Halo, perkenalkan nama saya Syarif. Sejak kecil, saya tumbuh bersama dengan kertas. Tidak hanya kertas dalam artian umum, seperti tumbuh bersama buku-buku, lembar ujian, dan struk belanjaan, melainkan tumbuh bersama kegiatan bapak, yang kebetulan seorang seniman kertas. 

Apa itu seniman kertas? Bukan, bukan semacam pengrajin origami (meski yang demikian dapat kita katakan sebagai seniman kertas juga), melainkan seniman rupa, yang menjadikan kertas sebagai proyek kekaryaannya.

Kegiatan bapak tersebut menjadikan tertanam pada benak saya sejak lama, tentang betapa pentingnya arti dari kertas. Ingatan saya masa kecil adalah tentang ini:

Setiap pagi, ada dua orang pekerja datang ke rumah, namanya Mang Lili dan Mang Abuy, yang kegiatannya adalah membuat pulp atau bubur kertas dari bahan-bahan yang seingat saya adalah ini: merang (bekas batang padi), kulit jagung, dan pelepah pisang. Jadi, tiga hal itu menghiasi sejumlah sudut di rumah kami, dengan aroma yang khas.

Bahan-bahan tersebut kemudian dihancurkan dengan blender (diberi sedikit air sebelumnya) sehingga menjadi itu tadi, pulp. Dengan alat cetak saring, kemudian bubur kertas tersebut dicetak di atas papan, dan disimpan di bawah terik matahari agar kering. Setelah kering, jadilah lembaran-lembaran kertas, yang mungkin kita kenal sekarang sebagai “kertas daur ulang”.

Kegiatan tersebut menjadi memori yang terekam cukup lama dan menemani saya dari kecil hingga dewasa. Oleh bapak, kertas-kertas “tidak lazim” tersebut dibuat menjadi dua, produk-produk kerajinan praktis seperti kertas untuk menulis, membungkus, hingga ke amplop dan tali temali, dan satu lagi, menjadi karya seni untuk dipamerkan. Pelan-pelan saya tahu, bapak mempunyai julukan diantara teman-temannya, yaitu seniman kertas.

Filosofi yang Ditanamkan

Sebagaimana anak pada umumnya, tentu, jika bapak sedang berpameran, saya diajak untuk turut serta. Pamerannya memang tentang kertas, dan judul-judulnya agak aneh, seperti misalnya: Ruh Peradaban Kertas, Monumen Kertas, Simfoni Kertas, dan sebagainya. 

Apa artinya? Saya awalnya tidak paham – mungkin sampai sekarang pun belum paham -. Namun berkali-kali diucapkan oleh bapak, tentang renungan panjangnya mengapa ia memilih kertas sebagai medium kekaryaannya:

“Suatu hari, kertas akan hilang dari peradaban. Kertas menjadi tinggal kenangan. Mungkin anak cucu kita hanya akan melihatnya di museum-museum saja. Mungkin mereka yang pernah hidup bersama kertas akan berbicara seperti ini, ‘Dulu, waktu zaman kakek, kertas digunakan untuk..’ Begitulah, karya-karya ini dalam rangka melihat ke depan, tentang bagaimana kelak nasib kertas dalam kehidupan manusia.”

Itu dulu, mungkin beliau mengucapkannya sebelum memasuki tahun 2000. Sekarang memang kita masih menggunakan kertas untuk berbagai macam kegiatan, tapi memang sudah banyak berkurang, seiring dengan perkembangan teknologi digital dan kampanye paperless society yang kian gencar.

Bapak tidak hendak mencegah kematian kertas terjadi. Kematian kertas adalah sesuatu yang niscaya sebagai bagian dari konsekuensi peradaban. Namun lebih pada mengajak kita untuk sejenak merenungkan arti kertas, yang pernah menjadi medium untuk pelbagai hal penting bagi umat manusia.

Mulai dari kitab suci, surat cinta, catatan sekolah, buku harian, buku pemikiran, bungkus makanan, kartu lebaran, perahu-perahuan, burung-burungan, dan banyak lainnya, yang daripadanya lahir banyak cerita, nilai-nilai, dan makna yang tidak bisa disepelekan.

Masa Depan Kertas

Apakah renungan bapak tersebut berdasarkan data, atau hanya perasaan saja? Dalam artikel berjudul In Our Digital World, Does Paper Still Have a Future? (2017), disebutkan bahwa revolusi digital justru malah mendorong pertumbuhan industri kertas. Jadi, apa yang direnungkan sebagai paperless society, jangan-jangan masih sekadar utopia dan masih jauh dari kenyataan. 

Bagian dari artikel tersebut berbunyi seperti ini, “Mungkin kita menggunakan sedikit kertas di kantor dan membeli lebih sedikit koran. Namun seiring dengan semakin pesatnya fenomena belanja online, bagaimanapun, barang-barang yang kita beli di internet harus dikirimkan ke tempat pemesan, dan dibungkus dengan bungkus kertas. Ini adalah salah satu alasan kuat mengapa industri kertas masih akan bertahan.”

Selain itu, meski penggunaan kertas sering dikritik sebagai bentuk ketidakpedulian lingkungan karena itu artinya memanfaatkan pohon dalam jumlah banyak, namun artikel tersebut menyebutkan, bahwa tanpa adanya industri kertas, maka siklus penanaman pohon akan semakin tidak teratur. 

Jadi selama ini, memang penghijauan lingkungan, didorong salah satunya oleh kenyataan bahwa pohon-pohon tersebut masih akan dimanfaatkan oleh industri kertas. Engelbert Schrapp, seorang pakar industri kertas menyebutkan, “Without the paper industry, the environment would look much worse than it is today.” Artinya, tidak ada jaminan bahwa kematian industri kertas akan sama dengan lestarinya pohon-pohon.

Menghubungkan Semuanya

Mang Lili dan Mang Abuy sudah lama tidak bekerja lagi di rumah. Kertas daur ulang, yang dulu masih jarang, sekarang sudah bertebaran dijual di toko-toko buku dan alat tulis. Bapak tidak lagi memproduksi kertas sebagai sebuah kerajinan praktis, melainkan untuk kebutuhan berkesenian saja.

Sekarang yang sedang naik daun adalah generasi milenial, sebagai generasi yang sedari kecil sudah terpapar teknologi digital, dan maka itu, meski hidupnya masih dikelilingi kertas, namun tidak menghargainya sebagaimana generasi sebelumnya. 

Milenial sudah jarang menggunakan kertas sebagai catatan sekolah, surat cinta, kartu lebaran, dan sebagainya, dan menggunakan kertas hanya pada saat-saat tertentu yang sifatnya pelengkap saja.

Artinya, bapak ada benarnya, dan artikel di atas ada benarnya. Bahwa kata si artikel, kertas masih akan ada untuk waktu yang panjang, memang iya, sekarang kertas masih dijual bebas dan digunakan cukup sering. Kita bisa katakan, kematian kertas masih jauh dari kenyataan.

Namun dalam tafsir saya sekarang, bapak melihat kematian tersebut tidak secara harfiah, dalam arti orang sudah tidak menggunakannya lagi. Tapi lebih pada kesadaran dan penghargaan terhadap kertas itu sendiri. 

Kertas sudah “mati”, dalam arti, tidak menjadi hal primer seperti halnya dahulu. Generasi milenial menggunakan kertas iya, tapi tidak seperti generasi baby boomers atau X menggunakan kertas. Generasi milenial menggunakannya, tapi tidak menganggapnya penting dan bernilai.

Sambil memandangi rak buku di rumah, saya merenungkan apakah buku-buku ini kelak akan hilang ditelan peradaban digital dan seluruhnya diganti e-book? Lalu saya mendapat sedikit pencerahan untuk menjawab pertanyaan yang senantiasa menggelayuti itu: 

Oh, buku cetak memberi aura dan citra intelektual yang signifikan, bagi siapapun yang memajangnya di rak. Tapi ratusan gigabyte e-book di dalam hard disk eksternal yang kita punya, tidak memberikan “energi” semacam itu. Manusia masih senang rupa dan rasa, itu sebabnya kertas masih punya aura dan citra.