Aktivisme gaya baru bermunculan dengan maraknya penggunaan fitur hashtag, khususnya di twitter. Tulisan ini berupaya menginterpretasi aktivisme hashtag dan perannya dalam praktik pembentukan gerakan sosial berjejaring.

Aktivisme digital atau hashtag activism, adalah sebuah gerakan protes yang didorong melalui percakapan di media sosial. Perbedaan gerakan ini dengan gerakan sosial biasa terletak pada kemampuannya menyampaikan pesan “bising”, sehingga membentuk kesadaran kolektif. Ketika suara-suara publik terpinggirkan oleh ruang debat elite, media sosial menyediakan “counterpublic” secara digital sebagai ruang debat alternatif.

Jackson, Bailey, dan Welles (2016) mengatakan, ketika momen perpecahan terjadi, kontra publik dapat lebih siap melakukan intervensi utama. Seperti dalam kasus gerakan protes  Black Lives Matter yang dengan sekejap menjadi isu internasional setelah gerakan ini memulai diskursif di media sosial melalui kata, frasa, dan kalimat dalam hashtag #BackLivesMatter. Maka, aktivisme hashtag tentu tak bisa diabaikan begitu saja.

Teknologi memainkan peran penting dalam gerakan sosial. Adanya media sosial seperti twitter, perannya kemudian tidak hanya menjadi penting, melainkan secara fundamental mengubah cara orang berkomunikasi. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya pergeseran organisasi dan sosialisasi ide-ide aktivisme dan mobilisasi massa untuk bertindak turun ke jalan.

Aktivisme digital menurut Bennett dan Segerberg (2012), dapat dipahami melalui tiga hal. Ketergantungannya pada teknologi jaringan, terciptanya komunitas yang saling terhubung secara fleksibel, terus berubah, dan fokusnya pada ekspresi keterikatan individual. Media sosial telah mengubah cara kita mengakses dan memperdebatkan informasi dan pengetahuan, bagaimana kita terlibat dengan masalah sosial dan politik, dan bagaimana gerakan sosial itu sendiri diciptakan dan dipertahankan.

Platform media sosial secara fundamental telah mengubah bentuk aktivisme. Twitter misalnya, telah memberikan suara kepada mereka yang terpinggirkan oleh percakapan arus utama. Artinya, kemampuan untuk berbagi berita dan opini tidak lagi terbatas pada arus media utama. Sebaiknya, siapapun yang memiliki akun media sosial dan jaringan internet dapat berbagi peristiwa yang sedang terjadi secara real time.

Dengan cara ini, aktivisme gerakan sosial berkemampuan untuk berbagi ide dan perspektif mereka ketika protes sedang berlangsung dan dalam waktu yang bersamaan menginformasikan kepada komunitas gerakan lainnya mengenai peristiwa yang sedang berlangsung. 

Seperti aktivisme hashtag baru-baru ini terkait penolakan disahkannya UU Cipta Lapangan Kerja (CILAKA). Gerakan sosial membanjiri twitter dengan postingan, kata, kalimat, hingga meme yang diselipkan hashtag seperti #tolakomnibuslaw, #tolakruuciptakerja, dan #mositidakpercaya.

Teknologi jaringan dan platform media sosial memberikan kemampuan menantang dan memobilisasi gerakan terhadap kebijakan pemerintah yang kontroversial. Aksi massa ini didorong oleh ketidakpuasan intervensi maya, yang dimulai dari percakapan-percakapan dan perdebatan gagasan di media sosial. 

Pada tingkat koalisi masyarakat, fungsi media sosial digunakan untuk memperebutkan hubungan kekuasaan, menentang kebijakan yang cacat secara demokratis. Media sosial memfasilitasi jangkauan audiens yang lebih luas melampaui batasan fisik dan sosial.

Selain itu Bennet dan Segerberg (2012) menambahkan, prevalensi teknologi dalam aktivisme telah berubah secara fundamental. Bagaimana para aktivis dan influencer bersama memahami arti “sosial” dalam gerakan sosial. Persepsi telah bergeser dari memandang gerakan sosial sebagai kumpulan aktor yang terorganisir, menjadi jaringan yang jauh lebih “berantakan” dan dinamis. 

Di sisi lain, jejaring sosial adalah sebuah ruang konfigurasi dinamis aktif untuk berbagai bentuk aktivisme sosial. Karena ia mengandung konten informasi yang terus diperbarui, dibuat oleh komunitas jaringan dalam bentuk komentar, balasan, suka, postingan, hingga meme.

Proses berjejaring ini menjadi mekanisme praktis untuk konsolidasi sosial di tengah krisis legitimasi dan kepercayaan kepada pemerintah. Ada pergeseran dalam praktik gerakan aktivisme sosial dan politik ke dalam ruang maya dan jaringan sosial digital. 

Percakapan dan opini individu berkembang dan menemukan daya tarik serta saling berhubungan melalui proses jaringan dan perantara hashtag. Keterkaitan semacam ini dapat mendukung dan meningkatkan efektivitas gerakan. Selain itu, emosi keterikatan emosi dalam kesadaran kolektif adalah pusat dari segala proses pembentukan koalisi masyarakat.

Menariknya, proses pembentukan koalisi masyarakat yang bersatu dengan memeriksa penyebaran hashtag menyiratkan upaya sinergis yang dapat meningkatkan pengaruh politik dan sosial. Itulah harapan dari arah atau hasil yang diinginkan dari sebuah gerakan sosial. Meski bagi Gramsci (McLaren, Fischman, Serra, & Antelo, 1998), ada upaya lain untuk menghindari posisi individu sebagai subjek sebagai alat bagi kelompok yang lebih berkuasa. 

Perjuangan gerakan sosial hanya bisa terwujud jika tuntutan dan kehendak koalisi masyarakat telah ditransformasikan menjadi “kehendak kolektif” dan bukan sekedar gerakan sosial semata. Lebih jauh, Gramsci menyarankan jalan “hegemoni” bagi sebuah gerakan sosial untuk membangun matarantai kesetaraan agar gerakan sosial itu bisa menjadi kehendak kolektif.

Sebagai penutup, memahami gerakan sosial kontemporer di abad 21 menjadi sangat relevan beberapa tahun terakhir sehubungan dengan proliferasi gerakan protes dalam masyarakat global. Tentu tulisan pendek ini diharapkan menjadi pemantik untuk mempelajari dan mempertimbangkan kebutuhan teoritis dan metodologis aktivisme sosial dari sudut pandang teori masyarakat informasi dalam ruang lingkup media digital.

Referensi:

Bennett, W. L., & Segerberg, A. (2012). The logic of connective action: Digital media and the personalization of contentious politics. Information, communication & society, 15(5), 739-768.

Jackson, S. J., & Foucault Welles, B. (2016). #Fergusoniseverywhere: Initiators in emerging counterpublic networks. Information, Communication & Society, 19(3), 397-418.

 McLaren, P., Fischman, G., Serra, S., & Antelo, E. (1998). The specters of Gramsci: Revolutionary praxis and the committed intellectual. Journal of thought, 33(3), 9-41.