Pagi 17 Agustus 2018 lalu, bertepatan dengan peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73, saya mengirimkan pesan melalui WhatsApp ke Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk keperluan riset akademik. Namun, pesan yang saya kirimkan baru dibalas siang, beberapa jam setelahnya.

Saya memakluminya. Sebagai Gubernur Jawa Tengah, ia pasti sibuk. Apalagi hari itu ia harus memimpin upacara peringatan Proklamasi di Lapangan Pancasila, Simpang Lima Kota Semarang. Pun hari itu bertepatan pula dengan hari Jumat, waktu baginya pula untuk salat di masjid.

"Kita ketemu jam 15.30 di Puri Gedeh," balasnya pada pukul 14.39 WIB.

"Siap, Mas!" jawab saya beberapa detik setelahnya.

Saya dan beberapa teman yang kala itu nongkrong pada salah satu kedai kopi di Semarang langsung bergerak cepat. Memesan taksi online menuju Puri Gedeh, yang merupakan Rumah Dinas Gubernur Jawa Tengah.

Kami tiba pukul 15.35 WIB. Ia sudah menunggu di ruang yang katanya kerap ia gunakan untuk menerima tamu.

"Kamu terlambat 5 menit, Mas!" sindirnya sesaat mempersilakan duduk.

Diskusi soal penelitian dimulai, berlangsung dan berakhir sekitar satu setengah jam setelahnya. Di ujung dialog, ia menawarkan diskusi lanjutan tapi dengan syarat jangan datang terlambat.

Di situ saya menyadari bahwa seorang Ganjar Pranowo sangat ketat soal waktu. Meminjam istilahnya di zaman sekarang, tindakan korupsi itu dimulai dari cara kita tidak menepati waktu saat janjian.

Selama berdiskusi, ia tak sekalipun bicara tentang Pilpres 2024. Bekali-kali saya memancingnya, ia tidak sekalipun menggubris. Jangankan saya, bahkan seorang Najwa Shihab pun mungkin akan sulit mendapat jawaban yang tegas soal itu.

Ia hanya berucap bahwa dirinya ingin fokus menjalankan visi, misi, dan program yang dijanjikannya kala maju menjadi calon dan terpilih menjadi Gubernur Jawa Tengah di Pilgub Jateng 2018 lalu.

Di situ saya paham pula, soal pilihan politik seorang Ganjar Pranowo tidak pernah bersikap abu-abu. Pilihannya hitam atau putih dan tidak suka berandai-andai. Fokus menjalankan amanah untuk memimpin provinsi yang jumlahnya hampir 35 juta jiwa.

"Mboten Korupsi, Mboten Ngapusi" ---Tidak Korupsi, Tidak Membohongi.

Terlepas dari semua narasi di pikirannya, arus politik mulai mengalir deras menuju dinamika politik menuju Pilpres 2024. Persepsi masyarakat sudah lama terbangun. Namanya pun kadung masuk dalam survei yang dilakukan lembaga-lembaga politik.

Terbaru dari Lembaga Indo Barometer yang melakukan survei 9-15 Januari 2020 terhadap 1.200 responden di 34 Provinsi. Dari 22 nama yang ada di daftar bakal capres, nama Ganjar Pranowo berada di urutan ke-4, setelah Prabowo, Anies Baswedan, dan Sandiaga Uno.

Pemilu 2024 memang masih lama. Konstelasi politik pun masih berubah-ubah, diikuti oleh isu, dinamika, dan kemunculan nama-nama tokoh politik baru. Sebab, siapa yang mengira seorang Wali Kota Solo Joko Widodo akan menjadi presiden di 2010 lalu, tepat 4 tahun sebelum Pemilu 2014.

Pada bacaan saya, Ganjar tidak sedang mempersiapkan diri menjadi Capres atau merasa pede sedang dipersiapkan oleh partai-partai politik pengusungnya. Semua tergantung momentum politik. Tak ada yang bisa pula membatasi nasib dan garis tangan politik seseorang.

Pada titik ini, tak sedikit orang memahami bahwa politik adalah ruang ketidakpastian kecuali niatan bijak dan bajik dalam amanah yang benar-benar diberikan bukan sekadar obsesi. Sebab, obsesi kekuasaan itu ibarat kopi dalam cermin; sekeras apa pun tak akan pernah bisa dinikmati.

Sampai di sini Ganjar paham. Seperti namanya Ganjar, yang berarti hadiah atas perbuatan baik. Sifat itu pula yang sering dipanggungkannya. Punggungnya tidak terlalu keras untuk sekadar menunduk untuk bersalaman, mendengar, dan berdialog dengan warganya.

Pun sebagai seorang yang punya jabatan, tak sedikit orang sombong terhadap kuasa yang dimiliki. Soal sifat itu, Ganjar selalu mawas diri. Ia sosok pendengar yang baik, blusukan dan merespon cepat atas pelbagai persoalan.

Saya memiliki padangan secara pribadi, utamanya dalam menjaga momentum jalannya visi-misi Indonesia Maju. Bahwa di tahun 2024 adalah masa lepas landas Jokowi yang purnatugas sebagai presiden. Pun Ganjar Pranowo bisa menjadi salah satu alternatif pilihan bagi masyarakat dalam menjaga momentum itu.

Alasannya, selain memiliki persamaan soal visi, misi, dan kosep kepemimpinan transformatif dengan Jokowi, Ganjar adalah pemimpin yang berintegritas.

Pun selama 3 tahun berturut sejak 2017-2019 di bawah kepemimpinannya, Provinsi Jawa Tengah menerima penghargaan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai lembaga dengan Tingkat Kepatuhan Pelaporan Terbaik. Artinya, tagline "Mboten Korupsi" ala Ganjar bukan sekadar bahasa retorika saja, tapi benar-benar dijalankan.

Pun kala banyak politisi wara-wiri mencuri perhatian dengan isu-isu populis di media, Ganjar memilih jalan untuk mempromosikan produk makanan-minuman UMKM di wilayah yang dipimpinnya. Di saat yang sama pula, kala politik nasional memanas dalam debat motor dan perahu menuju 2024, di akhir pekan Ganjar dan istrinya Atikoh kerap mengayuh sepeda dan berlari.

Menunjukkan bahwa hidup harus dijalankan secara sederhana, apa adanya, dan seimbang. Ganjar adalah bahasa yang seimbang tentang politik yang santun, bersih, berkarisma, dan berwibawa.

 Kecuali memang ada yang benar-benar mengganggu prinsip dan keyakinannya tentang toleransi dan keragaman. Punggungnya terlalu keras untuk menunduk pada siapa pun. Ia pasti lawan.