Sudah setengah abad perjalanan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di tanah air ini untuk merealisasikan tujuan dan cita-citanya. Namun, sepertinya masih membutuhkan perjalanan yang lebih panjang lagi bagi IMM agar tujuan dan cita-cita sepenuhnya dapat diwujudkan. Hal tersebut dikarenakan misi dan tujuan IMM sebagai organisasi perkaderan dan pergerakan masih di ambang kebingungan.

Sering sekali IMM berkutat pada permasalahan internal organisasi, hingga berujung pada terhambatnya langkah IMM dalam tataran eksternal. Gerakan IMM selama kurang lebih setengah abad saat ini masih sebatas wacana intelektual, belum menyentuh pada tataran praksis gerakan nyata. Meskipun tidak semua, IMM di masing-masing daerah banyak ditemui seperti itu.

Selain itu, gerakan IMM sendiri masih belum sepenuhnya mandiri. Bisa dikatakan, IMM masih mengekor pada organisasi ekstra kampus lainnya. 

Apabila dilihat dari kacamata idealis dan realitas, masih terlihat paradoks utopis. IMM sebagai organisasi kemahasiswaan yang membawa nama Muhammadiyah di belakangnya memiliki andil yang cukup besar dalam membangun dan memberi kontribusi untuk negeri ini.

Sebagai organisasi kemahasiswaan yang bergerak di tiga ranah, yakni keislaman, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan, IMM belum sepenuhnya mampu menyentuh ketiga ranah tersebut. Terlihat sekali lahan garapan dari IMM di ketiga ranah tersebut masih dikotak-kotakkan atau masih bersifat ambigu.

Tri kompetensi dasar berupa Religius, Intelektual, dan Humanitas sebagai sebuah kompetensi dasar yang harus dimiliki kader-kader IMM masih berupa jargon-jargon yang minim implementasi. Bahkan terkadang IMM di masing-masing struktural masih disibukkan dengan pembangunan internal organisasi serta berkutat pada pergolakan konflik antar sesama kader. Hal-hal sederhana tersebutlah yang menjadi persoalan kecil, namun menghambat roda pergerakan IMM.

Menjadi PR besar bagi IMM untuk dapat mengejawantahkan nilai-nilainya secara global. Karena orientasi perkaderan dari IMM sendiri adalah untuk mencetak kader umat, perserikatan, dan kader bangsa.

Melihat usia IMM yang sudah setengah abad lebih, haruslah ada langkah-langkah strategis guna melebarkan sayap dakwah IMM melalui gerakan-gerakannya. Karena IMM merupakan organisasi yang di bawah payung besar Muhammadiyah tentu menjadi harapan besar agar dapat mewujudkan cita-cita perserikatan di masa depan.

Realitas Gerakan IMM Hari ini 

Bagai sebuah organisasi, perkaderan IMM memiliki metode tersendiri yang mampu merekrut kader dan menciptakan generasi penerus yang unggul. Dapat dilihat dari perkembangan gerakan organisasi IMM yang sudah cukup komprehensif dalam berbagai tataran.

Namun, yang sekarang masih menjadi persoalan ialah semua itu masih dalam pusaran keorganisasian dan belum mampu menerobos ke ranah politik. Karena di Indonesia secara politik IMM sendiri masih belum mampu untuk mendapatkan posisi yang strategis, seperti menduduki kursi legislatif dan eksekutif, bahkan dalam skala kecil sekalipun seperti lembaga intra kampus yang sampai sekarang masih sering diduduki oleh kebanyakan kader dari organisasi lain.

Secara intelektual, IMM memiliki kader-kader yang tergolong mapan. Namun, bisa dikatakan itu menjadi sekadar wacana karena sejauh ini dari sekian banyak kader yang memiliki intelektual tersebut masih belum mampu mencipta karya-karya yang mencuat di kalangan publik dan masih berekor terhadap tokoh-tokoh intelektual dari organ lain.

Padahal hal tersebut merupakan aib besar bagi kader dengan kemampuan menciptakan ideologi dan kader yang merupakan komponen penting dalam gerakan seperti yang dikatakan oleh Eko Prasetiyo bahwa kuantitas kader akan mempermudah gerakan.

Perkaderan menjadi salah satu tugas yang menentukan bergeraknya suatu gerakan. Kader ibarat pasukan perang yang disiapkan untuk menghadapi lawan serta tantangan di depan dengan bekal alat tempur yang berupa pengetahuan serta kesadaran akan arti perjuangan atas kemanusiaan serta atas dasar kehendak Ilahi.

Kaitannya dengan perkaderan sering kali kader menjadi salah satu problematik gerakan organisasi. Karena memang tidak semua mahasiswa berminat untuk menyelam dalam lautan keorganisasian, sehingga kadang kala ini menjadi salah satu faktor sulitnya perkaderan. Sehingga ada kalanya kita menggunakan cara atau model perkaderan sesuai dengan sasaran yang dituju.

Kepada mahasiswa yang berminat dalam gerakan, cukup kita memberikan tambahan gizi pengetahuan untuk menguatkan intelektualnya sehingga tumbuh imajinasinya untuk perubahan. Sedangkan kepada mahasiswa yang sedikit pun tidak berminat dalam gerakan, kita perlu memberikan gizi berupa penyadaran akan pentingnya berorganisasi, sehingga dengan motivasi tersebut mampu menggerakkan serta membangkitkan jiwa gerakannya.

Selain itu, saya rasa tidak ada hal yang sulit untuk dilakukan. Sering kita mendengar jargon man jadda wajada. Kata-kata itu yang menjadi spirit perjuangan kita dalam perkaderan. Semangat berjuang untuk menegakkan keadilan, menyuarakan kebenaran itulah inti dari pergerakan. Oleh karena itu, untuk mengemban tugas itu, mobilisasi kader sangat penting dilakukan.

IMM memiliki dasar serta panduan menjadi kader yang diharapkan untuk umat dan bangsa. Dengan panduan tersebut, setiap kader mampu bercermin atas dirinya apakah memang sudah mejadi kader yang diharapkan? Panduan itu sering kita sebut dengan trilogi dasar IMM, yaitu religiusitas, intelektualitas, humanitas. Ketiga kata tersebut menjadi rujukan setiap kader IMM untuk menjadi kader yang ideal, kader yang mampu menghadapi tantangan zaman.

Akan tetapi, akhir-akhir ini, sering kali kita lihat para kader seakan lupa akan trilogi dasar yang telah lama menjadi panduan setiap kader, sehingga dampaknya para kader tidak paham apa itu kader dan apa tugas kader yang sesungguhnya.

Oleh karena itu, dalam tulisan ini, saya akan memberikan contoh kepada para kader tentang apa itu kader? Bagaimana kriteria menjadi kader yang sesungguhnya atau ideal, serta kader yang dirindukan para pahlawan terdahulu di era proklamasi dan orde baru?

Pahlawan yang berjuang mati-matian dalam memperjuangkan hak-hak sesama atas ketidakadilan yang sekian lama menjalar tanpa ada kata kasihan. Akan tetapi, dengan semangat perjuangan, dengan kesadaran kemanusian serta ketuhanan para kader yang diharapkan menciptakan perubahan mampu mengubah tatanan yang diawali dengan tumbangnya rezim otoriter Soeharto.

Itulah kader yang diri mereka merupakan sekelompok pemuda yang berjuang untuk keadilan dan kemaslahatan umat seperti Sukarno, Hatta, Syahrir, Natsir maupun Tan Malaka.

Tujuan IMM sesuai dengan AD IMM dalam bab II pasal 6 adalah ‘mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah’ harus dikembangkan secara pesat agar realitas gerakan kader bisa benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas seperti yang dilakukan Muhammadiyah untuk bangsa.