Rabu, 09 Oktober 2019, Turki melancarkan Peace Spring Operation (Operasi Mata Air Perdamaian) secara terbuka dan gamblang ke wilayah utara hingga timur laut Suriah yang didiami oleh etnis Kurdi.

Tujuan operasi Turki kali ini, seperti yang ramai diberitakan, adalah untuk menciptakan zona aman di sepanjang perbatasan Turki-Suriah guna mengembalikan pengungsi Suriah yang selama ini ditampung di Turki. Sekitar 3,7 juta orang Suriah telah mengungsi di Turki sejak konflik bersenjata terjadi di Suriah, dan Turki bertekad untuk mengembalikan 2 juta orang di antaranya.

Perihal pengungsi memang tidak mudah dan tidak akan pernah mudah. Bahkan, tak jarang terdapat tokoh negara yang secara gamblang menyatakan bahwa pengungsi adalah pembawa penyakit dan harus ditolak kedatangannya.

Pengungsi menjadi beban tersendiri bagi negara transit terlebih lagi negara tujuan. Uni Eropa bahkan rela menggelontorkan miliaran Euro agar para pengungsi tersebut tidak menyeberang ke Eropa dan tetap berada di Turki.

Sialnya, perihal pengungsi selalu menjadi poin kesepakatan yang ditempatkan Turki di atas meja negosiasi. Jika Uni Eropa mengecam operasi Turki kali ini, maka Turki tidak ragu untuk membanjiri Eropa dengan jutaan pengungsi Suriah. Skakmat bagi Uni Eropa!.

Dalam kerumitan peta politik seperti ini, seolah tidak ada tempat bagi manusia dan kemanusiaan. Jutaan pengungsi tersebut hanya dilihat sebagai barang yang dengan mudahnya dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain atau sekadar poin kesepakatan seperti yang pernah coba dilakukan Turki demi mendapatkan keanggotaan Uni Eropa.

Kali ini pun, Turki seolah menemukan alasan yang “tepat” untuk melancarkan serangan ke wilayah perbatasan dengan Suriah, yaitu menyasar YPG—kelompok Kurdi yang menurut Ankara adalah organisasi teroris.

Kehadiran orang-orang Kurdi pada level tertentu adalah ancaman bagi beberapa negara di kawasan Timur Tengah, seperti Turki, Suriah, dan Irak, tempat di mana kelompok etnis ini tersebar.

Di Turki, kelompok Kurdi membentuk Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang menginginkan kemerdekaan dari negara Turki. Oleh Turki, PBB, dan Uni Eropa, PKK dianggap sebagai organisasi teroris.

Di Irak, etnis Kurdi membentuk Kurdistan Regional Government (KRG) yang berstatus wilayah otonom di Irak. Pada tahun 2017, etnis kurdi mengadakan referendum dan menyatakan kemerdekaan mereka dari Irak, namun dianulir oleh Baghdad.

Di Suriah, etnis Kurdi mendiami wilayah utara hingga timur laut Suriah, wilayah yang kini diserang oleh Turki. Etnis Kurdi Suriah mendirikan Democratic Union Party (PYD) yang memiliki sayap militer disebut Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG).

Bagi Ankara, kelompok PKK dan YPG adalah kelompok yang sama, sama-sama organisasi teroris.

Kelompok etnis Kurdi, dalam kasus ini, adalah orang-orang yang terbuang. Ketika kemunculan kelompok teroris Islamic State (IS), milisi Kurdi Suriah seperti YPG bersama dengan milisi Arab lainnya membentuk Syrian Democratic Force (SDF)—di bawah pimpinan Kurdi, melawan IS dengan disokong oleh Amerika Serikat.

Begitu IS dinyatakan takluk beberapa bulan yang lalu, Amerika Serikat pun mulai menarik pasukannya dari wilayah utara Suriah, meninggalkan SDF yang kekuatannya semakin meningkat dan kontrol yang makin kuat atas wilayah bagian utara Suriah. Hal yang dikhawatirkan oleh Turki yang berbatasan langsung dengan Suriah di bagian selatan.

Lalu kemudian, datanglah serangan dari Turki yang menginginkan zona aman sejauh 20 mil dari garis batas ke dalam wilayah Suriah. Hal ini tentu saja petaka bagi kelompok Kurdi. Wilayah yang diinginkan Turki tersebut adalah tempat tinggal mereka selama ini.

Bagi Suriah sendiri, jelas bahwa serangan Turki adalah ancaman bagi kedaulatan wilayah Suriah, terlepas dari fakta bahwa wilayah tersebut selama ini dikendalikan oleh kelompok Kurdi yang berseberangan dengan Damaskus. Namun, Assad bertekad akan merebut setiap inci wilayah Suriah yang diduduki pasukan Turki.

Terkait dengan serangan Turki, SDF menjadi luntang-lantung tanpa sokongan. Hingga akhirnya, SDF menyetujui bergabung dengan pemerintah Suriah melawan invasi Turki.

Ketika dua kelompok yang berseberangan memutuskan untuk menyatukan kekuatan, tidak diragukan lagi bahwa mereka tengah menerapkan peribahasa “musuh dari musuhku adalah temanku”.

Kesepakatan ini hanya akan berlangsung selama waktu yang diperlukan untuk mengusir Turki dari wilayah utara Suriah, atau lebih tepatnya, wilayah orang-orang Kurdi. Kesepakatan pahit ini, bagi SDF, adalah untuk mencegah kematian lebih banyak orang-orang Kurdi.

Kurdi tidak berharap banyak dari Damaskus. Mereka bisa saja ditinggalkan seperti Amerika Serikat yang akhirnya meninggalkan mereka setelah misi mengalahkan IS selesai. Damaskus juga bisa saja berbalik bersepakat dengan Ankara dan menyerang kelompok Kurdi pada akhirnya.

Selama puluhan tahun, orang-orang Kurdi berjuang melawan represi dan menegakkan identitas mereka sendiri. Etnis Kurdi mendiami wilayah pegunungan yang terkepung di perbatasan Turki, Iran, Irak dan Suriah yang mereka sebut Turkistan. Oleh sebab itu, lahirlah pepatah bijak dalam komunitas Kurdi, bahwa the Kurds have no friends, but the mountains.

Apa sebenarnya yang sangat diinginkan Turki dari serangannya kali ini? Mungkin benar bahwa Turki hanya ingin menciptakan zona aman bagi kembalinya 2 juta pengungsi Suriah. Tapi, ada satu hal lain yang sangat nyata dari serangan Turki ini, yaitu Turki ingin membasmi kelompok YPG yang mereka yakini berafiliasi dengan kelompok PKK di selatan Turki.

Bagi Turki, PKK adalah organisasi teroris, maka demikian juga dengan YPG. Kedua kelompok ini berbagi identitas yang sama sebagai orang Kurdi, dan kata Ankara bahwa mereka juga berbagi keanggotaan dan simbol yang sama.

Apa yang diinginkan Turki sebenarnya adalah memecah konsentrasi kelompok etnis Kurdi di wilayah perbatasan Turki-Suriah. Melemahkan kelompk YPG tentu juga akan melemahkan kelompok PKK di Turki. Orang-orang Kurdi akan tersebar dalam diaspora baru jika mereka akhirnya hengkang atau bahkan dihabisi oleh Turki di perbatasan.

Bagi Turki, orang-orang Kurdi adalah ancaman. Sekitar 20 persen dari populasi Turki atau sekitar 15 juta orang adalah etnis Kurdi yang terkonsentrasi di wilayah selatan Turki, berbatasan dengan Suriah, dan membentuk kelompok PKK yang telah lama melancarkan gerakan separatis terhadap Ankara. Separatisme tidak pernah menjadi perkara sederhana bagi negara manapun.

Berdalih untuk mengembalikan pengungsi Suriah kembali ke wilayah Suriah, serangan Turki sendiri nyatanya telah menciptakan gelombang pengungsi yang baru. Tapi, ya, tidak ada cukup tempat bagi manusia dan kemanusiaan di atas meja negosiasi negara.