Wordsmith
2 bulan lalu · 119 view · 3 min baca menit baca · Cerpen 40673_17086.jpg

Tulang Rusukku

Aku menatap truk dari kejauhan. Hujan mengguyur kota tempatku mengadu nasib. Aku berteduh di emperan Indomaret gang menuju rumah kontrakanku. Tiba-tiba aku mendengar suara Ibuku.

Aku terkejut, ternyata bukan Ibuku. Air mataku semakin berlinang dan tak terbendung. Sengaja aku menutupi wajahku dengan masker penutup wajah agar orang di sekitarku tidak mengetahui kalau aku sedang mengeluarkan hujan dari pelupuk mataku.

Truk itu semakin mendekat, aku berniat mengejarnya dan berhenti di depannya. Tapi aku mendengar suara Ibuku lagi. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Saat aku menoleh ke kanan dan ke kiri, truk itu melaju begitu saja di depanku. 

Ternyata suara Ibuku menggagalkan harapanku untuk segera kembali ke tanah yang pasti tidak akan menolakku. Aku ingin marah kepada Ibu, tapi Ibu pasti bingung jika aku marah. Karena dia pasti mengatakan bahwa aku harus sabar.

Sejak aku memulai kehidupan di kota, kota yang banyak orang-orang dambakan itu, aku semakin sadar bahwa mereka semua membenciku. Sejak lama aku mengabaikan apa yang aku rasakan tetapi semakin hari suara teriakan dari hati jahat mereka semakin berdenging di telingaku. Mereka menyesal membawaku ke kota ini. 

Tapi mereka tidak tahu bahwa aku jauh lebih menyesal menerima ajakan mereka untuk membawaku ke kota ini. Mereka telah membuat waktuku sia-sia dengan tangisan. Aku berani mengatakan bahwa mereka orang jahat dan lebih jahat dari teroris.

Mengapa mereka aku katakan jahat? Dalam senyuman manis mereka, ada niat busuk ingin mengambi bagian tubuhku yaitu tulang rusukku. Buat apa? Memang benar aku masih bisa hidup tanpa tulang rusuk, tetapi pasti sepanjang hidupku aku akan merasa sakit dan ada yang kurang bukan? 

Padahal mereka tahu bahwa tulang rusuk itu adalah penting untuk melindungi organ tubuh bagian dalam. Tetapi mereka ingin mengambilnya dariku dan mereka merasa lebih berhak atas tulang rusukku dibandingkan Tuhan.

Sebenarnya tulang rusuk itu akan lepas jika aku lepaskan. Tapi ada yang aneh dengan tulang rusukku. Akhir-akhir ini selalu sakit dan sangat menggerogoti tubuhku. Aku berjuang untuk selalu melakukan apa saja agar tulang rusukku kembali tidak sakit. Tetapi sepertinya semakin hari semakin menggerogoti seluruh tubuhku. 

Dalam diamku aku berpikir bahwa ini benar-benar aneh. Tulang rusuk ini membuatku dilema. Tetapi aku ingat pesan Ibuku bahwa aku harus sabar. Seandainya ada kata-kata di atas sabar, Ibuku pasti mengatakan kata-kata itu.


Bagiku sabar memang harus aku anut dalam kehidupanku. Terlebih ini masalah tulang rusukku. Kata Ibu, apapun yang di luar tulang rusukku tidak bisa mempengaruhi kehidupanku. Aku harus berjuang untuk mengembalikan kembali kondisi tulang rusukku.

Aku tahu mengapa tulang rusukku sakit-sakitan. Suatu hari kerabat yang tidak terlalu dekat denganku mengatakan bahwa saat aku tidur, ada yang membenturkan benda tajam ke tulang rusukku. Saat kerabat itu mengatakan hal tersebut, aku anggap itu bohongan. Karena dia juga selalu menjadi biang gosip yang sering meracuni pikiranku. 

Tapi ke esokan harinya, kerabat itu mengatakan bahwa ada yang membenturkan benda tajam ketulang rusukku. Aku abaikan kembali apa yang dia ucapkan, sehingga suatu hari aku merasakan sakit yang sangat. Aku akhirnya percaya apa yang dia katakan, tetapi hanya untuk hal itu, tidak yang lain.

Penyesalahn selalu datang terlambat. Tulang rusukku sudah rusak dan kata dokter hanya mujizat yang bisa mengembalikan kondisinya. Sebagai anak Tuhan, aku belajar lagi untuk lebih percaya bahwa memang di zaman edan ini masih ada mujizat seperti di zaman nabi-nabi. 

Terkadang hilang harapanku bahwa tulang rusukku akan pulih dan tidak sakit, karena aku belum juga melihat mujizat itu nyata. Dan seperti biasanya aku akan mendengar suara Ibuku yang megatakan bahwa aku harus sabar.

Ingin aku minta tanggung jawab yang telah membuat tulang rusukku rapuh, tetapi suara hatiku berkata bahwa itu sia-sia. Mereka itu jahat dan pembohong. Orang yang angkuh dan suka senang diatas penderitaan orang lain. 

Aku malah khawatir, ketika aku meminta tanggung jawab, di situ mereka akan ambil paksa tulang rusukku. Karena mereka sepertinya tidak mengenal Tuhan, mereka hanya mengenal bahwa uang adalah Tuhan. Aku tidak akan meminta pertanggung jawaban mereka, aku akan mengobati tulang rusukku, belahan jiwaku.

Artikel Terkait