Konflik pemerintah Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) telah meninggalkan banyak sekali cerita bagi seluruh masyarakat Aceh. Terlebih bagi mereka yang tinggal di daearah yang sering menjadi target operasi TNI dan GAM yang di mana mereka secara langsung bersentuhan dengan konflik tersebut.

Pernah menjadi bagian dari peristiwa itu membuat saya mempunyai beberapa memori tentangnya. Maklum, tidak banyak yang saya ingat karena waktu itu saya masih berumur kurang lebih tujuh tahun. Tentu bukan saya saja yang harus merasakan peristiwa pahit tersebut. Banyak sekali anak Aceh lainnya yang bernasib sama seperti saya, bahkan lebih dari yang saya rasakan.

Menjadi bagian dari keluarga yang dianggap separatis adalah sesuatu yang sangat berat di masa itu. Ketika mereka sedang tidak berada di rumah, kami khawatir apakah mereka akan kembali atau tidak. Begitu juga saat anggota TNI/POLRI dengan senjata lengkap mendatangi kediaman kami. Menjadi buah simalakama ketika mereka hendak mencari informasi tentang keberadaan keluarga.

Peureulak adalah suatu kawasan yang menjadi daerah rawan pada masa itu. Peureulak merupakan daerah yang berada Kabupaten Aceh Timur, menjadi rawan karena daerah tersebut dijadikan tempat persembunyian bagi anggota GAM. 

Di daerah inilah semua peristiwa-peristiwa pahit itu muncul, dan kini satu per satu memori tentang itu mulai hilang ditelan waktu. Menjadi penting bagi saya untuk mengabadikannya menjadi tulisan, mengingat peristiwa konflik tersebut merupakan suatu pelajaran yang berharga bagi kita semua.

Di desa tempat saya tinggal kerap terjadi penggerebekan. Hampir semua rumah warga ada digerebek oleh TNI. Namun satu-satunya rumah di desa itu yang tidak pernah digerebek adalah rumah saya. 

Setiap terjadi pemeriksaan, anggota TNI yang melaksanakan tugas tersebut hanya sampai di teras rumah saja. Saya dan keluarga pun tidak mengerti mengapa hal tersebut bisa terjadi.

Mempunyai nama panggilan Dek Gam di waktu yang sudah damai ini adalah sesuatu yang biasa saja. Namun berbeda halnya pada masa konflik, nama Dek Gam adalah sesuatu yang berbahaya. 

Dek (adik) dan Gam (laki-laki) dianggap berbahaya karena ada kata “gam” yang bisa juga diartikan oleh TNI yang bermakna Gerakan Aceh Merdeka. Dari sebab inilah, saat kakak perempuan saya sering memanggil saya dengan panggilan Dek Gam, sering mendapat teguran dari warga desa untuk tidak memanggil dengan nama tersebut.

Kini, empat belas tahun sudah Aceh merasakan damai, di mana anak-anak Aceh sekarang bisa bersekolah dengan aman dan bisa merasakan menjadi anak kecil seutuhnya dengan mempunyai waktu bermain dan waktu bersama keluarga. Berbeda dengan saya dulu, harus libur sekolah kalau ada suara tembakan dan harus segera tiarap saat suara peluru menggema.

Melihat keadaan Aceh saat ini sungguh sangatlah miris. Dengan kucuran dana yang begitu melimpah berupa dana ototomi khusus (otsus), harusnya Aceh sekarang menjadi daerah yang diperhitungkan di tingkat nasional bahkan internasional. Namun fakta yang kita lihat sekarang jauh berbeda dari harapan.

Pemerintah seharusnya bisa memaksimalkan anggaran tersebut untuk membenah segala permasalahan di Aceh, mulai perbaikan infrastruktur, pengentasan kemiskinan, kemajuan pendidikan, hingga mengatasi pelbagai permasalahan sosial yang ada.

Bagi saya, pemerintah Aceh saat ini sedang menyia-nyiakan kesempatan untuk membuat Aceh labih maju dan mandiri ke depannya, mengingat kucuran dana otsus hanya sampai di tahun 2027.

Haruslah disadari oleh pemangku jabatan yang ada di Aceh sekarang bahwa dana otsus tersebut merupakan hasil perjuangan masyarakat Aceh dan pahlawan yang telah syahid. Mengabaikan hasil perjuangan tersebut sama halnya seperti mengkhianati amanah yang telah diberikan kepada Anda.

Sekarang masyarakat Aceh, khususnya pemerintah, masih memiliki kesempatan untuk memaksimalkan lagi anggaran yang ada. Kita masih memiliki delapan tahun lagi masa berlakunya otsus tersebut. Itu pun kalau pemerintah pusat masih mengingat komitmennya.

Kepada generasi Aceh sekarang yang masa kecilnya bernasib sama seperti saya, kalian harus berada di garda paling depan untuk merespons segala permasalahan masyarakat Aceh saat ini.

Untuk menjadi generasi yang tangguh, individu-individu yang ke depannya menjadi pemeran utama bangsa ini haruslah individu yang mengedepankan moralitas. Moral menjadi penting bagi generasi muda mengingat generasi muda sekarang sibuk dengan hal-hal yang hanya menguntungkan dirinya saja.

Ketika moral sudah menjadi bagian penting bagi seseorang, tentu dia tidak akan duduk diam saja ketika melihat orang lain kesusahan.

Membentuk sebuah bangsa yang bermartabat haruslah dengan mempelajari kembali sejarah bangsa itu sendiri. Jangan mempelajari sejarah hanya dengan menghafal waktu, lokasi, dan nama pelaku peristiwa itu saja. 

Dalam mempelajari sebuah sejarah, yang terpenting itu adalah menemukan nilai-nilai dari berbagai peristiwa yang telah dilalui oleh pendahulu kita. Kita dapat menghindari berbagai kesalahan dalam hidup dengan mengetahui kesalahan-kesalahan pendahulu kita.