38312_33367.jpg
Uang Logam Bukan Alat Gosok!
Ekonomi · 3 menit baca

Uang Logam bukan Alat Gosok, tapi Alat Transaksi
Tanpanya, Seratus Ribu tidak ada.

“Jika ia memiliki rasa, maka sudah tentu ia akan menangis dengan sejadi-jadinya. Jika ia memiliki hati, maka sudah tentu ia akan merasakan luka sepedih-pedihnya. Dan jika ia memiliki logika, sudah barang tentu ia akan marah sejadi-jadinya ketika ia di buang begitu saja ke permukaan tanah yang sering diinjak. Nasib sang uang logam, yang hanya sebatas untuk membayar satu kantong plastik dan bayar tukang parkir”

Nasib naas menghampiri mata uang logam. Memiliki nilai yang kecil membuat ia menjadi mata uang yang tak di sayangi masyarakat. Ketika zaman semakin modern, inflasi semakin kesurupan membabi buta, masyarakat menjadi alergi untuk memegang mata uang logam. Semakin maju peradaban, kehidupan mata uang logam justru semakin tenggelam.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat sang mata uang logam di tolak mentah-mentah di warung-warung dekat rumah. Apa yang salah dengan uang logam, bukankah ia juga merupakan salah satu mata uang yang bisa dijadikan sebagai alat pembayaran yang sah? Bukankah sebelum uang seratus ribu yang bisa kita pakai makan hingga perut kembung itu tidak akan pernah genap menjadi seratus ribu tanpa seratus rupiah dari uang logam tersebut?

Filosofinya adalah bahwa kita terlalu bernafsu melihat seseorang ketika orang tersebut sukses tanpa melihat pengorbanan-pengorbanan yang telah mereka lakukan sebelumnya, yang justru lebih berharga untuk dikenang. Kita hanya ingin melihat kebahagiaan yang diraih oleh seseorang, tanpa ingin merasakan kepahitan yang telah dirasakan.

Semakin modern kehidupan masa ini, kehidupan sang mata uang logam yang terdiri dari seratus rupiah, dua ratus rupiah, lima ratus rupiah, dan seribu rupiah semakin terpinggirkan. Anak-anak kecil yang masih belum paham apa itu inflasi dan suku bunga pun ogah untuk menerima uang logam tersebut sebagai uang jajan mereka. Kejadian ini benar-benar sungguh miris.

Uang logam sudah bukan alat pembayaran yang sah lagi. Ia sudah bukan lagi uang yang bisa dijadikan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia lebih berjasa untuk dipakai sebagai alat untuk menggaruk badan dan punggung yang sedang masuk angin. Ia dianggap lebih berjasa untuk dipakai pada pekerjaan tersebut.

Tak hanya itu, uang logam juga dirasakan lebih bermanfaat untuk dijadikan sebagai alat untuk menggosok voucher internet atau hologram berhadiah lainnya. Ia tak lebih dari benda mati yang tak memiliki nilai sama sekali. Jika ia mampu untuk menunjukkan rasa, maka sudah tentu akan menangis dengan nasib tragis yang sedang dialaminya saat ini. 

Tak hanya sampai disitu. Saya pernah memiliki pengalaman yang kurang mengenakkan dengan mata uang logam. Ketika itu saya memiliki uang logam senilai seribu rupiah. Saat itu ingin saya gunakan sebagai biaya parkir di salah satu tempat perbelanjaan. Namun apa yang terjadi, sang tukang parkir mengambilnya tanpa ada senyum lebih-lebih ucapan Terimakasih. Uang logam tersebut sama sekali tak membuat orang lain bahagia.

Di sanalah saya benar-benar merasa sedih. Sakitnya benar-benar terasa di sini dan di sana. Uang logam yang sudah diciptakan negara dengan susah payah, agar kegiatan ekonomi dapat berjalan dengan lancar sama sekali tak dihargai oleh penduduknya sendiri. Lantas, jika uang logam tersebut memang sudah tak dikehendaki lagi, mengapa pemerintah tetap memproduksi nya? Mengapa tidak dicabut saja dari peredaran?

Sungguh kasihan nasib sang uang logam. Nilainya yang begitu kecil membuatnya sering terabaikan. Manusia terlalu rakus untuk senantiasa melihat sesuatu dari segi nilai sesaat. Sahabat, uang logam itu tetaplah uang. Jika kita sendiri sebagai masyarakat Indonesia tak mau untuk menghargainya, bagaimana dengan orang asing yang tinggal di Indonesia, apakah kita mau kelak mata uang dollar yang justru merajai bangsa ini?

Setidaknya, meskipun mata uang logam itu tak mampu untuk membuat bibir ini tersenyum lebar, kita mampu untuk menyimpannya tanpa harus dibuang-buang begitu saja. Dan untuk para toko dan penjual, uang logam itu bukan sampah, namun alat pembayaran. Jadi sudah saatnya untuk diterima kembali sebagai alat pembayaran yang sah.

Meskipun nilainya tak seberapa, itu bukanlah masalah. Setidaknya negara kita saat ini sudah terbebas dari belenggu negara penjajah yang menginginkan mata uangnya sebagai alat pembayarannya di negeri ini. Kita harus bersyukur. Karena selain sebagai alat pembayaran, uang logam itu juga dapat dijadikan sebagai tempat untuk melihat para pahlawan perang yang berjasa besar untuk bangsa ini yang sudah hampir kita lupakan wajahnya.

Mari cintai kembali uang logam. Cinta Indonesia, cintai uang logam. Logam bukan mainan, logam adalah uang.