Wacana menempatkan generasi milenial pada posisi menteri dalam kabinet pemerintahan Jokowi-Ma'ruf mendapat atensi serius dari banyak pihak. Ini telah membangkitkan pelbagai polemik di masyarakat. Khususnya generasi muda, mereka mempertanyakan keseriusan pemerintahan terpilih menindak wacana yang tumpah ruah di media massa ini.

Di waktu bersamaan, banyak nama yang disodorkan sebagai opsi, masukan untuk dipertimbangkan oleh pihak yang punya hak prerogatif memutuskan, dalam hal ini presiden terpilih Joko Widodo.

Apakah wacana itu serius dan berujung bukti atau sekadar main-main belaka, itu urusan lain. 

Yang pertama, yang harus dilakukan di era pemerintahan saat ini, terutama oleh Jokowi, adalah mengambil peran sentral serta memastikan generasi old yang berada dalam kabinet pemerintahan tidak genit di kemudian hari alias jadi duri dalam daging. Kedua, Jokowi juga harus mempertegas makna di balik citra yang selama ini ia bangun pada dirinya, sebagai representasi generasi milenial.

Dari poin kedua di atas, saya kira, satu kursi menteri terlalu kurang untuk menjadi penegas keberpihakan Jokowi terhadap sumber daya manusia muda Indonesia. Sekurang-kurangnya dan sekoyong-koyongnya, lima posisi menteri mesti diberikan kepada anak muda. 

Mengingat ini kesempatan yang baik bagi Jokowi untuk memanfaat bonus demografi—salah satu cara adalah dengan cara memberikan tempat yang lapang, seluas luasnya, bagi sumber daya yang sedang bonus itu berselancar ria di atas gelombang modernisasi dan badai persaingan bebas.

Dan kalau seandainya jadi lima orang menteri milenial, saya tidak mau sendirian di istana, saya butuh tenaga teman karib untuk berkolaborasi dalam "kerja, kerja, kerja" mewujudkan visi pemerintahan Indonesia Maju. Teman karib yang sudah terbiasa bekerja keras: mampu menyimpul pemuda yang terfragmen, inovatif, visioner, tidak punya DNA oligarki, dan belum terkontaminasi isme-isme partai politik.

Kalau Soekarno berani berteriak lantang membutuhkan sepuluh anak muda, masa Jokowi tidak berani menempatkan setengah anak muda dari jumlah yang diteriakkan Soekarno? 

Jangan lupa, sebagai kader PDIP, Jokowi juga bertugas memperjelas jati diri PDIP sebagai partai Soekarnois. Pun tugas orang tua ditakdirkan untuk menunjuk arah kehidupan yang baik dan mendoakan perjuangan anak muda menempuhnya. 

Menunjuk arah sudah kaum tua lakukan. Saatnya mereka bergelut dengan doa untuk mendoakan tetesan keringat kerja generasi muda menyuburkan kesejahteraan dan keadilan sosial.

Kaum tua sebaiknya istirahat saja—bukan karena tidak mampu, tetapi karena memang sudah waktunya untuk beristirahat. Ini bukan soal tua dan muda, tetapi ini tentang esok pagi milik siapa. Dalam bahasa lain, masa depan milik siapa. Siapa lagi kalau bukan anak muda?

"Kekuatan pemuda adalah kekayaan bagi seluruh dunia. Wajah orang muda adalah wajah masa lalu kita, masa kini, dan masa depan kita. Tidak ada segmen dalam masyarakat yang dapat menandingi kekuatan, idealisme, antusiasme, dan keberanian anak muda," seru Kailash Satyarthi.

Selama ini, Jokowi telah banyak meminjam jati diri anak muda, kalau bukan kamuflase. 

Andai kata perihal kursi menteri adalah soal siapa yang paling berjasa mengorbitkan kemenangan yang sudah disahkan secara resmi oleh KPU, maka sudah sewajarnya Jokowi membalas budi itu terhadap pemilik identitas yang dirinya pinjam sewaktu kampanye dulu. Saya suka jaket bomber milik Jokowi. Elegan, tak ada corak ketuaan.

Biarkan yang tua menjadi teladan,dan yang muda memegang pedang. Maksudnya, biarkan keruwetan bangsa ini anak muda yang menyelesaikan. 

Masa sih, dari sekian banyak anak muda di bangsa ini, yang tua terus diberikan kesempatan berulang kali menggelindingkan ide-ide besar dari hilir ke hulu? Bila terus-terusan orang tua, yang sudah berumur di atas 50 tahun, yang diberikan kesempatan berulang kali, itu artinya kesempatan kaum muda dicuri berulang kali pula.

Lima tahun sekali presiden berganti, namun wajah-wajah menteri masih itu-itu saja. Tidak pernah ada presiden baru yang hadir dengan benar-benar membawa kebaruan, restrukturisasi sungguhan, bukan sekadar tukaran posisi di antara orang yang sama. Palingan yang baru hanya presiden seorang. Wajah mayoritas menteri tetap lawas, berdebu, akibat terlalu tua dan terlalu sering.

Kalau menteri tua-tua itu diganti, pasti mereka ngambek. 

Sekali lagi, saatnya bagi Jokowi membuktikan bahwa dirinya berani mengambil keputusan-keputusan gila demi kepentingan bangsa ini—bahwa dirinya tidak lagi memiliki beban apa pun. Berapa banyak wajah tua yang sudah bosan para pembaca lihat berada di istana?

Semestinya, orang-orang tua itu, yang sudah punya dua atau tiga cucu di rumah, yang tidak mau syahwatnya dibatasi orang lain, membatasi dirinya sendiri agar tidak merampas waktu dan hak-hak generasi muda. Karena orang yang sudah tua dan sudah dapat kesempatan berulang kali tapi masih mau terus itu parasnya tidak lucu sekaligus kejam.

Di mana-mana, orang tua itu berjuang untuk anak-anak; bukan malah sebaliknya, si anak disuruh sabar menanti syahwat orang tua kendor barulah sang anak mengganti. Saya kira begitulah hakikat regenerasi. 

Jadi, Jokowi jangan gugup untuk menggesar posisi orang-orang tua yang sudah menjabat dari era Gus Dur, atau mungkin ada di era Habibie, yang masih tetap ada sampai pemerintahan Jokowi-JK, keluar dari dalam kabinet pemerintahan Jokowi-Ma'ruf—karena pemimpin adalah ketegasan tanpa ragu.

Terakhir, kami kaum muda, dengan diberikannya kesempatan itu, menyatakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal-hal yang mengenai hitung-hitungan untung-rugi, ancem ini ancem itu, dalam menentukan pengisian posisi menteri, diselenggarakan dengan cara saksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, dan tidak usah memedulikan perasaan kaum tua.