Penggunaan diksi “Radikal” sejatinya tidak sebegitu mengerikan sebagaimana yang kita pahami. Dalam dunia akademik misalnya, berpikir secara radikal itu dirasa penting, dengan timbulnya rasa untuk terus bertanya dan bertanya, maka dinamika yang ada didalamnya akan terus hidup yang pada akhirnya bermunculan pemikiran-pemikiran baru.

Hal pertama yang harus kita pahami, bahwa yang namanya suatu paham (isme) tidak akan pernah mati. Mungkin saja partai komunis itu dilarang di Indonesia, akan tetapi tidak menutup kemungkinan anak cucu dari petinggi komunis di Indonesia masih menyimpan dan meyakini betul paham tersebut

Sama halnya dengan tumbuhnya paham radikalisme di Indonesia. Meskipun beberapa oraganisasi kemasyarakatan sudah dibubarkan oleh pemerintah atas dugaan adanya potensi paham radikal tersebut, tidak sedikit dari mereka yang menjadi simpatisan tetap mengimani paham yang ada didalamnya.

Masuknya Paham Radikal (ISIS) di Indonesia 

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi masuknya radikalisme sehingga dengan mudah bisa tumbuh subur di Indonesia. Joseph Chinyong Liow seperti yang dikutip oleh Najamuddin Khairur Rijal (Najamuddin , 2017) menyebutkan setidaknya ada 3 faktor utama yang mempermudah masuknya paham radikal di Indonesia

 Pertama, adalah karena adanya suatu pandangan teologis dan keimanan yang memiliki kesamaan dengan kelompok terorisme (seperti ISIS), sebagian umat muslim beranggapan adanya keterkaitan yang erat antara misi ISIS dengan kepercayaan dalam agama islam bahwa pada akhirnya akan berdiri suatu “khilafah ala minhaj nubuwwah” atau kekhilafahan islam, Hal ini sejalan dengan runtuhnya pemerintahan yang otoriter di jazirah arab

Kedua, ISIS disini yang menyatakan diri sebagai pelopor berdirinya khilafah menyerukan sektarianisme (diskriminasi atau kebencian) terhadap golongan syi’ah, pihak ISIS sendiri beranggapan bahwa kondisi negara di asia tenggara sangat mendukung terhadap politik sektarianisme tersebut. Hal ini dapat terlihat atas pelarangan kelompok syi’ah di malaysia, sementara di Indonesia sendiri keberadaannya tidak diakui.

Ketiga, timbulnya rasa simpati dan perasaan senasib dikalangan umat muslim asia tenggara (khususnya Indonesia dan Malaysia) terhadap umat muslim di Suriah yang kemudian mendorong umat muslim asia tenggara untuk berangakat melakukan jihad atas nama suatu misi kemanusiaan. dan merasa bahwa hal tersebut merupakan panggilan suci agama.

Bergabung Dengan Kelompok Terorisme

Dalam setiap Gerakan propaganda yang selama ini terjadi, tentu yang menjadi faktor utama ialah Brain Wash, mereka akan terus diberi pemahaman yang pada intinya ajaran mereka-lah yang paling benar, dan ajaran diluar itu adalah salah. Dari sinilah awal mula adanya keyakinan bahwa ajaran yang salah tersebut harus diluruskan, meskipun dengan cara kekerasan (seperti pengeboman, pembunuhan, dll)

Target mereka tidak mengenal umur berapa, kelaminnya apa, ataupun dari golongan mana. Dari propaganda tersebut mereka yang didalam hatinya sudah timbul rasa “simpati” sebagaimana dijelaskan diatas, maka mereka akan cenderung untuk mendukung Gerakan radikal tersebut

Tak selesai disitu, Setelah mendapat dukungan mereka terus bergerak, mengajak untuk ikut bergabung didalamnya dan menjadi militansi. Setelah mendapat pelatihan, baru nantinya mereka akan menjadi semacam “militer” yang siap untuk berperang dan siap mati.

Perlindungan Korban

Pertama yang harus kita ketahui ialah apa dan siapa itu “Korban”, pengertiannya kita bisa melihat dalam undang-undang terorisme atau undang-undang perlindungan saksi dan korban, yang pada intinya “korban” itu ialah orang yang mengalami kerugian baik itu secara fisik, mental, maupun ekonomi, yang diakibatkan dari tindak pidana.

Terkait dengan klasifikasi korban, hasil symposium yang diadakan oleh International Network Supporting Victims of Terrorism and Mass Violence (INVICTM) di Sockholm pada tahun 2018 lalu menyimpulkan setidaknya ada 4 klasifikasi korban terorisme.

Pertama ialah korban langsung, golongan pertama ini ialah mereka yang hadir atau berada langsung dilokasi kejadian, atau mereka yang mengalami luka fisik atau yang meninggal dunia

Kedua ialah korban tidak langsung, yakni mereka yang menggantungkan hidupnya kepada korban langsung, seperti istri yang menggantungkan hidupnya kepada suami. Atau orang-orang terdekat dari korban langsung, seperti orang tua, saudara, atau rekan kerja

Ketiga ialah orang-orang yang menjadi penanggap pertama, seperti saksi mata dan penyelidik penegak hukum yang hadir ke lokasi kejadian pasca terjadinya pengeboman

Keempat ialah masyarakat luas, hampir sama dengan klasifikasi korban yang kedua dan ketiga, meski mereka tidak mengalami luka fisik atau tidak meninggal, mereka mengalami ketakutan atau trauma, bahwa tidak menutup kemungkinan dilain waktu mereka juga akan menjadi korban terorisme

Dalam undang-undang terorisme, sebagai salah salah satu bentuk tanggung jawab, ada beberapa hal yang bisa diberikan oleh negara terhadap para korban. Mulai dari bantuan medis, pemulihan mental / psikologis, pemberian santunan kepada keluarga korban (dalam hal korban meninggal dunia), serta pemberian kompensasi

Permasalahan utama yang selama ini terjadi dalam kaitannya dengan mekanisme perlindungan terhadap korban terorisme, ialah adanya maksud terselubung dalam setiap Tindakan yang diambil oleh aparat penegak hukum.

Dalam kasus terorisme misalnya, kepolisian seakan lebih berfokus untuk mencari pelaku dari pada memberikan perlindungan terhadap para korbannya. Mereka merasa seakan menjadi Pahlawan jika berhasil menemukan siapa pelakunya

Dari keempat klasifikasi korban tersebut, tentu korban langsung lah yang menjadi focus utama untuk mendapat perlindungan, akan tetapi negara seakan abai terhadap kategori korban yang kedua, ketiga, dan keempat.

Yang terjadi ialah, mereka cenderung untuk menutup diri dan mencari solusi perlindungan sendiri, dari pada berteriak dan memposisikan diri sebagai korban. Hal inilah yang seharusnya bisa menjadi bahan evaluasi pemerintah dan penegak hukum kedepannya, dalam hal mencegah dan memberantas tindak pidana terorisme