Saya pernah membuat sebuah artikel mengenai apa yang bisa dilakukan selama masa Covid-19 yang di Indonesia sudah mulai terasa dampaknya sekitar bulan Maret 2020. Sejak saat itu kita rasakan sudah mulai diberlakukannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di hampir seluruh wilayah di Indonesia dan juga perusahaan-perusahaan sudah banyak yang memberlakukan WFH (Work From Home).

Kondisi tersebut membuat banyak profesi memiliki waktu luang lebih. Ada yang bersyukur atas kondisi itu, tapi ada juga yang tidak menikmatinya. 

Bagi kalangan pekerja yang melalukan WFH, kondisi tersebut sangat disyukuri, karena mereka bisa memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga dan pendapatan tetap ada. Sedangkan bagi kalangan yang mengandalkan pendapatan harian atau event-event seperti ojol, dan pekerja seni, mungkin sangat tidak nyaman, karena berpengaruh terhadap pendapatan yang mereka terima.

Apa pun pekerjaan kita, yang pasti kita memiliki waktu lebih banyak dari yang biasanya di masa pandemi ini. Banyak hal yang bisa dilakukan dengan waktu yang berlimpah. 

Sebaiknya jangan biarkan waktu berlalu begitu saja. Kita bisa memanfaatkan waktu yang ada dengan hal-hal positif dan mendapatkan sesuatu yang bermanfaat dari waktu yang berlimpah tersebut. Banyak kelas-kelas daring dibuka kalau kita mau mencermatinya, karena informasinya berseliweran di media-media sosial, dari yang berbayar sampai yang gratisan pun ada di sana.

Saya mengikuti kelas menulis secara daring seminggu dua kali, setiap Senin dan Kamis siang. Di sana saya belajar bagaimana cara menempatkan tanda baca, penggunaan diksi dan gaya bahasa, membuat kalimat efektif, menempatkan kata hubung dan lain sebagainya. Rasanya seperti kembali saat SD, belajar tentang serba-serbi dalam Bahasa Indonesia.

Kelas yang dilaksanakan dua kali seminggu ini ternyata cukup menarik bagi banyak pesertanya, termasuk saya. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk mencoba membuat tulisan setelah beberapa kali mengikuti kelas tersebut. Mentor yang mengajar di sana memang membawakan kelas menulisnya dengan menarik dan tidak membosankan, karena sering kali diselingi dengan guyonan khas orang Jawa Timur.

Setelah beberapa kali pertemuan, sang mentor meminta kepada seluruh peserta agar mencoba menulis dan dimasukkan tulisan tersebut ke WAG "Jihad Tata Bahasa" --WAG yang khusus dibuat bagi peserta kelas daringnya--agar bisa dikoreksi bersama-sama peserta yang lainnya, demikian dia menyemangati saya dan peserta lainnya agar mau menulis.

Tulisan pertama saya bertemakan pegadaian, tema yang memang saya kuasai dan menjadi kegiatan saya sehari-hari sejak 10 tahun terakhir ini. 

Tidak mudah saya membuat tulisan pertama saya tersebut, karena memang saya tidak biasa menulis. Berulang kali saya mengganti diksi-diksi yang saya rasa kurang pas, memperhatikan tanda-tanda bacanya, sampai akhirnya selesai juga tulisan tersebut.

Walaupun dengan ragu-ragu, akhirnya saya mengirimkan juga tulisan tersebut ke WAG. Setelah diedit oleh Mas Anam, demikian kami memanggil mentor kelas daring kami itu, saya mencoba memberanikan diri untuk mengirimkan tulisan tersebut ke salah satu media online atas arahan sang mentor, yang juga merupakan dosen di salah satu perguruan tinggi swasta yang cukup bergengsi di Jakarta.

Ternyata tulisan saya dimuat di media tersebut. Senang rasanya tulisan saya yang baru belajar menulis ini ternyata bisa diterima dan dipublikasikan. Dan sejak itu saya mulai rajin menulis, baik tema tentang pegadaian, maupun tema-tema lain yang terlintas di pikiran saya. Tulisan ke-2 selesai, lanjut lagi dengan tulisan ke-3 dan seterusnya.

Dengan bimbingan dan arahan dari mentor saya tersebut, banyak sudah tulisan saya yang di muat di media-media online, seperti Qureta, Mading.id, SAA IAIN Kediri, dan lain-lain. Dari hati yang paling dalam, saya mengucapkan terima kasih atas bimbingannya di bidang tulis-menulis ini.

Setelah saya membuat tulisan lebih dari 30 artikel yang sudah dimuat di beberapa media dalam empat bulan belakangan ini, saya membaca semacam iklan di FB. Di sana saya membaca unggahan dari sebuah organisasi yang bergerak di bidang perdamaian antarumat beragama dengan menyelenggarakan dialog-dialog atau kegiatan lain yang bertujuan ke arah perdamaian.

Di unggahan tersebut, mereka membuka semacam kesempatan bagi siapa pun untuk menjadi kontributor untuk membuat artikel dengan tema perdamaian antarumat beragama dan ada apresiasi bagi yang artikelnya dimuat di situs mereka.

Kesempatan ini tidak saya sia-siakan, karena selama ini saya belum pernah menulis artikel yang jika tulisannya dimuat, maka media tersebut memberikan imbalan. Selama ini saya hanya menulis dan dikirimkan ke media yang tidak memberikan imbalan apa-apa. 

Dan memang saya selama ini tidak mengharapkan hal tersebut. Saya mengirimkan banyak artikel, sebenarnya di samping berbagi cerita, saya sebenarnya juga melatih untuk bisa menulis dengan baik. Karena makin sering menulis, tentunya akan lebih baik hasil tulisannya.

Saya mengirimkan dua artikel, karena kebetulan tema tulisan terakhir saya, temanya sesuai dengan apa yang diminta oleh organisasi tersebut. 

Setelah saya menunggu sekitar tiga hari, ternyata organisasi tersebut mengirimkan pemberitahuan via WA bahwa salah satu artikel yang saya kirim akan dimuat. Tidak bisa digambarkan bagaimana rasa senang yang saya rasakan, karena ini adalah tulisan saya pertama yang diberi apresiasi dalam bentuk uang oleh pihak lain.

Saya tidak menyoal jumlah, karena memang jumlahnya tidak seberapa, yang ingin saya ceritakan adalah perasaan senang yang sangat sulit saya gambarkan. Dalam bentuk verbal saja sulit menggambarkannya, apalagi dalam bentuk tulisan. Yang pasti saya sangat senang dan menganggap itu adalah sebuah pencapaian yang harus saya ingat. Mudah-mudahan ini menjadi awal yang baik dalam hal tulis-menulis ini.