74433_33675.jpg
Foto: unisifm.com
Pendidikan · 5 menit baca

UIN Jogja Sarang Muslim Liberal? Berbanggalah, Mahasiswa!
Gara-Gara (Ustaz) Khalid Basalamah

Baru-baru ini, tudingan (ustaz) Khalid Basalamah tentang Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (UIN Jogja) heboh di jagat maya. Melalui video ceramah viralnya bertajuk Rahasia Univ Penganut Liberal dan Pandangan Jogja – Ustaz Khalid Basalamah, Basalamah sebut kampus ini sarangnya muslim liberal.

“Begitu saya masuk ke ruangan pascasarjana, yang paling pertama dilihat jenggot saya dulu. Rupanya di sini ini (UIN Jogja) banyak orang-orang JIL (Jaringan Islam Liberal) yang memang dasarnya dibentuk oleh orang-orang orientalis dari Kanada... yang dibiayai oleh gereja untuk mencari kelemahan Islam.”

Tak hanya itu, video yang sudah ditonton kurang lebih 24.700 kali itu juga lantang suarakan klaim tentang Jogja. Katanya, bencana alam (gempa hingga longsor) yang hampir tiap tahun terjadi di Kota Pendidikan ini adalah buah dari laku masyarakatnya yang tidak beradab.

“Di Jogja ini sudah komplikasi, sudah rumit. Di sini sudah biasa, satu rumah itu berapa agama. Jadi, ayahnya nasrani, misalnya, ibunya muslimah, anaknya budha. Satu-satunya kota yang begitu itu cuma Jogja, gak ada yang lain,” ujar Basalamah menirukan kata-kata temannya.

“Yang lain lagi apa?”

“Coba antum cek, hasil survei internasional, free sex terbesar setelah kota-kota di Amerika, masuk ke Asia Tenggara, itu yang mengalahkan Thailand pun adalah Jogja.”

“Subhanallah. Saya selama ini bertanya-tanya, apa penyebab bencananya ini (gempa hingga longsor di Jogja). Ternyata sampai pada tingkat itu. Dosa dianggap biasa. Ini mengundang bala dan musibah dari Allah swt. Bahaya sekali.”

Klaim Basalamah di atas ternyata mengundang banyak pihak memberi respons. Salah satu di antaranya datang dari calon master Studi Agama dan Resolusi Konflik UIN Jogja sendiri, Muhammad Iqbal Rahman. Ada pula alumnusnya bernama Sarjoko serta Guru Besar Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, Muhammad Machasin, yang juga ikut angkat bicara.

Mungkin saja karena kelekatannya pada UIN, sehingga respons-respons yang mereka bangun atas Basalamah terdengar bernada sama: mengkritik Basalamah sembari berusaha “membersihkan” UIN Jogja dari tudingan tak berdasar.

Di tulisan ini, saya tidak akan menyoal lebih jauh tentang pandangan Basalamah atas faktor terjadinya bencana alam di Jogja. Sebab satu dan lain hal, dasar tudingan itu memang tidak ada kaitannya sama sekali pada masalah yang disampaikan alias ngawur tingkat dewa.

Apa hubungannya coba bencana alam dengan praktik free sex? Bukankah efek paling nyata dari free sex adalah rentannya para pelaku mengidap virus HIV-AIDS atau, misalnya, hamil di luar nikah bagi perempuan? Mengapa sampai ke bencana alam segala efek-efeknya itu?

Di mana nyambungnya orang-orang muslim yang serumah dengan non-muslim bisa jadi pemicu lahirnya bencana alam? Bukankah bencana alam hanya mungkin terjadi jika ada kerusakan atau ketidakseimbangan pada sistemnya, entah karena maraknya eksploitasi sembrono yang dilakukan manusia, atau karena adanya perubahan iklim pada alam itu sendiri?

Tak salah jika banyak orang menjuluki Basalamah ini sebagai ustaz abal-abal. Ngaku ustaz, tapi lakunya tak mencerminkan ke-ustaz-an.

Lah, ustaz itu kan pendidik? Masa iya ada seorang pendidik yang tidak terdidik? Atau mungkin pendidikan seseorang yang bergelar islami itu memang demikian? Entahlah. Yang jelas, dari klaim yang ia paparkan, Basalamah adalah ustaz yang kolot: ngomong seenak dengkul.

Yang lebih memilukan lagi adalah sikap dari para peresponsnya sendiri. Salah dua di antaranya justru tampil—meski (mungkin) samar-samar—mengakui pandangan Basalamah atas muslim liberal (aktivis JIL) dan gagasan-gagasan liberalisme sebagai hal yang salah dan harus dihindari.

Misalnya, respons Muhammad Iqbal Rahman. Sebagai upaya “membersihkan” UIN Jogja dari tudingan tak berdasar seorang Basalamah, calon master ini justru tampil menghardik label “liberal” itu.

“Mereka yang dianggap liberal (termasuk dosen) masih mendirikan salat Duha. Mereka masih nderes Quran di musallah. Apalagi yang santri, mereka malah banyak yang hafal Quran—wong baca Quran dan belajar ‘ulumul Quran kok dianggap liberal?”

Padahal, jika kita mau jujur pada fakta, justru orang-orang liberal-lah yang cenderung menguasai betul kajian-kajian keislaman. Tak sekadar menghafal isinya, tapi juga memahami Quran dan ‘Ulumul-nya secara komprehensif.

Orang-orang seperti Ulil Abshar-Abdalla, misalnya, atau Luthfi Assyaukanie dan Akhmad Sahal, mereka adalah liberal tulen. Hampir tak bisa kita sangkal kelihaian mereka soal Quran dan ‘Ulumul-nya itu. Bahkan, kitab-kitab umat beragama di luar Islam pun, saya kira, sedikit-banyak juga mereka pahami, apalagi kitab sendiri?

Respons yang sama kolotnya dengan tudingan Basalamah ini juga ditambal oleh alumnusnya, Sarjoko. Bahkan, ia secara tegas menolak pernyataan bahwa UIN Jogja adalah benar gudangnya orang-orang yang bergaya liberal, baik secara pemikiran maupun tindakan.

“Apakah jika ada Islam yang berbeda dengan pehamaman ustaz, otomatis disebut sebagai liberal? Sampai-sampai di satu statementnya, si ustaz mengatakan ada akademisi kami yang berpendapat semua agama sama. Semua, tidak hanya Islam, bisa masuk surga. Hampir empat tahun di kampus tersebut, saya tidak menemukan satu pun dosen, baik yang bergelar magister, doktor, hingga profesor, yang punya pendapat demikian.”

Untung saja sang guru besar di salah satu fakultas kampus ini tidak memperparahnya. Ketimbang menghardik label “liberal”, Machasin malah memilih memaparkan saja sejumlah kebohongan Basalamah, juga tentang kesalahpahaman dan ketidakakuratannya.

“Orang ini (Basalamah) tidak pantas mendapatkan gelar ustaz karena kebohongan dan ketergesa-gesaan dalam menyimpulkan.”

Sebagai mahasiswa UIN Jogja, yang tentu berbeda sikap dengan calon master dan alumnusnya itu, saya justru bangga ketika kampus ini dicap sarangnya muslim liberal. Bukan masalah, malah hal yang patut, jika UIN Jogja disebut sebagai ruang bersemainya gagasan-gagasan liberalisme.

Saya percaya, kebanyakan orang yang menolak paham kebebasan adalah mereka yang memang kurang baca. Bisa juga karena ketidakjujurannya dalam bersikap. Bukankah gagasan liberal adalah penyumbang terbesar bagi lahirnya peradaban Islam di masa lalu?

Lihatlah para filsuf muslim seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Rushd, hingga Mulla Sadra. Mereka adalah para pemikir bebas yang punya kontribusi besar di bidang filsafat. Ada juga al-Khawarizmi dan al-Farghani yang berjasa di bidang matematika, astronomi, serta fisika. Pun demikian di bidang kedokteran, kimia, dan biologi yang berkembang pesat melalui Bayt al-Hikmah sebagai pusat peradabannya.

Semua perkembangan dunia Islam di zaman silam itu, jika kita mau mengakuinya, adalah buah dari kebebasan berpikir. Mereka, para filsuf muslim tersebut, berani melawan keterkungkungan, sehingga Islam di era dulu kala itu melahirkan peradaban yang sangat diperhitungkan dunia.

Jika tak percaya, silakan cek karya-karya seperti The House of Wisdom; How the Arabs Transformed Western Civilization (Jonathan Lyons), Medieval Islamic Medicine (Peter E. Pormann dan Emile Savage Smith), The Golden Age of Islam (Maurice Lombard), dan lain sebagainya. Karya-karya ini mempertegas bahwa peradaban Islam benar-benar pernah maju di bidang sains dan ilmu pengetahuan.

Jadi, bukan masalah jika UIN Jogja dituding begitu. Anggap saja itu doa, sebab tak ada harapan paling besar yang bisa kita impikan selain melihat UIN Jogja benar-benar lahirkan para pemikir bebas. UIN Jogja diniscayakan mencetak generasi-generasi yang siap melanjutkan corak dasar dan tujuan dari didirikannya lembaga pendidikan tinggi ini: pembaruan pemikiran Islam.

Dan untuk teman-teman yang kini masih berstatus mahasiswa (sama dengan saya), tak usahlah kita mengikut jejak dan sikap dari calon master dan alumnus itu. Mereka belum beres.

Satu hal yang mesti kita ingat, menolak liberalisme, menghindari para pengusung gagasan-gagasan liberal, adalah sikap yang tak ada bedanya dengan laku kaum bumi datar. Mereka benci sains, tapi menggunakan produk-produknya (teknologi) untuk menebar kebencian pada roh peradaban manusia.