Puasa Ramadan tahun ini diperkirakan jatuh pada 24 April 2020. Ketika menjelang bulan puasa begini, kita mulai sibuk. Sibuk di sini dalam makna mengingat puasa kita pada tahun-tahun sebelumnya atau yang lalu, apakah puasa kita full atau tidak. 

Bagi perempuan, yang telah "dewasa" biasanya, puasa selama kurang lebih tiga puluh (30) hari itu tidak bisa penuh karena ada hari ketika mereka mendapat menstruasi. Atau bagi orang yang sakit yang tidak bisa berpuasa, orang yang melakukan perjalanan, kakek atau nenek, lansia, sampai pada ibu yang menyusui, memiliki balita juga tidak bisa berpuasa penuh.

Seperti kasus yang dialami seorang "saudari", dia punya utang puasa karena menyusui bayinya. Puasa Ramadan adalah "kewajiban" bagi seorang Islam. Dia pun ingin membayar utang puasanya dengan melakukan fidyah.

Fidyah merupakan mengganti atau menebus. Suatu cara mengganti atau menebus utang puasa dengan memberikan sejumlah makanan, atau uang dengan jumlah tertentu kepada fakir miskin. 

Aku katakan padanya, setahuku (aku lupa pernah membaca kisah ini dimana). Fidyah  terjadi pada zaman Nabi. Di mana, ada seorang suami yang menggauli istrinya di siang hari pada bulan puasa. Padahal, hal itu dilarang karena dilakukan pada siang hari.

Sang Nabi pun menyuruh si suami tadi untuk membayar fidyah dengan memberikan sejumlah makanan kepada fakir miskin. Namun, ketika Nabi SAW tahu, jika suami tadi adalah fakir miskin. Nabi kemudian menyuruhnya memberi makan kepada keluarganya sendiri (karena lebih penting menghidupi keluarga terdekat dibanding orang lain).

Masalahnya, si "saudari" yang mau membayar utang puasa dengan fidyah ini (maaf) orang yang tidak mampu juga dalam artian miskin. Dia tidak bekerja, seorang ibu rumah tangga yang punya tiga anak yang masih kecil-kecil, sedang sakit, dan suami yang kerjanya serabutan. Apalagi, uang fidyah yang jumlahnya kisaran jutaan itu didapatkan dengan cara meminta kepada orang tuanya.

"Waduh, kamu sudah tidak wajib fidyah, kakak." kataku padanya setelah menceritakan sejarah fidyah tadi melalui chat japri di WhatsApp (WA). Lebih baik dia memberi "sedekah" kepada anak-anaknya terlebih dahulu yang lebih membutuhkan biaya seperti membeli susu, pampers, dan sebagainya.

Lalu katanya pendek, "Aku takut banyak dosa."

Oh My God, kakak, dosa apa yang tlah kau ciptakan?  Kamu belajar dosa dari mana? Dengan situasi dan kondisimu yang seperti itu, kamu bisa merasa sangat berdosa?

Aku jadi ingat kata-kata yang kutangkap dari seorang pemateri yang ahli tafsir ketika mengikuti suatu pelatihan keislaman dan keindonesiaan. "Hari gini, kita perlu menafsir ulang, atau menginterpretasi ayat" 

Re-interpretasi yang bagaimana? Aku setuju, hari gini, kita memang perlu meng-interpretasi. Interpretasi berarti pemberian kesan, pendapat, pandangan teoritis terhadap sesuatu, tafsiran (KBBI).

kita, aku pribadi perlu belajar menginterpretasi, menafsirkan sesuatu, melihat banyak hal, sebelum berasumsi untuk mengambil kesimpulan.

Harus Tuntas dan Total

Seperti kata seorang teman, hari gini (lagi), banyak teman-teman kita yang pendidikan "agamanya" sewaktu kecilnya masih tidak belajar sama sekali atau masih setengah-setengah tidak tuntas dan total. 

Pendidikan itu baik yang mereka peroleh dari orang tuanya, keluarga, sekolah, bahkan lingkungan disekitarnya. Sehingga, selalu beda tafsiran. Sehingga harus interpretasi ayat atau "jika perlu" re-interpretasi.

Jika melihat pada kasus si "saudari" diatas. Menurutku, harusnya dia bisa melihat berbagai sisi. Mengapa dia harus membayar fidyah, apakah fidyah ini berlaku atas dia, ataukah keluarganya. Bukan karena dia "harus" takut dosa saja.

Inilah, mengapa harus belajar tuntas dan total. Seperti contoh lain, misalnya saja jika dia dari keluarga Nahdlatul Ulama (NU) baik yang struktural dalam organisasi maupun kultural yang budaya. Ia harusnya menjadi NU tulen.

Karena, kakek dan neneknya, bapak dan ibunya, bahkan lingkungannya mengajarkan Islam yang me-nusantara. Jika  pondasinya sudah kuat dan kokoh. Dia tak akan mudah terwarnai oleh suatu aliran atau paham. Jika dia terwarnai berarti ke-NU-annya tidak tuntas dan total. 

Ketika besar atau berkuliah dan mendapati banyak "aliran" atau paham Islam di luar sana, di dalam kampus maksud . Dia sudah tidak kaget, atau ikut arus, bahkan beralih haluan masuk di aliran-aliran atau paham-paham tadi. Apalagi, aliran yang merasa Islamnya paling benar. 

Bagi yang mendapat dasar belajar agama dari orang tua, keluarga saja masih bisa berpindah haluan, apalagi yang tidak belajar sebelumnya. Mereka akan menelan mentah-mentah apa yang telah dipelajari, atau dicekoki kedalam pikirannya. Kemudian mengambilnya sebagai pedoman hidup.

Begitu juga pendapat teman yang lain. Aliran atau paham ini "ternyata" tidak sesuai dengan nilai-nilai dalam konteks Indonesia. Dan mereka ada di semua lini. Wah, mengerikan sekali! 

Ah, aku juga perlu belajar secara tuntas dan total, tidak akan setengah-setengah. Biar tidak mudah dikadalin...