Ketika saya naik kereta dari Tangerang ke Cikarang, saya merenung: bagaimana kalau kertas tidak ada? Terbersit dalam benak: akankah kertas musnah dari permukaan bumi? 

Pertanyaan-pertanyaan itu terngiang-ngiang dalam pikiran, sehingga berupaya untuk menemukan jawabannya melalui pengamatan dan perilaku manusia dalam pemakaian kertas.

Namun, setelah melihat perkembangan pemakaian kertas saat ini, rasanya kertas tidak akan bisa musnah dalam kehidupan manusia. Setelah melihat beberapa mesin digital, seperti mesin pembayaran di minimarket dan supermarket, semua struk pakai kertas, dan pengemasan produk kebanyakan terbuat dari kertas.

Ketika memperhatikan lagi fungsi dan tutoksi kertas, saya berkesimpulan bahwa kertas adalah barang yang hampir setiap hari menemani kehidupan manusia, sehingga kertas tidak bisa terlepas dari kehidupan manusia. Contoh sederhananya adalah pemakaian tisu.

Digitalisasi menuntut manusia berinovasi dan kreatif. Dengan adanya inovasi, maka tingkat kegunaan kertas makin banyak. 

Banyak orang beranggapan bahwa perkembangan teknologi, khususnya digitalisasi, akan mengurangi pemakaian kertas. Saya pikir pendapat itu kurang tepat. Karena dalam realitas yang ada, kecanggihan teknologi dan digitalisasi memberi manfaat besar bagi para pebisnis kertas.

Memang selama ini kebanyakan masyarakat berpikir kegunaan kertas hanya untuk membuat buku. Padahal fungsi kertas bukan hanya untuk membuat buku dan alat tulis. 23 persen kertas digunakan untuk pengamasan produk dan jasa.

Bahkan setiap tahun fungsi kertas untuk pengemasan makin meningkat. Pengalihan fungsi kertas menjadi hal yang menarik dan membangun industri kertas nasional.

Zaman berganti zaman, sikap dan perilaku manusia terhadap kertas menjadi berubah. Kertas bukan hanya media tulis dan media pendidikan, tetapi kertas menjadi lahan bisnis yang mumpuni dan menjadi gairah dalam perkembangan bisnis startup. Bisnis startup menjadikan kertas sebagai pengemasan yang menarik konsumen. Semua perusahaan saat ini menciptakan kertas yang ramah lingkungan.

Cerita di atas bukan berarti penulis setuju dengan eksploitasi hutan, namun konservasi landscape bisa dilakukan. Artinya, apa yang ada disediakan oleh alam boleh diambil dan dipergunakan untuk keberlangsungan hidup.

Ibarat seperti ikan di laut, kalaulah ikan tidak boleh ditangkap, terus manusia makan ikan dari mana? Ilustrasi ini cocok terhadap pemakaian kertas. Kalau pohon tidak bisa dipakai untuk pembuatan kertas, selanjutnya manusia pakai bahan kertas dari apa?

Tuhan telah menyediakan di alam kebutuhan manusia untuk di kelola oleh manusia dengan baik. Tuhan memberi kita kuasa untuk menjaga keseimbangan dan kelestariannya. Mungkin cerita ini sudah klasik, tetapi hal tersebut bukan tidak mungkin bisa dilakukan.

Secanggih-cangihnya teknologi dan digitalasi saat ini, kertas tetap tidak akan pernah hilang karena ada beberapa hal penting, seperti dokumen surat berharga, yang harus memakai kertas. Kertas menjadi sarana dan prasarana pendidikan yang produktif. Pendidikan telah berubah menjadi menjadi  digital.

Namun, apakah sepenuhnya manusia meninggalkan kertas? Kemenduaan hati manusia akan kertas dan digital salah satu bukti keserakahan dan pemborosan. Kemenduaan manusia dalam menggunakan kertas dan teknologi adalah bukti manusia tidak sanggup untuk menjaga keseimbangan dan kelastarian lingkungan.

Mungkin para pencinta lingkungan tidak menyadari bahwa selama ini banyak menyalahkan industri kertas atau pebisnis kertas, namun tidak pernah memperhatikan pengguna kertas. Mungkin kita semua adalah pengguna kertas. Untuk itu, hal yang penting dalam pengelolaan kertas adalah menjaga keseimbangan dan kelestarian pemakaiaannya.

Karena di zaman dulu manusia hanya memikirkan bagaimana supaya bisa menulis, membaca, dan berhitung dengan mudah dan cepat. Imajinasi yang telah terwujud menjadi android dan gadget yang kita pakai hari ini adalah hasil dari imajinasi orang zaman dulu. Kemajuan teknologi android membangkitkan industri kertas menjadi inovatif dan kreatif

Bagaimana dengan kertas saat ini? Apakah media digital telah mengurangi pemakaian kertas? 

Di zaman ini, kemenduaan kertas dan teknologi tidak bisa diredam karena ada koridor bisnis yang memacu kepada predator dengan mangsanya. Digitalisasi dan kertas bergandengan untuk memajukan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat

Cerita mengenai bagaimana kertas menjadi hal yang penting dalam kehidupan manusia telah membawa jawaban tersendiri. Dalam perubahan zaman, ada perbedaan yang signifikan mengenai fungsi kertas, namun kertas selalu bertahan dalam gempuran digitalisasi.

Cerita ini memberikan kepada kita pembelajaran bahwa untuk alat tulis, membaca, dan berhitung, fungsi kertas bisa kita hilangkan. Namun dalam pengemasan, menyimpan arsip dan dokumen berharga, kertas belum bisa tergantikan.

Dilematis antara fungsi kertas menjadi bahan pertimbangan untuk mengurangi kemenduaan kita terhadap kertas dan teknologi.Kalau di zaman dulu kertas bisa diminimalisasi, kenapa di zaman now tidak bisa? 

Kesadaran dan kebijaksanaan kita dalam mengatur pemakaian kertas bisa dilakukan dengan melihat tupoksi kertas sebagai peradaban. Bukan tidak bisa kertas di manajemen dengan baik, agar keseimbangan kehidupan terjadi. 

Judul tulisan ini memberi kita kesadaran, mungkinkah batu bisa jadi kertas? Ternyata mungkin. Hanya saja, kemenduaan manusia akan kertas itulah yang harus kita hilangkan.

Teknologi digital menjadikan kertas kita sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dan penghematan pemakaian kertas. Ketergantungan manusia akan kertas menjadi refleksi kita semua. Atas dasar itu, sehingga dikembangkan teknologi untuk bisa memenuhi keinginan manusia.

Jangan karena kita telah menemukan teknologi digital, manusia menjadi boros dan serakah serta mendua hati terhadap kertas dan teknologi digital. Perubahan dan kesadaran akan timbul jika mengerti apa arti, filosofi, dan tupoksi kertas dalam kehidupan manusia.

Saya melihat kertas dan digitalisi menjadi dua hal yang penting dalam pembangunan ekonomi kreatif dan inovatif bangsa Indonesia. Kertas menjadi bahan penting, karena kertas memberi manfaat bagi kehidupan manusia.  

Kita hanya bisa menjaga keseimbangan pemakaian kertas, supaya lingkungan tetap terjaga dan lestari. Karena sampai saat ini, bahan utama pembuatan kertas adalah kayu.

Bicara kayu berarti bicara hutan. Menemukan bahan-bahan lain selain kayu untuk pembuatan kertas adalah lebih baik. Supaya alam dan lingkungan seirama dengan kehidupan manusia.