Mahasiswa
2 bulan lalu · 2330 view · 3 menit baca · Pendidikan 60896_18996.jpg

UIN Sedang Tidak Baik-Baik Saja!

Hari ini Indonesia harus tahu bahwa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta sedang tidak baik-baik saja. Buktinya, Rabu (20/03), ratusan mahasiswa berkumpul di depan gedung rektorat berdemonstrasi menuntut keadilan. 

Akar demonstrasi ini adalah Pemilihan Umum Raya (Pemira) mahasiswa yang berjalan tidak berpijak pada hukum atau aturan yang kuat, dengan menetapkan pemilihan melalui sistem e-voting bukan pencoblosan langsung di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Hukum tertulis yang ada sekarang belum menetapkan e-voting sebagai mekanisme pemungutan suara yang sah. 

Hukum yang berlaku sekarang adalah Ketetapan Senat Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Nomor: 03/TAP/ SEMA-U/X/2018 yang isinya adalah mekanisme Pemira dengan sistem pencoblosan secara manual. 

Pemira telah berlangsung Selasa (19/03) yang terindikasi banyak kejanggalan di dalamnya, berdasarkan laporan dari lapangan banyak akun Academic Information System (AIS) milik mahasiswa yang sudah terisi sebelum mereka memilih. 

Sebelum terselenggaranya Pemira dengan e-voting, sudah banyak mahasiswa yang menolak dengan mempertanyakan landasan hukum yang mengatur sistem Pemira secara keseluruhan dan kesiapan teknologi pendukungnya. Namun apalah daya, ketika penguasa (read. Rektor) sudah bicara seperti itu, maka semua saran dan kritik yang masuk ditolak dengan mentah-mentah, seolah menganggap mahasiswa seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa. 

Sebelum lebih jauh, penulis ingin memperkenalkan kultur politik yang ada di kampus ini. 


Mungkin bagi mereka yang sudah akrab dengan UIN Jakarta tidak aneh melihat rivalitas tiga organisasi eksternal mahasiswa, yaitu Himpunan Mahsiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Namun bagi mereka yang masih buta, saya akan beri gambaran sedikit. 

Rivalitas ketiga organisasi ini nampaknya sudah mengakar puluhan tahun silam. Rivalitas yang terjadi ada di semua aspek kehidupan kampus, namun yang paling mencolok adalah dalam bidang politik kekuasaan kampus. Ketiganya selalu berebut pengaruh setiap tahunnya, mulai dari tingkat mahasiswanya sampai tingkat rektor. 

Di negara dengan sistem demokrasi seperti Indonesia ini, rivalitas itu adalah hal yang sangat biasa, sehingga sah-sah saja untuk dilakukan selama itu bukan politik praktis kepartaian.

Namun sayangnya, rivalitas itu sekarang tercederai. Saya tidak akan menyebut pihak mana yang mencederai, tapi yang harus diketahui adalah Rektor UIN saudari Amany Lubis (AL) yang baru 3 bulan dilantik sudah mengebiri demokrasi mahasiswa. 

Seyogianya seorang Profesor apalagi seorang rektor harus memberikan contoh yang baik untuk mahasiswanya dengan melandaskan semua perbuatannya pada aturan yang berlaku, bukan aturan sekarepe dewek. Dengan tangan besi seorang AL, mahasiswa di negara demokrasi tidak bisa belajar demokrasi. Kalau sudah begini, mau jadi apa kita? 

Di tengah-tengah massa demonstrasi, teredengar nyanyian seperti ini: “Katanya pesta demokrasi, nyatanya hasil lobi-lobi, Pemira terserah Amany, KPK tolonglah ke sini”. Jelas tergambar kekecewan barisan mahasiswa. 


UIN bertambah sakit atau tidak baik-baik saja saat pernyataanProf. Mahfud MD di Indonesia Lawyers Club (ILC) viral di media. Mahfud mengatakan, salah satu kandidat rektor UIN Jakarta Andi Faisal Bakti yang gagal dilantik, didatangi orang yang meminta uang sebesar 5 miliar kalau mau menjadi rektor. Pernyataan itu kemudian terindikasi ada hubungannya dengan jual beli jabatan yang menyeret Ketua Umum PPP dan Menteri Agama Lukman Hakim Syaifudin. 

Massa mahasiswa semakin marah mengetahui hal itu, hingga mereka menduga duduknya AL sebagai rektor sekarang ada hubungan dengan jual beli jabatan tersebut. Sehingga aksi demonstrasi kemarin membawa dua agenda penting yang berhubungan dengan banyak orang, tidak hanya soal Pemira yang identik dengan rivalitas 3 organisasi di atad, tapi soal bangsa dan negara Indonesia, soal praktik korupsi jika memang terbukti. 

Aksi demonstrasi kemarin berakhir nihil. Tuntutan untuk Pemira ulang tidak disepakati. Karena itu, mahasiswa akan terus menyuarakan keadilan terus-menerus sampai mereka sadar mereka telah menzalimi banyak orang. 

Di luar aksi itu, para mahasiswa yang tergabung dalam salah satu organisasi tersebut terus melakukan cyber war, untuk sekarang PMII memenangi 8 fakultas dan HMI hanya 1, dengan DEMA universitasnya dimenangi oleh HMI yang berkoalisi dengan IMM. 

Sayangnya perang media yang terjadi tidak sehat, massa PMII melakukan provokasi dengan memposting foto atau meme yang provokatif, seperti kalimat ini: “Salam dari kami punggawa 2018 akan kami yakinkan seyakin-yakinnya bahwa usaha kalian tidak akan pernah sampai”. 


Sedang yang menjadi persoalan massa HMI bukan tentang sekadar menang kalah saja, tapi persoalan sistem yang jelas dan memadai sehingga proses pembelajaran demokrasi berjalan dengan baik. 

Sayangnya bukti-bukti kejanggalan e-voting tidak bisa saya tampilkan di sini, karena saya sedang tidak ingin melakukan advokasi, saya hanya ingin memberitahu kepada Indonesia bahwa UIN Jakarta sedang tidak baik-baik saja. Silakan untuk para pencari bukti, tulisan ini bisa kroscek langsungan lapangan secara objektif. Ya, beginilah kultur Ciputat, pembaca harus peka dan paham. #uinsakit #uintidakbaikbaiksaja #ripdemokrasi

Artikel Terkait