Jika kita berbicara tentang perguruan tinggi atau kampus di Malang Raya, maka yang tebersit di benak kita adalah UB (Universitas Brawijaya) atau UM (Universitas Negeri Malang). Saya tidak pernah menyangkal pernyataan tersebut. Dan justru setuju, karena dulu juga saya sempat mendaftar di dua kampus tersebut.

Bahkan kemarin menurut data dikatakan bahwa UB adalah kampus dengan jumlah pendaftar SNMPTN terbanyak di tahun ini. Karena itu saya tidak mau berdebat tentang betapa superiornya UB di jajaran kampus Malang Raya. Saya hanya ingin mengatakan bahwa bisa saja selera orang itu berbeda-beda.

Sedikit cerita, saya adalah alumnus kampus UIN Malang yang awalnya merasa salah alamat. Ya gimana, di UIN Malang itu hampir semuanya adalah alumni anak pesantren, sedangkan track record saya adalah anak rumahan yang tidak terlalu paham urusan agama.

Setahun pertama menjadi Mahasantri (sebutan untuk MABA) wajib tinggal di ma’had (asrama). Eitss tidak cuma numpang tidur saja, kami harus mengikuti semua kegiatannya dengan monitoring yang sangat ketat.

Bayangkan saja, meskipun Ma’had ini tidak memiliki SKS, namun kami tetap wajib lulus agar bisa mengambil mata kuliah agama. Apalagi bagi saya yang kebetulan mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam, ya kalau tidak lulus bisa-bisa saya ndak kuliah, la wong mata kuliah saya isinya agama semua.

Wajib Ma’had merupakan bekal yang luar biasa. Di sana kami belajar tentang salat, ngaji kitab, bangun pagi, disiplin, serta kemampuan mencari alasan saat kondisi mendesak. Paling tidak, Ma’had bisa membuat anak UIN Malang tahu caranya salat dengan baik dan benar.

“Etapii, bukannya anak kecil juga tahu caranya salat?”

Eits tunggu dulu, faktanya masih banyak yang tidak tahu caranya salat lo. Ini terbukti dengan banyaknya orang yang salat tapi masih melakukan perbuatan keji dan munkar. Asyekk.

Tidak hanya Ma’had saja, kampus ini selalu punya kejutan lain. Di tahun 2015, jumlah kantin di UIN Malang hanya ada 2 (sekarang nambah 1). Iya, di kampus yang sangat luassss ini, jumlah kantin hanya ada 2 saja. Itu pun adanya di dalam Ma’had putra dan putri. Jadi kantin memang didesain untuk para mahasiswa baru yang tinggal di Ma’had.

Sedikitnya jumlah kantin memang sebuah keniscayaan. Hal ini membuat kesempatan untuk berjualan makanan di lingkungan kampus terbuka lebar. Karena itu mahasiswa UIN dididik untuk multitalent; selain berkesempatan menjadi seorang intelektual yang ulama (jargon UIN Malang), kami juga berkesempatan menjadi entrepreneur.

Eits jangan salah, jualan makanan di kampus merupakan bisnis yang sangat menguntungkan. Dari pengakuan teman saya yang jualan tahu bakso, rata-rata dalam sehari ia bisa mendapatkan untung 100 ribu rupiah. Sehingga uang hasil penjualannya bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yang mulia (baca: bayari makan pacar).

Selain beberapa hal tadi, letak geografis UIN Malang sangat strategis karena berdekatan dengan soto qonaah. Soto ini adalah tempat makan lesehan paling hits di kalangan anak UIN Malang. Lokasinya persis di gerbang belakang kampus.

Soto qonaah merupakan tempat makan yang murah, cocok sekali untuk mahasiswa ahir bulan. Tempatnya juga lesehan, jadi kelihatan sederhana sekali.

Saking seringnya kami makan soto qonaah, budaya ini seakan menjadi “sekte” tersendiri. Karena itu kami tidak suka makan di reechess, ka ep ci, atau mekdi. Kami tidak mengenal budaya hedon seperti itu. Tapi kalau ditraktir sih, ayok… ihihihi

Kata orang, nama adalah doa. Soto qonaah konon bisa membuat konsumennya memiliki sifat qonaah (menerima apa adanya). Ini bisa dilihat dari perilaku dan pakaian anak UIN yang apa adanya.

Jika anak UB atau UM dalam berpakain terkesan “mbois ilakes”, maka kita akan melihat gaya berpakaian anak UIN yang penuh dengan kesederhanaan dan apa adanya. Sehingga masih bisa dijumpai anak UIN yang kuliah sambil pakai sepatu futsal. Kampus lain mana ada kearifan lokal kayak gini.

Tidak hanya pakaian yang perlu dikasih jempol, perilaku mahasiswa UIN Malang juga sangat layak diapresiasi. Hal ini bisa dilihat ketika kita memasuki kampus menggunakan motor, maka saat mau keluar kampus akan ditagih STNK (rata-rata kampus di Malang gini). Dan yang membedakan kampus UIN dengan kampus tetangganya adalah menunjukkan STNK menggunakan tangan kanan.

Ini memang terkesan sepele, namun perilaku seperti sangat perlu diapresiasi. Ya gimana, saat menunjukkan STNK, posisi satpam berada di sebelah kiri, jadi akan lebih efisien dan efektif untuk menggunakan tangan kiri. 

Namun kami mahasiswa ulul albab tidak demikian. Selain karena terbiasa dengan memberi menggunakan tangan tangan, kami juga sangat tahu kalau menunjukkan STNK menggunakan tangan kiri akan dimarahi satpam.

Tentunya setiap kampus pasti memiliki kekurangan. Namun terlepas dari itu, saya selalu bangga menjadi alumnus kampus yang paling Uwuwu se-Malang Raya…