Membaca beberapa tulisan di media sosial mengenai bagaimana menjadi penulis yang menghasilkan tulisan (karya) yang baik. Selain mendapatkan bacaan tentang saran dan masukan yang membangkitkan gairah menulis untuk penulis pemula. Saya juga menemukan tulisan dari beberapa penulis senior yang dalam pembacaan saya, tulisan mereka itu seperti menggambarkan arogansi. Seakan-akan mereka ingin menunjukan bahwa mereka adalah pemegang kendali (otoritas) dalam hal bagaimana menulis yang baik; dan juga menarik.

Kasarnya, bagi mereka menulis yang baik itu harus begini dan begitu, penulis yang baik itu harus seperti mereka atau  sesuai selera/penilaian mereka.

Mereka seperti laiknya hakim, yang bertugas, menilai, memutuskan, bagaimana bentuk tulisan yang baik.

Itu terasa aneh, jikalau menulis itu harus sesuai dengan selera para penulis senior yang merasa mempunyai otoritas. Siapa yang menjamin bahwa tulisan dari penulis senior itu diterima semua pembaca?  Setiap pembaca tentu punya selera masing-masing dalam menikmati tulisan/bacaan. Ya, karena selera itu sangat dipengaruhi oleh subjektivitas seseorang, baik itu penulis maupun pembaca.

Bukannya pesimis, penulis pemula akan enggan mulai menulis apabila membaca tulisan para penulis senior yang menginginkan tulisan yang baik haruslah seperti ini dan itu, atau minimal seperti tulisan mereka.

Tak bisa dipungkiri hal semacam itu membuat kekhawatiran dari penulis pemula. Bagaimana harus memulai menulis? Bagaimana agar tulisannya seperti penulis senior? Ragu menuangkan ide dalam tulisan, dll. Beragam kekhawatiran itu akhirnya membentuk sebuah penjara pikiran. Penjara berupa bayang-bayang “tulisan harus seperti/ sebagus penulis senior”

Bagi penulis pemula, seperti saya, akan lebih senang jika membaca tulisan yang di mana pada tulisan tersebut menumbuhkan gairah untuk menulis.

Seperti tulisan yang memotivasi, misalnya: kalau mau menulis, ya, menulis saja. Lupakan semua aturan. Labrak semua konvensi tentang cara menulis. Mulailah menulis secara bebas. Jangan terlalu memikirkan bagus dan tak bagusnya sebuah tulisan, atau tulisan harus sama/mirip dengan penulis senior. Tuliskan apa saja yang terpikirkan atau yang tiba-tiba muncul dalam benak.  Biarkan ide dalam kepala  mengalir bebas lewat tulisan.

Tulisan yang buruk dapat diperbaiki, yang sulit itu tak  pernah menulis sama sekali.

Tentu, teori-teori tentang menulis, bagaimana kaidah-kaidah dalam penulisan, bagaimana menaja kalimat yang efektif, itu penting untuk dipelajari. Akan tetapi ketika terpaku hanya pada teori, dan hanya terus memikirkan bagaimana menghasilkan tulisan apik seperti halnya para maestro dalam bidang menulis, kita takakan  bisa menulis sepatah katapun.

Maka dari itu mulailah menulis, semakin sering menulis, lamban laun kita akan menyadari bahwa dalam tulisan kita ada perubahan/peningkatan. Kita pun akan menyadari bagaimana penempatan tanda baca yang benar, bagaimana konjungsi antar kalimat, konjungsi intra kalimat; dan halnya yang berhubungan dengan kaidah penulis.

Kalau kata Tan Malaka, terbentur, terbentur, terbentuk!  Kalau dalam tafsiran saya berkaitan dengan menulis : Tulis, tulis, lama-lama akan terbentuk!

***

Syahdan, tatkala membaca tulisan Eka Kurniawan (penulis buku “Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas”) tentang “Karakter Datar dan Karakter Bulat” tulisan tersebut, bagaikan angin segar untuk penulis pemula.

Eka kurniawan menulis bahwa, ia tak percaya ada aturan tunggal untuk menyampaikan gagasan dalam bentuk tertulis, sebagaimana ia tak percaya ada otoritas tunggal yang menentukan makna hasil tulisan. Ia percaya beragam kemungkinan bisa dilakukan, yang penting penulisnya nyaman. 

Ia melanjutkan “Setiap penulis harus menemukan cara mereka sendiri untuk menulis; demikian pula, sangat penting bagi pembaca memiliki kemerdekaan untuk bebas membaca dengan cara mereka. Otoritas (siapa pun yang teriak-teriak “harus begini, harus begitu”) sudah saatnya istirahat di lubang kakus”.

Sebagai penulis pemula, mantapkan dan yakinkan diri sendiri bahwa saya bisa menulis dan akan menjadi penulis yang masyur.  Lalu bagaimana caranya memulai menulis? Ya, dengan cara menulis.  Sederhana mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kita ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri. Jangan takut salah dalam menulis, sebab penulis  hebat, tak ujuk-ujuk menjadi penulis handal, mereka pun pernah menjadi penulis pemula yang pernah melakukan kesalahan.  

Kalau kata Stephen King : "Untuk menjadi penulis, yang dibutuhkan hanyalah kemauan keras untuk menulis dan kemudian mempraktikkannya, orang yang hanya mempunyai kemauan untuk menulis, namun tidak pernah melakukannya, maka ia sama saja dengan bermimpi untuk memiliki mobil, tanpa ada usaha dan kerja keras untuk memilikinya"

Akhir kata, saya teringat tulisan Oriana Fallaci (penulis dan jurnalis terkenal dari Italia) yang membuat saya termenung. Ia mengatakan “Aku menulis buku, agar saat aku mati ada bagian diriku yang tetap hidup

Bagaimana dengan kita, “Apakah kita pun bisa seperti Oriana? Menulis buku untuk mengabadikan sebagian diri, atau kita akhirnya hanya seperti busa, muncul sekali lalu hilang tanpa bekas.