Titir Rindu Kali Ciliwung

Saat hujan dan mendung seperti sekarang ini
Kau tentu teringat terpaku selalu padaku, Ani
Kala tersaji secangkir kopi dan seporsi soto mi
Lalu kita lahap tandas di dekat Taman Topi

Kau tahu aku mengukir takdir di kota hujan
Rimbun tetes air menggunung di Kali Ciliwung
Mengalir deras menghempas menakutkan
Hingga Jakarta dikepung banjir yang murung

Karena kau tinggal di kota hilir jauh dari hulu
Air meruah tumpah bukan daku kirimkan padamu
Itu titir rindu bulan Januari seperti yang dulu-dulu
Seperti suling dan salung nyanyikan senandung pilu

Cibinong, 18 Januari 2014

Senandung Pucuk Merah

Air hujan deras menyapa
Daun pucuk merah. Tangannya
Memeluk rahmat-Nya. Ketika
Kelam menyergapnya

Air mata menetes
Di rona merah. Pipinya
Ketika "Rain and Tears"
Aphrodites Child memanggilnya

Senandung pucuk merah
Memecah air mata. Berkeping
Bulan tak tampak. Desah
Dara memeluk angin puting

Cibinong, 23 Oktober 2016

Mengembara di Republik Curhat

Aku mengembara di Republik Curhat. Setiap saat
Di setiap sudut. Kulihat orang-orang penat. Kulihat
Orang-orang berkerut. Sebagian tertawa memikat
Sebagian lagi menangis. Merengut. Sekarat
Mereka mencoba meraih matahari pagi. Tapi
Cuma badai tergapai. Mereka mencoba mematri
Rembulan. Tapi cuma kabut gelap menghampiri

Tuhan, setiap kata tergurat di pelepah waktu
Lalu lalang berselancar. Namun cuma debu
Menghujani. Setiap wajah menatap kelu
Dijerat angan-angan berkelebat. Mungkin rindu
Tapi sendu melipat asa. Kata dan wajah menari
Di panggung mimpi. Aroma laknat dan bau kesturi
Aku mengembara di Republik Curhat. Hari ini

Cibinong, 10 April 2016

Daun Teh, Langit Biru, Gunung Rindu

Jika ada tanaman yang selalu kukecap hingga sari-sari syahdunya meluapmengalir di dalam darahku engkaulah daun teh itu

ika ada langit biru menebar benih cinta hingga rona kasihnya membara mengharu di dalam hatiku engkaulah langit biru itu

jika ada gunung rindu memanggil-manggil hingga lava gairahnya menggigilmenggema di dalam jantungku engkaulah gunung rindu itu

Cibinong, 10 Oktober 2015

Lidahmu dan Nero

/1/

Baca Juga: Sajak Rindu

Ketika kau menatapku dengan foto selfie,  juga wajah ayu atau cantik itu barangkali mata elang tak berkedip walau cuma sekali, degup jantungku jadi kencang berlari. Karena kau seolah tepat di depanku berdiri.

/2/

Ketika kilatan lidah indahmu itu kau julurkan dipeluk bibir merah merekah nan menawan, aku teringat Nero si penjaga rumah mewah kawan.  Anjing herder bermata tajam bertaring menakutkan menjulurkan lidah kelu dan galau memabukkan.

/3/

Wahai, mungkinkah tajamnya matahari siang menjadi neraka atau setitik air kau harap menjelang. Atau mungkinkah itu sebuah isyarat menantang dengan sabar kau menungguku agar segera datang masuki kamar rahasiamu hingga malam mengguncang.

Jakarta, 14 Desember 2015

Kita Cuma Pejalan Gagap

Detik menggamit menit
Menit menikam jam

Jam meniti hari
Hari menelan bulan

Bulan merimbun tahun
Tahun menuntun ngungun

Tak usah terkesiap
Kita cuma pejalan gagap
Di siang pengap di malam gelap

Susuri hari meski letih merintih
Kadang tawa merona ganti bersilih

Tahun-tahun melaju berlalu
Kadang kita ingin abadi bersatu

Cibinong, 7 Oktober 2017

Tulislah Aku Sebagai Sajak

Tulislah aku sebagai sajak
Hingga lekukku yang tak tampak. Sekalipun
Ketika hujan pagi merimbun. Jangan merana
Karena aku diciptakan untukmu
Memang sederhana
Terimalah apa adanya

Maka jangan kau sembunyikan cintamu
Untukku. Hanya untukku. Selalu
Hingga jala waktu
Yang ditebar terangkat
Pada saatnya nanti. Pasti

Cibinong, 5 Maret 2016

Andaikan Aku Masinis

Andaikan aku masinis dan kau gerbongnya
Akan kubawa kau menyusuri rel sepenuh jiwa
Kita susuri rel berliku mendaki dan menuruni
Menembus kabut dan gelap malam yang sunyi

Rel memanjang membentang di depan mata
Bantalan rel adalah kau dan aku yang setia
Saling memeluk menapak hari meski kelabu
Lalu kubawa kau melaju ke stasiun rindu

Lokomotif dan gerbong tak terpisahkan
Masinis dan penumpang saling membutuhkan
Kau dan aku senantiasa menapaki rel kehidupan
Perlu ketabahan menghadapi ujian dan cobaan

Batu kerikil di sepanjang rel kehidupan ini
Adalah jeda sementara penuh warna-warni
Paku mengikat di sepanjang rel kehidupan
Adalah kekuatan memberikan ketabahan

Kita tak tahu di stasiun mana akan berhenti
Karena hidup ini selalu penuh teka-teki
Di stasiun terdekat atau stasiun terjauh
Kita tak tahu di mana harus berlabuh

Andaikan aku masinis dan kau gerbongnya
Akan kubawa kau menyusuri rel sepenuh jiwa

Kau dan aku mesti senantiasa bergandengan
Susuri rel kehidupan dengan penuh kehangatan

Cibinong, 27 Desember 2016

Kotak Hitam Pesawat Cinta

Pesawat cinta tinggal landas tembus angkasa
terbang bersama mimpi dan asa
pilot, kopilot, teknisi, dan penumpang nanar
arungi samudera luas menghampar
pesawat terbang di atas belantara semesta
membawa tawa, senyum, juga derita
tak tahu ke mana pesawat akan mendarat
karena diliputi teka-teki berkarat
pesawat cinta tinggal landas tembus angkasa
terbang bersama mimpi dan asa.

Pesawat cinta mendengung murung di balik awan
menjelajah gundah bersama hati yang rawan
dipeluk rindu yang dingin di angkasa raya
berkelana di antara dunia nyata dan maya
dibelai sansai yang terjal menggumpal
pesawat melanglang tembus seribu aral
di atas daratan dan lautan yang rimbun
pesawat mengerang diliputi ngungun
pesawat cinta mendengung murung di balik awan
menjelajah gundah bersama hati yang rawan

Pesawat cinta menukik tajam ke lautan misteri
berdebum, berkeping, tak berbentuk lagi
kotak hitam teronggok diam, lalu terdengar
bersuara lirih, lamat-lamat berujar
halo, sayang, mama, pak, bagaimana, aduh,
tolong, dengarkan, lho, terus, jatuh 

terus, jatuh, lho, halo, pak, bagaimana
aduh, dengarkan, tolong, sayang, mama
pesawat cinta menukik tajam ke lautan misteri
berdebum, berkeping, tak berbentuk lagi.

Cibinong, 6 April 2014

Senja Menengok Fajar

Senja itu hampir. Fajar itu mengalir. Senja itu dekat. Fajar itu cepat. Senja itu diam. Fajar itu geram. Senja itu tua merona. Fajar itu balita memesona. Oh, senja memanggilku pulang. Oh, fajar menyuruhku bertualang.

Jakarta, 11 November 2015

Selalu Saja Begitu

Siang dipeluk malam Malam dijemput pagi Selalu saja begitu Dari waktu ke waktu

Bunga-bunga tafakur Buah-buah bersyukur Akar-akar berdoa lirih Batang-batang bertasbih

Daun-daun membaca firman-Mu Dahan-dahan menyebut asma-Mu Ranting-ranting mengeja nama-Mu Pohon-pohon melafalkan kebesaran-Mu

Ketika datang takdirnya luruh dibelai bumi Runtuh digoncang angin pancaroba Rebah ditikam para serangga Terpuruk karena ditebang atau digergaji 

Meski begitu Bungamu menyejukkan Buahmu menghidupkan Akarmu menguatkan Meski begitu Batangmu mengukuhkan Daun-daunmu meneduhkan Dahan dan rantingmu menyatukan

Siang dipeluk malam Malam dijemput pagi Selalu saja begitu Dari waktu ke waktu

Cibinong, 12 Oktober 2015

Muara

Tuhan, Engkau muara segala status luka.

Jakarta,1 Februari 2016