Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia menyatakan bahwa di era revolusi industri 4.0 ini, akan ada 57 % pekerjaan yang akan tergerus atau hilang. Artinya lebih dari separuh pekerjaan yang ada saat ini, akan hilang dan digantikan oleh Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan ini sudah semakin lazim dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebetulnya tanpa kita sadari, telepon genggan yang kita gunakan sehari-hari sudah disematkan kecerdasan buatan. Seperti penyematan fitur pencarian di Google melalui suara atau pencarian lokasi di Google Maps.

Tetapi ada kecerdasan buatan yang tidak bisa diterima oleh akal sehat dan budaya kita. Contohnya dalam kehidupan rumah tangga, peran istripun telah digantikan oleh robot. Binaragawan asal Kazahkstan, Yuri Tolochko, akhir Desember 2020, telah menikahi kekasihnya yang merupakan sebuah robot seks.

Menurut saya, urusan biologis itu tidak semata seks saja. Tetapi juga urusan hati dan cinta. Lha ini kok diserahkan kepada robot. Bagi masyarakat kita tentu saja menjadi hal yang aneh dan tidak lazim. Tetapi entah suatu saat nanti bisa menjadi sesuatu yang lazim di Indonesia.

Contoh lain kecerdasan buatan adalah mobil pintar yang dirancang bisa mengemudi sendiriBeberapa perusahaan sudah mengembangkan mobil pintar seperti Tesla. Cara kerjanya, mobil tesla ini memiliki sensor yang berfungsi untuk mendeteksi lingkungan sekitar mobil, di setiap arah, dan pada semua kecepatan. 

Tetapi biarlah revolusi industri era 4.0 ini menggilas jaman dan beberapa pekerjaan. Akan tetapi profesi tukang tambal ban tidak akan digantikan oleh siapapun, baik robot maupun alat yang canggih apapun di Indonesia. Saya yakin akan tetap bertahan di era teknologi digital sekarang ini.

Mengapa bisa demikian? Masalahnya bukan karena kita tidak bisa menciptakan, akan tetapi siapa yang mau berinvestasi dengan mengucurkan uang untuk riset dan menciptakan robot penambal ban. Istilah mBantulnya itu ora cucuk atau tidak sepadan dengan yang didapatkan.

Lha wong ditempat saya saja, upah untuk menambal ban motor hanya Rp 8.000, untuk tambal mobil masih dikisaran Rp. 15.000. Pertanyaannya, apakah ada orang yang mau menginvestasikan ratusan bahkan miliaran rupiah hanya menciptakan robot penambal ban. Hitungan matematikanya sangat tidak masuk.

Tukang tambal ini uniknya hanya ada di Indonesia saja. Mungkin saja ada juga di beberapa tempat di luar negeri sana. Akan tetapi di Indonesia, banyak sekali tukang tambal ban yang buka praktek dari Pulau Sabang sampai Pulau Papua. Di tempat saya saja, satu ruas jalan pasti ada tukang tambal bahkan beberapa.

Hal ini karena didukung budaya masyarakat kita yang owel atau enggan mengganti ban dalam ketika bocor. Karena dirasa akan lebih hemat diongkos dengan menambal ban daripada mengganti dengan ban dalam baru.

Saya pernah kebanan atau ban bocor di sebelah selatan Stasiun Lempuyangan Kota Yogyakarta. Saya mendorong motor beberapa ratus meter, akhirnya ketemu dengan tukang tambal ban. Di ruas jalan itu saya lihat ada beberapa tukang tambal yang praktek.

Kemudian saya angsurkan motor kepada bapak tukang tambal ban. Sejurus kemudian ban dalam dicek. Beberapa saat setelah dicek, Bapak tukang tambal ban menyampaikan kalau sudah ada 4 (empat) titik bekas tambalan. Mending diganti saja dengan ban dalam baru. Begitu saran Bapak tukang tambal ban.

Alih-alih mengiyakan Bapak tukang tambal ban, lidah ini segera bergerak cepat meminta kepada bapak tukang tambal ban untuk ditambal saja. Sifat nggak mau rugi dan ngirit ini sepertinya begitu melekat dan berkelindan di otak dan hati saya. Juga karena alasan tipisnya isi dompet yang saya bawa saat itu. 

Saya kira hampir semua masyarakat kita, kalau ditanya Bapak tukang tambal ban, mau ditambal atau diganti ban dalam, pasti akan menjawab sama dengan saya. Kecuali kalau yang bocor itu pas katup ban atau pentil ban. Jika itu terjadi, mau tidak mau kita akan mengiyakan saran dari tukang tambal ban.

Sebetulnya profesi tukang tambal ban cukup menjanjikan di Indonesia. Pertengahan Juli 2019, ada berita viral, tukang tambal ban di Sidoarjo bisa naik haji bersama istrinya. Beliau menabung setiap hari mulai Rp 20 ribu sampai Rp 50 ribu. Enam tahun berselang mendaftar haji dan tahun 2019 kemarin berangkat.

Profesi ini tidak hanya dijalani oleh laki-laki. DI beberapa tempat ada perempuan yang menjalani profesi sebagai tukang tambal ban. Selain membuka lapak dipinggir jalan sambil menyediakan bensin eceran, profesi ini juga bisa dijalankan secara keliling dan membuka jasa tambal ban panggilan. 

Saya meyakini kalau tukang tambal ban akan terus ada dan terus survive di Indonesia. Hal ini karena populasi kendaraan bermotor di Indonesia sangat tinggi dan mobiitas masyarakat juga tinggi. Berdasarkan data dari Motorcyclesdata, Indonesia menempati peringkat kelima jumlah kepemilikan motor di Asia.

Walaupun sekarang ini sedang tren penggunaan teknologi tinggi yang mengimplementasikan kecerdasan buatan. Tetapi tidak bagi tukang tambal ban. Kamu masih aman. Dan bagi kamu yang masih memegang erat budaya owel dan nggak mau rugi, jangan takut, tukang tambal ban pasti akan tetap ada.