Pertengahan bulan Februari lalu, saat banjir melanda banyak daerah di tanah air. Sebuah pesan masuk di Whatsapp saya dari seorang kawan .  “Monggo dibeli. Murah meriah”  tulis kawan  saya . Ketika saya buka pesan yang berupa tautan Facebook tersebut isinya ternyata  meminta untuk membeli  satu box buku cuci gudang dari sebuah penerbit. Uang hasil pembelian  buku akan digunakan untuk membantu korban banjir  di daerah kawan saya tersebut. Tanpa berpikir panjang saya mengiyakan.

Komunikasi langsung terakhir saya dengan kawan yang menggalang dana untuk korban banjir tersebut terjadi di tahun 2018. Saat itu kami sama-sama menjadi peserta kegiatan lomba yang diselenggarakan oleh Kemendikbud. Setelahnya kami hanya saling sapa di grup WA dan sesekali saling memberi komentar di Facebook. Tak saling bertemu secara langsung ternyata tak mengurangi  empati dalam diri saya untuk ikut terlibat dalam kegiatan kemanusiaan yang dilakukannya. Solidaritas, adalah kata yang tepat untuk mewakili apa yang saya lakukan. Solidaritas yang berangkat dari dunia maya.

Solidaritas lain  di media sosial   saya temukan dalam bentuk  twibbon. Diawali dari seorang anggota grup WA yang membagikan twibbon bangga menjadi alumni universitas negeri di pinggir Sungai Bengawan Solo. Disusul kemudian twibbon bangga menjadi guru bahasa Indonesia.  Jika diingat di masa awal pemerintah memulai program imunisasi saat itu juga marak twibbon siap divaksinasi.  Serbuan twibbon di media sosial yang  masif menunjukkan spektrum solidaritas tersebut.  Hanya saja bentuk solidaritas itu bersifat ‘musiman’, ikut-ikutan dan miskin esensi.

***

Twibbon adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan postingan dengan bingkai menarik. Twibbon sendiri merupakan sebuah media promosi, dukungan, pamflet atau banner berupa foto yang dikombinasikan dengan bentuk frame atau border yang diedit dan didesain sedemikian rupa hingga terlihat bagus dan menarik. Peluncuran twibbon biasa dilakukan untuk menyemarakkan sebuah kegiatan, lomba, dies natalis perguruan tinggi dan yang terbaru sengaja disebarluaskan untuk menolak kebijakan pemerintah.

Indonesia   memiliki 170  juta pengguna aktif medsos . Hal tersebut dimuat dalam laporan terbaru yang dirilis oleh layanan manajemen konten HootSuite, dan agensi pemasaran media sosial We Are Social dalam laporan bertajuk "Digital 2021". Rata-rata dari mereka menghabiskan waktu 3 jam 14 menit di platform jejaring sosial. Jumlah yang sangat besar untuk  sasaran promosi, gerakan sosial juga politik. Maka tak heran jika hari hari ke depan akan dijumpai lebih banyak lagi twibbon aneka rupa dan tujuan.

Ketika saya memasang status WA “Serbuan twibbon di media sosial”  seorang kawan guru dari sekolah lain mengomentari status saya. “Baru buat Mbak ? lagi booming”  Di dalam pertanyaan dan pernyataan  itu terselip pemahaman semua sekolah sudah buat dan sekolah saya paling terlambat membuatnya. Jika sekolah yang satu  buat  agar tidak disebut ketinggalan tren maka “harus”  ikut membuat pula.  Menegaskan fenomena twibbon adalah hal sangat biasa di media sosial saat ini. Komentar itu juga bisa ditafsirkan bahwa  eksistensi sebuah kelompok bisa ditampakkan melalui twibbon.

Jika Anda ketikkan ‘twibbon vaksinasi’  maka  akan  segera Anda temukan banyak versi twibbon dengan tema vaksinasi. Ruang foto pribadi dibingkai dengan gambar menarik bisa juga logo organisasi dan  instansi pembuat twibbon. Kata-kata dan kalimat pendukung menjadi pemanis twibbon dalam berbagai versi. “Siap divaksin”, “Saya siap divaksin”, “Aku siap divaksin” dsb. Di dalam twibbon vaksinasi itu  pengikut media sosial akan bisa membaca solidaritas dan  eksistensi kelompok. Kelompok itu adalah  Ikatan Dokter Indonesia, perawat Indonesia, Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Universitas A, dst.  

“Bangga Menjadi Bagian Universitas A” demikian isi twibbon alumni yang saya terima. Twibbon alumni ditujukan menggugah kecintaan dan kebanggaan alumni terhadap almamater.  Di era media sosial sangat mudah menjumpai alumni , wilayah dan jarak tak lagi jadi masalah. Alumni yang menyebar di berbagai wilayah dengan berbagai profesi dan jabatan adalah aset berharga bagi almamater. Maka penggalangan alumni di momentum momentum tertentu adalah bagian dari show of force keunggulan almamater. Bagi alumni ”panggilan” menunjukkan diri bagian dari almamater adalah kebanggaan juga solidaritas sosial mekanik sesuai teori solidaritas Durkheim pada persamaan almamater

Pada twibbon “Saya bangga menjadi guru bahasa Indonesia” solidaritas yang muncul adalah solidaritas profesi. Kebanggaan pada profesi guru bahasa Indonesia dibarengi dengan ajakan untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Akan tetapi kekurangcermatan penggunaan bahasa pembuat twibbon guru bahasa Indonesia mendapat respon prihatin dari pemerhati bahasa. Cukup terlihat sikap ikut-ikutan tren dalam pembuatan twibbon ini. Juga bisa dilihat bagaimana pemakai twibbon abai pada esensi tujuan pemasangan twibbon. Bagaimana bisa mengajak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar jika sang pengajak tidak peduli pada pemakaian bahasa Indonesia di twibbon? Twibbon  yang dirancang sebagai sarana pengikat solidaritas profesi  maka  pembuat dan pemakai twibbon pun seharusnya cermat memilih bahasa untuk mendukung tujuan.

Pilihan untuk ikut terlibat, memasang atau tidak twibbon di media sosial adalah bagian dari rasa solidaritas   yang menurut sosiolog Emile Durkheim adalah perasaan saling percaya antara para anggota dalam suatu kelompok atau komunitas. Tetapi tak jarang bentuk solidaritas ini berada dalam pemaknaan yang sangat dangkal. Asal ikut, asal pasang, atau lebih parah lagi takut tidak populer dan dianggap tidak sejiwa jika tidak ikut memasang. Tindakan ini bisa disejajarkan dengan sikap seorang anggota grup WA yang ketika ada berita kematian  atau berita keberhasilan kemudian secara bergantian seluruh anggota grup akan ikut mengucapkan belasungkawa dan sukacita . Dan dalam ucapan belasungkawa serta sukacita  itu akan  ditemukan banyak salin tempel ucapan dari anggota grup yang lain. Sebuah laku asal ucap (ketik /salin tempel) yang seringkali dangkal makna dan jauh dari empati sesungguhnya.

Jika Anda mengikuti media sosial pasti  pernah menemukan penggalangan dana untuk korban gempa, banjir, membantu biaya pendidikan anak-anak kurang mampu. Dalam gerakan tersebut terlihat jelas nilai solidaritas yang nyata. Bentuk empati untuk turut serta meringankan beban kelompok, orang lain yang kurang beruntung. Anda tentu akan bisa dengan mudah membedakannya dengan solidaritas melalui twibbon yang menunjukkan nilai rasa kebersamaan yang cenderung dangkal. “Saya alumni saya bangga” “ Saya guru siap divaksin” itu saja. 

Twibbon telah menjadi pilihan untuk melakukan promosi kegiatan  juga untuk menunjukkan eksistensi sebuah komunitas. Jika di waktu yang akan datang muncul banyak twibbon tematik dan musiman  di media sosial  anggaplah sebagai spektrum warna pelangi yang membuat media sosial semakin berwarna. Setuju ?!

Retno Winarni, Guru, pengguna media sosial