Teringat riset saya sebelumnya, tentang konsep mitos Roland Barthes dan telaah ekofeminisme. Perihal  adat kebiasaan masyarakat Indonesia yang merayakan kebahagiaan dengan slametan –terlebih masyarakat Jawa, tidak terlepas dengan tumpeng atau makanan apapun yang menjadi ciri khas masing-masing daerah. Tumpeng yang dihadirkan adalah berbentuk kerucut atau berundak-undak seperti punden pada masyarakat zaman prasejarah, sebuah simbol keagungan yang luhur.

Roland Barthes berbicara Tumpeng

Kebudayaan memiliki dua aspek: makna dan arahan-arahan yang sudah dikenal, yang dilatihkan pada para anggota budaya itu; dan observasi dan makna-makna baru, yang ditawarkan dan diuji. Semuanya ini merupakan proses-proses biasa dalam masyarakat manusia dan jiwa manusia, dan melaluinya kita bisa melihat sifat dari kebudayaan: bahwa kebudayaan selalu tradisional sekaligus kreatif; bahwa ia adalah makna-makna umum yang paling biasa sekaligus makna-makna individual yang paling halus. 

Kita menggunakan kebudayaan dalam dua pengertian: sebagai keseluruhna cara hidup –yaitu makna-makna yang umum; dan untuk menunjuk pada kesenian dan pembelajaran –proses-proses khusus penemuan dan usaha kreatif. Pertanyaan tentang berbagai tujuan umum dan biasa, dan juga pertanyaan tentang makna-makna dan personal dan dalam. Dalam setiap masyarakat dan setiap jiwa, kebudayaan itu adalah hal-hal yang dialami dalam hidup sehari-hari.

Kepercayaan masyarakat Hindu-Budha, mengenai tempat-tempat yang posisinya lebih tinggi adalah tempat yang paling suci. Tempat tersebut contohnya adalah gunung, puncak gunung adalah tempat tinggi yang dekat dengan langit, karena langit adalah tempat yang didiami oleh para dewa. 

Maka secara logis puncak gunung selalu disakralkan, karena tempat ini adalah penghubung yang paling dekat dengan para dewa. Maka tidak heran, jika kita sering menjumpai beberapa makam yang dikeramatkan di puncak gunung atau makam-makam yang sengaja ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi dari tanah, contohnya di tebing dan sejenisnya.

Nasi tumpeng yang berbentuk kerucut ditempatkan di tengah-tengah dan bermacam-macam lauk pauk disusun di sekeliling kerucut tersebut. Penempatan nasi dan lauk pauk seperti ini disimbolkan sebagai gunung dan tanah yang subur di sekelilingnya. Tanah di sekeliling gunung dipenuhi dengan berbagai macam lauk pauk yang menandakan lauk pauk itu semuanya berasal dari alam, hasil tanah. Tanah menjadi simbol kesejahteraan yang hakiki.

Dari beberapa literatur dituliskan, bahwa makna denotasi dari tumpeng itu sendiri adalah tumpukkan nasi yang dibentuk gunungan. Maka tumpeng adalah sebuah simbol yang bermakna pengakuan akan adanya kuasa yang lebih besar dari manusia (Tuhan), yang menguasai alam dan aspek kehidupan manusia, yang menentukan awal dan akhir. Wujud nyata dari pengakuan ini adalah sikap penyembahan terhadap Sang Kuasa dimana rasa syukur, pengharapan dan doa dilayangkan kepada-Nya supaya hidup semakin baik, menanjak naik dan tinggi seperti halnya bentuk kemuncak tumpeng itu sendiri.

Tumpeng; Ketubuhan dan Alam

Dengan berbentuk gunungan tersebut, sayangnya banyak diantara kita salah menafsirkan. Ketika slametan berlangsung, pemotongan tumpeng dilakukan selalu pada puncaknya. Menurut filosofi Jawa, pemotongan tumpeng seharusnya dilakukan dari bawahnya terlebih dahulu, hal ini dikarenakan bentuk kerucut yang berarti runcing di atas dan melebar di bawah. 

Melebar ke bawah berarti  interaksi kita terhadap sesama makhluk ciptaan-Nya, terus pada prosesnya kita semakin menajak dan mendekatkan diri kepada yang Maha Esa. Maka, apabila memotong tumpeng dari puncaknya, justru menyalahi filosofi tumpeng yang merupakan representasi hubungan manusia dengan Tuhan.

Dalam hal ini ekofeminisme mengajarkan pendekatan yang bertumpu pada sifat-sifat feminine seperti rela berkorban, kasih sayang dan lemah lembut. Salah satu kelebihan dari ekofeminisme adalah mampu menerangkan latar belakang kerusakan lingkungan hidup secara global dengan subordinasi perempuan. Ekofeminisme melihat masalah sosial, kultural dan struktural yang berupa dominasi yang sangat kuat dalam relasi antar kelompok manusia (ras, etnik, negara, bangsa, agama seks, gender) dan relasi antar manusia dengan alam lingkungan yang mengakibatkan banyaknya penderitaan bagi manusia sendiri. 

Gerakan ekofeminisme muncul dari kesadaran bahwa ada keterikatan yang begitu kuat antara perempuan dan lingkungan. Satu hal yang menarik dari feminisme sebagai sebuah pengetahuan adalah adanya penghargaan terhadap pengalaman pribadi perempuan

Ekofeminisme berbicara serupa,bentuk tumpeng sebagai simbol penganalogian terhadap seorang Ibu yang merupakan perempuan dari kasta tertinggi seorang perempuan, perilaku kasih sayang dan kepedulian dalam menjaga anak-anaknya, menyeluruh sampai ke bawah. 

Melindungi dan memelihara semua orang terkasih adalah perilakunya untuk melestarikan lingkungan dan budaya. Menyiapakan semua kebutuhan yang paling terperinci hingga yang paling besar, mengurus dan mengasuh anak, mengatur dan menjaga ketahanan pangan dan mengatur keseimbangan kondisi rumah tangga.