Saat awal kali tulisan saya terbit di salah satu media digital, Terminal Mojok, saya merasa gembira luar biasa. Saya benar-benar tidak menyangka kalau tulisan saya itu pada akhirnya laku, setelah berkali-kali mencoba mengirim tulisan, tentunya. 

Sebagai tanda kebahagiaan saya ini, saya pun membagi tulisan saya pada status Whatsapp saya, supaya lebih banyak orang yang akan tahu dan membaca karya pertama saya ini.

Beberapa waktu kemudian, saya terus mengirim tulisan, yang terkadang dimuat dan tidak jarang dikembalikan. Adanya fluktuasi karya saya yang diterbitkan dan ditolak ini kian membuat saya penasaran untuk mengirimkan beberapa karya-karya tulis berikutnya.

Hingga pada akhirnya, saya bertemu dengan Qureta, yang prosesnya telah saya ceritakan pada artikel saya sebelumnya, "Menulis dengan Sepenuh Hati". Dan sepertinya, tulisan-tulisan saya banyak yang berjodoh dengan Qureta, sehingga ia dapat dimuat. 

Dalam hal ini, saya tidak bosan-bosannya mengucapkan terima kasih pada redaktur ataupun editornya, yang masih memberikan kesempatan pada karya-karya saya ini untuk dapat diterbitkan.

Awal kali naskah karya saya terbit, saya bahagia bukan kepalang. Bukan karena alasan saya akan menjadi penulis yang terkenal atau akan mendapatkan uang, namun karena alasan yang lebih sederhana. Yakni, ternyata saya masih menjadi manusia. Saya bersyukur masih menjadi manusia waras yang kata-katanya dapat dipahami oleh orang lain.

Dan sebab kewarasan itulah, maka saya harus mensyukurinya dengan terus menulis. Mungkin rada mirip dengan tagline-nya Mbak Dini, "Menulis agar tetap waras", pada salah satu media.

Namun, pada saat ini, saya sudah mulai jarang membagi-bagi tulisan saya pada media sosial. Sebab, saya menganggap bahwa dengan mempublikasikan karya saya pada media digital ini saja, saya kira sudah cukup. Apalagi di media digital ini sudah barang tentu, ia memiliki komunitas yang tidak sedikit jumlahnya. Seperti di Qureta ini, yang konon anggotanya mencapai 200.000 orang.

Saya tidak peduli jika pada akhirnya di media digital ini nanti hanya akan ada segelintir orang yang akan membaca tulisan saya. Pun sebaliknya, saya juga tidak merasa melayang jika banyak khalayak yang akan membacanya. Saya b' aja, biasa-biasa saja.

Dan setelah menulis beberapa artikel yang alhamdulillah diterbitkan ini, saya tiba-tiba saja berkesimpulan bahwa tulisan itu mungkin memiliki jodoh pembacanya sendiri. Sebuah jodoh yang dapat saling bertemu, tanpa kita harus memasarkannya secara gencar-gencaran. 

Sebagai buktinya, ada diantara karya saya yang telah masuk kategori sebagai artikel terfavorit, tanpa saya upayakan sebelumnya dengan membagikannya pada media sosial atau mengakali rating-nya dengan meng-click tulisannya beberapa kali. Saya menganggap barangkali tulisan itu telah berjodoh dengan pembacanya sendiri.

Dan kebalikannya, seperti yang saya sampaikan di awal tadi, saya pun pernah bersemangat membagikan beberapa tulisan saya. Namun ternyata, pembaca (views)-nya juga tidak terlalu banyak. Dari sini, saya mulai berkesimpulan mungkin saja tulisan ini memiliki penggemarnya sendiri yang tak mungkin saya dekati dengan sekadar membagi tulisan saja.

Barangkali, juga ada diantara penulis yang berusaha memasarkan karya tulisnya dengan memasang judul yang bombastis atau clickbait. Mempublikasikan karyanya pada media sosial seperti yang saya lakukan di awal-awal tadi. Akan tetapi, hal yang tak dapat disangkal adalah karya tulis itu rupanya memiliki pangsa pasar dan penggemarnya sendiri.

Dua hal inilah yang mungkin harus diperhatikan oleh para penulis manakala menginginkan karyanya bisa laku di pasaran. Mereka harus memahami selera pembaca. Dengan demikian, karya tulis mereka pun akan selalu bersesuaian dengan dinamika selera pembaca karya mereka.

Kita bisa saja menyebut para penulis yang mampu menyesuaikan diri ini sebagai penulis yang kreatif, inovatif, dan sensitif terhadap selera pembaca yang menikmati karya mereka.

Dan perihal itu silakan saja mereka lakukan asalkan mereka benar-benar mampu untuk memenuhinya. Dan yang terpenting lagi, mereka tidak merasa terbebani dengan tuntutan selera pembaca.

Sebab, apalah nikmatnya menulis jika kemudian ia justru akan menjadi beban? Keadaan yang seharusnya bisa digunakan oleh penulis untuk mengudar rasanya justru berubah menjadi pembelenggunya.

Jika alasannya adalah materi dan popularitas, maka akan sampai kapan hal itu akan memuaskan mereka? Tidakkah mereka menyadari bahwa semua hal itu akan melewati masa kejayaannya?

Dimana setelah melewati masa-masa kejayaan itu, masing-masing individu, kelompok, atau apa saja harus menyiapkan dirinya untuk menyongsong fase yang kian meredup. 

Dapat dibayangkan sendiri, bagaimana konsekuensinya jika tujuan utama sebuah tulisan adalah materi dan popularitas. Hambarnya kehidupan seseorang sebab popularitas itu telah mencapai batas kejayaannya.

Selain itu, ada juga diantara penulis yang berlainan orientasi dengan tipe penulis pertama tadi. Yakni mereka yang membiarkan karya tulisnya itu mengembara begitu saja untuk mencari pembacanya sendiri. 

Mereka tidak memasarkan tulisannya itu, namun membiarkan tulisan itu dipasarkan sendiri oleh para pembacanya. Seperti melalui aktivitas berbagi (share) di media sosial. Sehingga yang mereka lakukan hanyalah sekadar menulis dan mempublikaskan karya saja.

Bagi para penulis yang memiliki orientasi ini, mereka memposisikan perkara pemasaran pada pihak lain yang akan mengurusinya. Bagi mereka, perkara popularitas biarlah ia berkembang dengan sendirinya secara alamiah. Jika tulisan itu laku, ya, alhamdulillah. Dan manakala kurang laku, ya, tidak masalah.

Sebab, laku tidaknya sebuah tulisan, bisa jadi ia tergantung selera masing-masing orang, yang tidak dapat dipaksakan.

Para penulis yang berpedoman pada orientasi ini akan cenderung lebih mudah, tenang, dan santuy dalam berkarya. Sebab mereka tidak terbebani oleh belenggu materi dan popularitas yang sifatnya nisbi dan tidak kekal.