Kasus-kasus penistaan yang berkembang akhir-akhir ini, memang lebih mirip dagelan dari pada kasus yang benar-benar penistaan. Masalahnya, kasus yang dilaporkan adalah kasus remeh temeh yang cenderung dibesar-besarkan. Bukan pembakaran kitab suci, atau uraian utuh tentang sesatnya sebuah agama resmi.

Saya tidak bermaksud untuk melawan fatwa MUI dan putusan pengadilan yang telah menyatakan Ahok bersalah. Toh, beliau sudah cukup sabar menerima hukumannya dengan tidak mengajukan banding. Namun, kasus pelaporan Kaesang yang dianggap melakukan ujaran kebencian ini bagi saya terasa ganjil.

Pendengaran sebagian masyarakat Indonesia, pasca Pilgub DKI memang cenderung lebih sensitif. Entah karena fanatisme yang berlebihan, atau memang karena benar-benar cinta terhadap agamanya, saya kira hanya Tuhan dan pihak yang bersangkutanlah yang tahu.

Tapi yang jelas, ucapakan kasar dan ujaran kebencian juga banyak muncul dari kalangan fundamentalisme agama. Salah satunya adalah pelabelan "kafir" pada orang atau kelompok yang berbeda agama atau bahkan hanya berbeda golongan dan pilihan politik.

Mas Kaesang dalam vlognya yang sempat viral itu, sebenarnya ingin mengajak kita untuk berhenti mengkafir-kafirkan orang yang berbeda agama atau golongan dengan kita. Apa lagi kepada orang yang hanya berbeda pilihan politik dengan kita. Jangan sampai ada seruan untuk mengharamkan menshalati orang yang memilih pemimpin yang berbeda dengan pilihan mayoritas.

Sebagai anak muda, keresahan terhadap keberagaman yang semakin terkoyak-koyak adalah satu sikap yang positif. Apalagi, jika mantra "kafir" itu kemudian meracuni anak-anak sampai mereka dengan gembira mengatakan "bunuh ahok, bunuh ahok". Saya sendiri yang melihat itu dalam vlognya Mas Kaesang merasa miris.

Kita boleh saja berkeyakinan bahwa orang yang tidak seiman dengan kita tidak akan mendapatkan rahmat dan ridho dari Tuhan. Namun, apa beratnya jika kepercayaan itu cukup disimpan dalam hati?

Jika itu diteriakkan dengan lantang dan dibumbui dengan emosi massa, maka kalimat "kafir" yang awalnya hanya didefiniskan sebagai orang yang berbeda agama akan menjadi berkembang. Arahnya ke sesuatu yang negatif, seperti "masuk neraka", "boleh dibunuh", "halal darahnya", "tidak boleh dikuburkan", dan lain sebagainya.

Kita perlu benar-benar menyadari bahwa Indonesia adalah negara yang plural. Hampir semua agama, terutama agama-agama besar seperti Islam, Kristen, Hindu, dan Budha terwakili di Indonesia. Keberagaman ini seperti dua mata pisau, punya potensi untuk saling melengkapi, juga punya potensi untuk saling terpecah belah. Itu semua tergantung bagaimana kita memelihara keberagaman yang ada.

Jika ada satu kelompok yang merasa dirinya paling benar, lalu menuding-nuding kelompok lain dengan sebutan "kafir", sama saja tidak mengakui adanya keberagaman itu. Dalam kata lain, menistakan keberagaman yang selama ini menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

Sekalipun kita memegang kebenaran yang kita anggap adalah sesuatu yang paling benar di antara yang lain, tapi ketahuilah bahwa kebenaran itu sejatinya relatif. Orang lain yang berseberangan dengan kita, mungkin saja memegang sesuatu yang juga diyakini kebenarnya sebagai yang paling benar di antara yang lain. Jika kemudian satu kelompok dengan kelompok lain yang sama-sama merasa paling benar itu saling menuding, maka perpecahan menjadi tidak terhindarkan.

Nurcholis Madjid (2008), dalam karya besarnya "Islam dan Doktrin Peradaban" berpesan bahwa keberagaman itu dapat dipelihara dengan pemahaman kemajemukan keagamaan yang baik. Pemahaman kemajemukan yang dimaksud jangan disalahartikan dengan membenarkan seluruh praktik keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Bagimanapun, praktik keagamaan yang berkembang memang sebagian ada yang tidak benar jika dinilai dari pertimbangan akal maupun nash.

Ajaran kemajemukan yang dimaksud oleh Cak Nur, adalah pengertian yang didasarkan bahwa semua agama diberi kebebasan untuk hidup, dengan resiko yang ditanggung oleh para pengikut agama itu masing-masing, baik secara pribadi maupun kelompok.

Sederhanya, kita boleh saja berpikir bahwa seseorang atau suatu kelompok tidak akan selamat karena memegang keyakinan yang menurut kita salah,  tapi apakah dengan keyakinan yang salah itu mereka mencelakakan kita? Atau kita akan ikut menanggung kesalahan itu?

Jika tidak, maka apa alasan kita mengangkat pedang dan menyebarkan kebencian terhadap kelompok tersebut? Untuk lebih memahami sikap keberagaman yang seperti ini, kita dapat merenungi kembali sejarah Islam semasa  Khulafaur Rasyidin. Selama proses penaklukan wilayah di sepanjang Jazirah Arab, apa yang dilakukan oleh mereka hanyalah melakukan reformasi politik. Dalam masalah kepercayaan, tidak ada pemaksaan untuk memeluk agama Islam.

Begitu pula dengan apa yang dipraktikkan oleh Rasullah di Madinah. Sebagai sebuah wilayah yang modern, pluralitas adalah sesuatu yang tidak terhindarkan di Madinah. Pluralitas itu tidak dinegasikan dengan peraturan yang mengharuskan penyeragaman keyakinan, tapi dipelihara dengan berbagai cara dan usaha.

Lalu, sebagai sebuah bangsa yang telah dilahirkan beragam, siapkah kita memeliharanya dengan pemahaman kemajemukan yang baik? Atau kita justru akan saling terus menyebarkan kebencian, sampai darah benar-benar akan tertumpah demi membela keyakinan kita? Banyak negara yang akhirnya tumbang bukan akibat serangan dari luar, tapi akibat masyarakatnya yang terpecah belah.