Samuel Paty (47 tahun) dibunuh dengan kejam oleh Abdoullakh Abouyedovich Anzorov, seorang pemuda 18 tahun pada saat Samuel berjalan pulang ke rumahnya di Conflans- Sainte-Honorine, Prancis. Ia membunuhnya karena marah gurunya itu memperlihatkan wujud fisik dari Nabi Muhammad SAW lewat kartun yang akan diterbitkan oleh majalah Charlie Hebdo, sebuah majalah yang penuh kontroversi.

Charlie Hebdo sendiri merupakan majalah kontroversial yang dibuat oleh Gerard Biard, seorang kartunis Prancis dari kalangan Atheist. Tidak hanya Islam saja yang menjadi sasaran, namun majalah tersebut juga menyerang umat Kristen, Buddha maupun Yahudi. Bahkan, majalah itu pernah membuat cover depan yang memuat karikatur mengejek Paus dan Tuhan Yesus.

Melihat kejadian dari kasus Samuel Paty yang menyuruh muridnya untuk menggambar karikatur Nabi Muhammad SAW, banyak umat Islam yang bereaksi keras atas tindakan dari guru, bahkan ada yang mendukung aksi pembunuhan sang guru tersebut.

Dari insiden itu, terdengar sampai telinga Presiden Prancis, Emmanuel Macron yang pada saat itu sedang berada di Elysee Palace. Sang presiden pun mengutuk atas tindakan pembunuhan ini, dan ia langsung mengeluarkan statement bahwa “Agama Islam mengalami krisis di seluruh dunia”.

Tidak hanya itu, presiden pun juga mengeluarkan statement yang justru lebih memancing emosi umat Islam, yang menyatakan bahwa Prancis akan berperang melawan Muslim radikal. Hal tersebut membuat umat Islam sangat marah terhadap Macron karena sudah melegitimasi seluruh umat Islam adalah kelompok radikal.

Atas pernyataan tersebut, presiden Turki, Recep Thayyip Erdogan langsung bereaksi keras. Ia pun langsung membalas kepada presiden Macron bahwa ia harus diperiksa kejiwaannya, dan sudah kelewatan telah menyakiti umat Islam.

Baca Juga: Boikot Prancis

Presiden Erdogan juga menyindir Macron atas perkataan itu pada saat kampanye nasional untuk melawan ekstremis di Prancis atas nama kebebasan berbicara, salah satunya menyindir terhadap unsur-unsur Islam.

Tidak sampai di situ saja, Erdogan menyeru kepada warga Turki untuk memboikot produk-produk milik Prancis. Hal tersebut diikuti oleh negara-negara Muslim yang lain, salah satunya di Indonesia. Dan sampai saat ini, hubungan Turki dan Prancis makin memanas, bahkan kata Erdogan kalau perlu akan menyatakan perang terhadap Prancis, karena menurutnya, Perancis telah memancing perang salib kembali.

Atas tensi dari kedua negara tersebut, kita dapat bertanya-tanya apakah dengan kasus ini, Perancis dan Turki akan benar-benar perang akan terjadi? Menurut saya pribadi, kemungkinan akan terjadi perang, namun sama sekali tidak mungkin.

Sama-Sama Anggota NATO

Mungkin ada yang belum tahu bahwa baik Prancis maupun Turki merupakan sama-sama anggota NATO. Ya, NATO adalah sebuah organisasi internasional yang dibentuk pada tahun 1949 dan membawahi aliansi militer pada 30 negara Amerika Utara dan Eropa. Salah satunya adalah Turki dan Prancis.

Turki sendiri merupakan markas besar bagi Amerika Serikat untuk menyebarkan hulu ledak nuklir setelah perang dingin. Turki sendiri mencoba untuk mengajukan dirinya masuk dalam benua Eropa. Hal ini dapat dilihat dengan gaya hidup, standar hidup dan budaya. Akan tetapi sampai saat ini Uni Eropa belum sepenuhnya secara resmi menerima Turki sebagai bagian dari anggotanya.

Kedua, karena kedua negara tersebut merupakan anggota NATO, jika terjadi perang, maka tidak mungkin negara-negara NATO lain untuk turun tangan mendamaikanya, termasuk gembongnya NATO yaitu Amerika Serikat. 

Karena, jika terjadi perang antar kedua negara, akan mencoreng nama baik NATO di kancah dunia, apalagi oleh Rusia. Karena Russia turut senang jika perang antara Turki dan Prancis akan benar-benar terjadi. Kendati pun Amerika Serikat yang secara pasti akan turun langsung untuk mendamaikan kedua negara tersebut.

Menghadapi Situasi yang Sulit

Kita pasti tahu bahwa, pada tahun ini dunia sedang dilanda wabah pandemi yang cukup berbahaya, yaitu Covid-19. Yang membuat dunia makin krisis terhadap semua aspek. Baik Turki maupun Prancis sama-sama berjuang untuk menurunkan kasus Covid-19. 

Dengan Turki mempunyai 377.000 kasus sementara Prancis mempunyai 1.4 Juta kasus. Artinya, jika kedua negara tersebut benar-benar perperang, maka akan makin bertambah juga korban-korban yang berjatuhan akibat perang dan virus Covid-19.

Selain itu, kedua negara tersebut juga sama-sama menghadapi resesi ekonomi yang begitu besar. Yang di mana Turki telah mencapai inflasi sebanyak 12 persen dan mata uang Lyra  Turki jatuh tajam 26 persen. Sedangkan Prancis sedang menghadapi resesi brutal dengan inflasi sebesar 11 persen yang dikarenakan efek lockdown yang panjang.

Baik dari kedua negara itu, jika ingin melanjutkan untuk tetap menyatakan perang, kedua negara tersebut telah menggali kuburannya sendiri. Ini karena dapat merusak ekonominya yang semakin melemah.

Dari pembahasan ini, dapat disimpulkan bahwa Erdogan sangat serius untuk menyatakan perang melawan Prancis karena telah menyakiti hati umat Islam? Jawabanya tentu sajak tidak. Karena hal tersebut hanya spontanitas dari pihak Erdogan saja.

Mungkin Erdogan sendiri akan berpikir dua kali jika ingin benar-benar perang melawan Prancis. Karena hal tersebut hanyalah bersifat politis saja untuk meraih simpati dari rakyatnya demi menutupi krisis yang ada di depan mata.