2 bulan lalu · 299 view · 3 menit baca · Sosok 82343_37821.jpg
Instagram.com/mantupresiden/

Tulisan Rindu untuk Kiai

Mutiara Madura bernama Helmy

Dua hari lalu, 23 Maret, merupakan milad daripada K.H Helmy Abdul Mubin, LC. Ya, seorang ulama karismatik, pimpinan tempat saya dulu menempa ilmu di sebuah pesantren di pelosok barat Bogor, Ummul Quro Al Islami. 

Namun, tanggal lahir yang saya sebutkan di atas bukanlah tanggal ‘asli’ kelahiran beliau. Pak kiai sering memberi tahu saat Apel Senin bahwa tanggal tersebut merupakan ‘formalitas’ saja. Karena orang tua beliau tidak terbiasa menulis tanggal lahir anaknya. Maka jadilah demikian tanggal 23 Maret sebagai identitas penduduk.

Namun, kali ini saya pribadi bukan ingin menulis profil beliau. Sudah banyak yang mengetahui profil beliau, dan di situs resmi pesantren boleh jadi ada. Di tulisan kali ini, penulis hendak membagikan beberapa kisah yang penulis rasakan saat dulu mondok di UQI (Ummul Quro Al Islami).

Mudir (demikian, santri memanggil beliau; ddiambil dari bahasa Arab, artinya direktur) selalu memberikan petuah, hingga kisah hidup pribadinya saat Apel Senin. Perlu diketahui, Apel Senin bagi para santri UQI merupakan harapan untuk liburan (demikian pun saya, haha). 

Kembali ke topik, kadang-kadang kisah yang diceritakan memang berulang. Namun, tak pernah sedikit pun kami santrinya merasa bosan. Selama enam tahun penulis menjadi nyantri di sana, terhitung dari tahun 2009 - 2015, cerita beliau menjadi kisah yang selalu menjadi peneduh bagi kami.

Banyak kisah hidup beliau yang selalu beliau ceritakan, salah satunya adalah bagaimana beliau bercerita tentang berdirinya pesantren. Bermodal niat dan juga keberanian, beliau berkeliling dari satu pintu, lalu ke pintu lainnya. 


Dan, saat ada yang menyumbangkan sedikit rezekinya, beliau (pak kiai) memberikan mereka ‘ijazah akhirat’. Sebuah tanda simbolik bahwa mereka turut menjadi donatur pembangunan pesantren. 

Namun, kisah hidup beliau yang satu ini selalu berakhir dengan tangisan. Iya, bukan kami para santri yang menangis, namun pak kiai sendirilah yang menangis. 

Betapa ini menunjukkan bahwa pak kiai adalah manusia biasa. Manusia merupakan makhluk pejuang. Keberanian, tangisan, dan keringat hanyalah teman bagi dirinya untuk mencapai impian masing-masing. Itu yang saya dapatkan dari kisah di atas.

Lain waktu, kisah yang selalu beliau ceritakan juga kadang menggelitik. Bayangkan, bagaimana pak kiai tidak segan berbicara soal cinta pertamanya! Duh, gemas, bukan? 

Beliau, dalam ceritanya ini, sering bicara: “Saya rindu bertemu cinta pertama saya, tapi susah sekali untuk berjumpa. Padahal, saudara-saudara di kampung sudah saya tawari. Jika bisa menemukan cinta pertama saya, maka ganjarannya adalah hadiah.” Cukup menarik, bukan?

Sungguh, kisah tentang cinta pertama ini menggelitik saya yang masihlah tumbuh menjadi remaja. Kisah yang tidak pernah saya akan lupakan bahwa seorang kiai pun adalah manusia yang memiliki rasa rindu. Tengok saja Gus Mus, bukankah beliau seorang kiai sekaligus budayawan? Yang mana, sajaknya hidup dalam kalimat-kalimat yang berisi pesan nan indah, penuh dengan makna cinta. 

Oh iya, lucunya saat bercerita tentang cinta pertama ini, beliau selalu meminta kami merahasiakan dari ibu nyai, istri beliau. Duh, tambah gemas.

Juga, momen ketika mengikuti kuliah ashar di penghujung sore setiap hari Minggu. Semua santri sangatlah antusias. Kapan lagi bercengkrama, dan mendengarkan petuah langsung dari mudir. Begitulah menurut kami sebagai santri beliau. 


Dalam kuliah ashar ini, dulu saat masih mengenyam pendidikan di UQI, tempatnya menggunakan masjid di wilayah atas, kini masjid tersebut sudah masuk ke wilayah komplek santri putri. Semenjak tahun 2014 akhir, kalau tidak salah, kuliah ashar mulai dipindahkan ke masjid baru yang terletak di wilayah komplek santri putra. 

Dalam kuliah ashar, sebenarnya lebih terlihat mengaji kitab namun bersifat sima’i. Karena, beliau membawakan kitab klasik, dan kami santri menyimak dengan mendengarkan. 

Kitab-kitab klasik yang beliau bawa dalam kuliah ashar banyak, dan berbagai macam. Mulai dari yang membahas fikih, tasawuf, dan lainnya. Namun, dalam kuliah ashar, tak hanya mengaji kitab saja, terkadang beliau menyelipkan satu-dua kisah yang menggelitik. Tentu, kisah itu supaya kami tidak merasa cepat bosan dalam mengaji.

Pak kiai, saya memang tidak mengenal beliau secara personal. Namun, sisi karismatik beliau dan dedikasi beliau dalam membangun pesantren membuat saya selalu merasa kagum dengan beliau. 

Satu hal, pak kiai tidak pernah mengaku sebagai ‘pemilik’ pesantren. Beliau hanya menganggap pesantren adalah amanah di dunia yang kini sedang diemban beliau.

Banyak lagi kisah-kisah beliau, namun kiranya cukup sampai di sini saja. Dalam tulisan penguap rindu ini, penulis hanya ingin menyampaikan bahwa semoga doa yang baik selalu terpanjatkan untuk beliau. Semoga beliau selalu diberikan kesehatan dan umur yang panjang serta amal baik yang selalu terjaga. 

Ngaturaken sugeng tanggap warsa. Mugio panjenengan pinaringan wilujeng selamet lan lumebering rejeki kaliyan pinaringan kasihatan dening ingkang murbeng dumadi, Gusti Allah.


Artikel Terkait