Jauh hari sebelum penerapan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat), saya terlebih dahulu mengalami PPKM, alias Pelan-Pelan Kena Maling, hehe.

Hal itu terjadi kira-kira sekitar tiga bulan yang lalu, ketika saya kehilangan uang 100ribu di dompet dan daging sapi 1 kg di dalam freezer.

Koq bisa begitu ya, padahal di rumah hanya ada keluarga inti dan dua asisten rumah tangga (ART), bibi pengasuh yang tinggal bersama, sudah bekerja selama 8,5 tahun, dan mbak cuci-setrika PP (pergi-pulang) selama 1,5 tahun. 

Dugaan saya terberat kepada si mbak dengan melihat kondisi kehidupannya. Mbak cuci-setrika, seorang janda dengan satu anak, penerima dana bantuan sosial tetap dari pemerintah.

Si mbak ini biasanya bekerja di 2-3 rumah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan seringkali menerima sokongan dari orang-orang serta pemerintah.

Namun, kondisi beberapa bulan lalu, majikan satu lagi pindah rumah, sehingga mbak cuci-setrika hanya bekerja di rumah saya.

Seharusnya saya mengedepankan asas praduga tak bersalah dalam menilai apakah memang si mbak yang mencuri atau tidak, terlebih lagi tidak ada bukti yang mampu memperlihatkan kejadian pencurian.

Namun, apa mau dikata, selama ini saya memiliki ART, baik yang menginap ataupun PP, rumah kami aman-aman saja. Baru kali ini, saya mengalami kehilangan uang dan barang di rumah.

Di sisi lain, spekulasi pikiran sendiri seperti merefleksikan diri ini tak ubahnya "maling". Saya bersiasat pura-pura sudah lama memasang kamera pengintai CCTV di dalam rumah dan memberitahukan kepada si mbak. 

Selang satu hari kemudian, dia menyatakan ingin berhenti dan akan bekerja di tempat lain. Ah sudahlah, saya tidak mau dipusingi oleh si mbak karena sudah mendapatkan penggantinya dan rumah kami "aman" kembali.

Itu baru satu cerita dan prasangka buruk, problematika nyata pencurian yang terjadi juga dirasakan di lingkungan rumah ibu saya.

Ibu menceritakan di masa corona ini pernah di RTnya yang beda 3 RT dari saya, dalam satu minggu ada dua motor warga yang dicuri maling di siang hari. 

Tak lupa ibu berpesan, "Nak, hati-hati suamimu suka taruh motor di depan rumah. Masukin ajah, taruh di teras. Hari gini, makin banyak maling yang nekat".

Lain lagi cerita dari teman media sosial saya, seorang pakar komunikasi memperlihatkan hasil CCTV di garasi rumahnya, ketika terjadi pencurian sepeda di awal pandemi. 

Dua maling lebih memilih sepeda yang ringan dan bekerja sama mengangkat melewati pagar rumahnya daripada motor besar yang bersanding bersama di garasi.

Sepertinya kondisi sulit sekarang ini, bukan hanya ancaman kesehatan yang menghantui masyarakat, tetapi juga demoralisasi. 

Kamus Besar Bahasa Indonesia online menerangkan demoralisasi sebagai kemerosotan akhlak, kerusakan moral.

Dengan kata lain, pandemi mengancam demoralisasi yang secara pelan-pelan dapat meningkatkan kejahatan/kriminalitas di dalam suatu masyarakat. 

Teringat pesan Bang Napi, "Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelaku. Tetapi juga, karena ada kesempatan. Maka, waspadalah, waspadalah".


Hadapi Pandemi, Jangan Lupa Diri dan Asah Simpati

Di penghujung tahun 2020, seantero nusantara dikejutkan dengan pemberitaan salah satu menteri yang tertangkap operasi tangkap tangan (OTT) KPK. 

Penangkapan tersebut terjadi atas adanya dugaan korupsi dana bantuan sosial (bansos) sembako bagi masyarakat terdampak COVID-19. 

Selama hampir dua minggu, TV, radio, media online, media sosial terus memberitakan kasus korupsi dana bansos sembako 17 milyar itu.

Kemarahan demi kemarahan ditumpahkan para warganet di kolom-kolom komentar media online dan media sosial. 

Wong kondisi lagi susah, bisa-bisanya ada pejabat negara yang memanfaatkan kekuasaannya untuk korupsi. 

Selama hampir dua minggu juga, publik disuguhkan sorotan hedonisme dan kekayaan keluarga menteri yang tertangkap OTT korupsi bansos tersebut.

Bullyan-bullyan masyarakat tidak hanya sekedar kata-kata di media, tetapi juga terjadi dalam kehidupan nyata. 

Untold story. Kurun waktu ramainya pemberitaan OTT korupsi itu, para pegawai di kementerian terkait harus menghadapi sumpah serapah publik secara langsung.

"Mbak, aku sedih banget neh. Lagi pandemi gini bisa-bisanya ada bancakan di kantorku," curhat temanku di-WA. Adik kelas di bangku kuliah ini bekerja di instansi yang mengurusi bansos tersebut. 

Lanjut dia di dalam chattingan WA, "Kerja keras kita selama ini, sekejap langsung tercoreng. Padahal, kita sampe lembur-lembur segala ngurusi bansos sembako itu, mbak".

Ah ngenes rasanya, membaca kata demi kata percakapan di-WA itu. Belum lagi, teman saya menceritakan juga bahwa bis jemputan instansinya pernah dilempari batu di jalan raya oleh orang tak dikenal.

Para pegawai di sana yang menggunakan transportasi umum, terpaksa menggunakan jaket ketika memakai pakaian dinas untuk menutupi emblem-emblem instansi.

Banyak kejadian saat pegawai berjalan atau di transportasi umum menggunakan seragam dengan atribut kementeriannya langsung dicaci-maki oleh masyarakat.

Situasi yang terjadi seolah-olah memukul rata bahwa kelakuan semua pegawai di kementerian itu sama seperti pemimpinnya. 

Pepatah mengatakan, "Karena nila setitik, rusak susu sebelanga", karena ulah pejabat yang korup, para pegawai kena imbasnya dan dianggap sama nistanya oleh publik.

"Yang sabar yah, dek. Semoga Alloh senantiasa melindungimu dan sehat selalu", ujarku menguatkan sambil menutup pembicaraan di-WA. 

Akhir kata, virus corona ini tidak hanya dapat merusak organ-organ tubuh dan mematikan, tetapi juga bisa membutakan mata hati.

Mata hati menjadi tertutup dengan godaan uang. Khususnya, bagi para "penikmat" dana bansos untuk penanggulangan COVID-19 ini.