Akhir-akhir ini, ekspor produk perikanan Indonesia cukup mendapatkan perhatian dari berbagai pihak. Hal tersebut diakibatkan terjadinya penurunan pada nilai ekspor perikanan pada kuartal I/2019 dibandingkan dengan periode yang sama 2018. 

Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Nilanto Perbowo menjelaskan penurunan nilai di tengah meningkatnya volume ekspor ini terjadi lantaran menurunnya harga sejumlah komoditas utama dalam ekspor perikanan.

Ketua Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan (AP5I), Budhi Wibowo, menyatakan bahwa salah satu cara untuk meningkatkan nilai ekspor perikanan adalah dengan mengutamakan sektor perikanan budi daya, terutama udang.

Menurut data BPS tahun 2018, komoditas udang menyumbang sebesar US$18,8 juta dalam total nilai ekspor perikanan budi daya, dengan jumlah ekspor 5,2 ribu ton. Salah satu jenis udang yang dapat dioptimalkan usaha budidayanya adalah udang jerbung. Jenis udang ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan permintaan pasar ekspornya cukup menjanjikan. 

Menurut riset, udang jerbung ukuran ekspor dapat mencapai harga Rp 80.000,00 per kilogram. Udang jerbung merupakan komoditas yang habitatnya tersebar di seluruh perairan Indonesia mulai dari Aceh sampai Irian dan umumnya tertangkap dalam kumpulan yang cukup besar, sehingga ketersediaan induk akan memudahkan kepentingan budi daya.

Di samping itu, udang jerbung merupakan jenis udang lokal asli Indonesia. Selama ini, Indonesia bergantung pada udang vaname sebagai komoditas udang ekspor yang benihnya harus diimpor dari Amerika Serikat.

Amri Yudhistira, perekayasa muda Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, mengatakan bahwa jika terus mengandalkan vaname, yang indukannya berasal dari Amerika Serikat, suatu waktu akan dapat bermasalah jika terjadi permasalahan dalam mengimpor. 

Sementara dengan udang jerbung, yang notabene spesies lokal, pemenuhan kebutuhan bisa lebih mandiri. Ditambah lagi, secara teknis, udang jerbung memiliki potensi ekonomi yang lebih menguntungkan karena biaya produksi usaha yang lebih efisien.

Pengembangan budi daya udang jerbung membutuhkan stok induk dan benih yang berkualitas baik. Selain dari seleksi tangkapan dari alam atau laut, induk dan benih tersebut dapat diperoleh melalui program pemuliaan. 

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) melalui BBPBAP Jepara telah berhasil menginisisasi program pemuliaan buatan (seleksi breeding) untuk penyediaan stok benih udang jerbung bermutu bagi masyarakat pembudidaya di Indonesia. Program ini menghasilkan induk unggul udang jerbung dengan status Specific Pathogen Free (SPF) yang memiliki pertumbuhan cepat dan lebih tahan terhadap perubahan lingkungan. 

Program inisiasi tersebut juga telah berhasil mendapatkan penghargaan Satyalancana Wira Karya dari Presiden Republik Indonesia pada bulan Agustus 2019 lalu.

Pengembangan budi daya udang jerbung dapat dilakukan dengan mengadopsi cara pembudidayaan udang windu, mengingat udang jerbung memiliki habitat dan kondisi biologis yang hampir sama dengan dengan udang windu. Jika dibandingkan dengan udang windu, siklus reproduksi udang jerbung lebih cepat, serta tingkat perkawinan yang produktif dan lebih tinggi. 

Program pemuliaan buatan yang telah diinisiasi juga telah berhasil menaikkan kelulushidupan sampai 40 persen. Diharapkan, udang jerbung dapat menjadi komoditas alternatif bagi masyarakat pembudidaya karena secara ekonomi komoditas tersebut lebih menguntungkan.

Untuk mengoptimalkan usaha budi daya udang jerbung ini, dapat diterapkan teknologi microbubble yang diintegrasikan dengan teknologi ecirculating aquaculture system (RAS). 

Teknologi yang dikembangkan Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP) KKP ini sebelumnya telah sukses diterapkan pada usaha budidaya udang vaname untuk mengatasi masalah pengelolaan limbah yang kurang baik, serangan penyakit, dan daya dukung lingkungan yang menurun. teknologi microbubble sendiri pembuatannya dilakukan secara sederhana agar pembudidaya skala dapat menerapkannya secara mandiri. 

Duet teknologi ini juga merupakan teknologi akuakultur yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, budi daya berkelanjutan itu penting untuk diterapkan, karena itu bisa menjamin kesuksesan bisnis budidaya, termasuk budidaya udang.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto menilai bahwa pengembangan budidaya udang jerbung ini sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 – 2024 yang telah ditetapkan oleh pemerintah, dimana salah satu sasarannya adalah menyediakan sistem penyediaan air untuk komoditas bernilai tinggi. 

Untuk selanjutnya, pembangunan berbasis kawasan juga akan terus dikedepankan sehingga akan terbentuk kawasan khusus udang vaname, kawasan khusus udang windu, kawasan khusus udang jerbung, dan kawasan polikultur yang diharapkan tidak mencemari satu sama lain agar menuju perikanan budidaya yang berkelanjutan.

Data BPS yang telah diolah oleh KKP menunjukkan bahwa pada periode 2012-2017, nilai ekspor komoditas udang mengalami kenaikan sebesar 10,40% per tahun dengan periode 2016-2017 naik sebesar 11,31%. Diharapkan kehadiran udang jerbung ini dapat terus mendongkrak nilai ekspor komoditas udang dan pada akhirnya akan dapat mendongkrak nilai ekspor perikanan Indonesia. 

Meski tidak akan menggantikan udang vaname yang lebih dulu populer dalam bisnis udang, udang jerbung diharapkan dapat menguatkan produksi udang nasional. Dengan kata lain, jika udang vaname turun, maka udang jerbung akan sebagai pemasok utama, terutama sebagai komoditas ekspor.