Tukang Sayur
2 bulan lalu · 120 view · 3 min baca menit baca · Lingkungan 48185_97192.jpg

Tukang Sayur dan Alam

Sudah hampir setengah tahun saya kerja di tempat sayur-mayur. Ada peristiwa unik yang menurut saya perlu adanya refleksi sejenak tentang kehidupan ciptaan Tuhan selain manusia, khususnya alam.

Di era sekarang, perhatian manusia akan alam, khususnya makhluk-makhluk hijau, kurang begitu mendapat perhatian secara khusus. Hal ini bisa dikarenakan masifnya ideologi kekuasaan melalui dunia industri dan juga teknologi, sehingga abai akan makhluk hijau yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Setiap kali bos saya mampir di warung sayur, ia selalu mengelus-elus beberapa item, khususnya tanaman yang masih belum laku terjual. Hampir setiap hari bos saya selalu menasihati saya untuk mengajak bicara para makhluk hijau itu. Kalau sudah diacak oleh customer, dirapikan dan ditata ulang, disiram kalau mau layu, dan disortir mana yang masih perlu disimpan, dipajang, dan mana yang perlu dibuang.

Untuk nasihat mengajak bicara tanaman, agaknya saya tidak seemosional itu, bahkan bisa dikata garinglah komunikasi antara saya dan makhluk hijau itu. 

Sedikit demi sedikit, saya sadar akan sesuatu ketika saya mencoba berkomunikasi bersama makhluk hijau dengan cara mengelus-elus dan mencoba mengajak bicara mereka. Semacam ada stimulus yang masuk dalam diri saya untuk saling mengasihi satu sama lain.


“Wahai tumbuhan, kamu adalah perisai penjaga alam ini. Kamu selalu tumbuh dan terus tumbuh. Adakalanya bentukmu segar menawan, adakalanya biasa saja, bahkan pucat pasi dan hampir mati. Namun kamu masih saja ada untuk memenuhi nafsu manusia yang cukup serakah dalam menjalani hidup ini. Aku tahu bahwa kamu adalah utusan Tuhan sebagai penyeimbang antara alam dan juga manusia,” kataku sambil memegang daun dari tumbuhan kangkung.

Sambil menepuk punggungku, bosku berkata, “Itu adalah falsafah orang kampung dalam memaknai alam.” 

Menurut mereka, segala makhluk hidup bisa diajak bicara oleh manusia bahkan bisa memberikan respons. Dalam kitab suci Alquran, dinyatakan bahwa segala apa yang hidup di dunia maupun di langit selalu bertasbih kepada-Nya, sayangnya manusia tidak memahami tasbih mereka (QS. Al-Isra’ [17]: 44).

Kita tentu tidak asing dengan penelitian orang Jepang yang bernama Dr. Masaru Emoto yang meneliti perilaku air. Apabila dibacakan kalimat baik, maka baiklah bentuk molekul air itu. Sebaliknya, bila dibacakan kalimat buruk, bentuk daripada molekul air berubah menjadi buruk.

Air yang merupakan salah satu aset alam terbesar di dunia ini memberikan contoh adanya respons bagi sesama makhluk hidup. Hal ini mengantarkan penulis pada pemahaman umat beragama yang menjadikan air sebagai obat mujarab bila disuguhi kalimat-kalimat sakral, terutama disisipi ayat-ayat suci dalam kitab mereka.

Air diperlukan bagi siapa pun makhluk hidup: tumbuhan, hewan, dan juga manusia. Dari air, mereka semua masih bisa bertahan hidup dan terus tumbuh. Sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Anbiya’ [21] ayat 30; “...dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air...”


Air bisa menjadi bencana apabila mereka tidak menghormatinya. Membuang sampah tanpa aturan dengan menumpahkannya di sungai sangatlah tidak manusiawi. Padahal air merupakan simbol kehidupan di dunia ini. Sangat disayangkan apabila kita sebagai manusia menjadikan air apa pun bentuknya menjadi ladang pembuangan yang dapat merusak lingkungan.

Berita banjir yang akhir-akhir ini menerpa sebagian kota – khususnya Jakarta yang hampir tidak pernah absen – bisa dipastikan mereka tidak punya kedekatan khusus dengan alam. Karena di sana sudah tertata rapi robot-robot industri yang sesak akan polusi.

Hal ini bisa dipahami bahwa Jakarta termasuk kota yang memiliki upah tinggi dalam hal pekerjaan. Berdesak-desakan orang-orang merantau ke Jakarta kebanyakan bertujuan untuk kemapanan hidupnya. Jalan selalu macet, hotel dan apartemen melambung tinggi, dan beberapa industri yang semuanya memberikan sumbangsih dalam pencemaran lingkungan.

Air dan juga tumbuhan-tumbuhan merupakan makhluk hidup yang selalu terpancar simbol kehidupan alam. Tanpa air dan tumbuhan, betapa gersangnya kehidupan ini. Bahkan dalam agama tertentu, air dan juga tumbuh-tumbuhan dijadikan simbol surga. QS Al-Baqarah [2]: 25 menggambarkan surga yang mengalir di bawah sungai dan juga buah-buahan diperuntukkan oleh umat yang beruntung masuk surga.

Dari gambaran tersebut, pertanyaan pertama penulis terhadap alam, khususnya air dan makhluk hijau, adalah bagaimana ia memaknai hidup di dunia ini? Apabila ia menjawab hanya bertugas menjalankan perintah Tuhan sebagai penyeimbang alam, lalu apa agama mereka? Jika ia menjawab tidak memiliki agama, mengapa mereka selalu mengindahkan alam?


Apa yang mereka percayai sehingga bisa bertahan dan terus tumbuh? Mungkin alam akan menjawab:

“Akan ada saatnya kami menghancurkan dunia ini. Kami tidak menyalahkan siapa pun, karena kami hanya menjalankan perintah dari Sang Maha Pencipta alam. Manusia yang diutus ke dunia ini sebagai khalifah, tidaklah berarti bagi kami. Ketika manusia menghancurkan kami, kami juga turut andil menghancurkan tempat tinggal mereka. Karena kami hanya menjadi penyeimbang alam.”

Artikel Terkait