaran kebencian. Semakin ujian kebenciannya tersebar, semakin buruk efeknya untuk citra seseorang yang dibenci. 

Siapa saja yang membaca ujaran kebencian, yang sepakat akan tersulut. Kebencian pun semakin bertambah. Toleransi semakin terganggu. Melihat pihak yang mencinta dan memuji, mereka mengaggapnya lawan. Membalas dengan komentar yang pedas dan penuh emosi.

Ujaran kebencian berusaha membunuh. Semakin banyak pendukung, pembunuhan akan berhasil sempurna. Di balik itu pasti ada penunggangnya. Memanfaatkan penyebaran kebencian untuk mendapatkan keuntungan. Membuat situs atau status di media sosial berisi ujaran kebencian, menyebarkan, kemudian saat sasaran telah dikalahkan, mereka mendapat uang, harta atau tahta yang didambakan.

Semakin tersebar ujaran kebencian, semakin bertambah pula pengikut dan pendukungnya. Efeknya, masyarakat pun masuk dalam kebingungan, dan bimbang memilih jalan ketika cinta dan benci mulai sukar dibedakan, dan nyaris terlihat sama.

Ujaran kebencian juga mampu melumpuhkan. Kebenaran, kekuasaan atau apa saja bentuknya bisa hancur karena ujaran kebencian yang telah menjadi kesepakatan bersama.

Media sosial, blog atau website yang semua orang bisa bicara, kemudian menjadi tempat menyalurkan penghakiman, dengan bentuk ujaran kebencian. Sayang sekali tidak ada penyaringan yang masak. Persepsi yang kadang baru setengah matang, yang kemudian menimbulkan kebencian, sudah dilempar ke publik. Ada pula memang sengaja, karena rasa muak yang sudah tidak terhingga.

Kemudian, setiap sikap pun pasti mendapat dukungan. Ekstremisme yang dibalut intoleransi pun tumbuh pesat, yang memicu perang dan memicu perdebatan tentang benar-salah. Ujaran kebencian pun hadir sebagai bahan bakarnya. Api-api dinyalakan, kebencian diteriakkan dan bersiap ‘membunuh’ siapa saja yang dirasa adalah lawan.

Bicara intoleransi dan ekstremisme sebenarnya adalah dua hal yang sangat berkaitan erat. Ekstremisme kadang terlampau ekstrem, membenci orang yang tidak sepakat dengannya. Kalau perlu sampai membunuh. Mereka tidak peduli, yang penting ‘benar’ menurutnya bisa tegak. Dengan sikap begini, intoleransi pun terjadi.

Komnas HAM pernah mencatat, kasus intoleransi yang terjadi pada 2016 naik dibanding dua tahun sebelumnya. Pada 2014, terjadi kasus. 2015, 75 kasus dan kemudian 2016 kasus yang terjadi mencapai 100. Ujaran kebencian pun adalah pemicunya. 

Rasa benci yang semakin menumpuk kemudian berbuah sikap intoleransi. Melarang aktifitas keagamaan, merusak rumah ibadah, diskriminasi, intimidasi hingga pemaksaan keyakinan pada orang lain.

Semakin banyak media dengan berbagai bentuknya, semakin banyak pula tempat untuk bersuara. Tidak selalu bernada kebenaran, namun hadir pula ujaran kebencian yang muncul bagai tanaman parasit. 

Entah memang karena teknologi yang semakin canggih dalam berkomunikasi, atau memang beginilah sejatinya kehidupan. Perang antara cinta dan benci. Tapi setidaknya, teknologi telah bicara, bahwa pun kita masih menjadi pecinta sekaligus pembenci.

Artikel Terkait