Pagi ini, saya mengantar anak saya ke tukang potong rambut. Saya biasa mengajak mereka untuk potong rambut pada saat rambut mereka telah mulai menutupi telinga. Terkadang, tanpa saya minta pun justru mereka sendirilah yang memintanya.

Seperti kasus yang terjadi pada pagi ini. Awalnya, saya hanya berencana untuk memotongkan rambut si kakak saja. Namun, entah bagaimana mulanya. Tiba-tiba saja, si adik nyelonong naik ke kursi, minta dicukur kayak si kakak. Yah. Mau bagaimana lagi. Saya pun mau tidak mau harus menurutinya.

Untuk persoalan potong memotong rambut ini, saya sebenarnya tidak memiliki langganan khusus, sehingga saya bebas memotong rambut saya dan kedua anak saya ke mana saja. Biasanya untuk hal ini, saya punya satu pertimbangan, yakni asalkan tidak antre. Atau, jika kami harus terpaksa mengantre, setidaknya antreannya tidak terlalu banyak. Saya tidak ingin membuang-buang waktu untuk hal ini.

Dan konsekuensinya, saya biasanya harus berputar-putar untuk mencari tempat potong rambut yang sepi. Bagi saya itu tidak masalah, daripada harus mengantre. Lumayanlah, anggap saja sambil jalan-jalan. Barulah, kalau tidak ada satupun tempat yang kosong, maka saya akan memutuskan untuk memilih tempat yang paling sepi dari sekian pilihan yang ada. Saya memilih jalan sunyi, eh, tempat sepi sebagai pelanggan tukang cukur.

Di daerah tempat tinggal saya yang termasuk daerah urban ini memiliki keistimewaan tarif potong rambut yang relatif terjangkau. Kisarannya adalah mulai Rp5.000 hingga Rp9.000. Sebegitu murahnya, hingga terkadang saya memberikan uang kembaliannya yang Rp1.000 atau Rp2.000 itu pada tukang cukurnya.

Entah kenapa, sewaktu saya mendatangi tukang potong rambut, saya selalu mendapatkan sensasi kenyamanan tersendiri. Mulai dari kenyamanan saat sisir mereka membelai kepala saya, merasakan sensasi mesin pemotong yang menderu pada rambut saya, hingga pijitan mereka yang sangat bertenaga pada bahu saya.

Saat memotong, biasanya tukang potong rambut akan menyelinginya dengan bercerita dan sesekali melempar tanya pada saya. Meskipun, hal ini mungkin dapat dianggap basa basi, namun ajaibnya, mereka tidak ada satu pun yang sampai menyentuh pada ruang-ruang privasi saya.

Saya menganggap kemampuan mereka ini sebagai keterampilan tersendiri. Sebuah kemampuan yang mungkin lahir begitu saja atau lahir karena proses yang panjang melalui latihan-latihan selama melayani pelanggan mereka. Lebih dari itu, saya menganggap hal itu sebagai nilai tambah (value added), di samping standard jasa cukur mereka.

Secara tidak langsung, saya menganggap mereka sebagai ajang curhat yang tepat. Silahkan mencurhatkan apa saja pada mereka, jika Anda mau. Dan, jika Anda sedang tidak ingin curhat, maka merekalah yang akan siap bercerita. Saya merasa seakan hal itu adalah jurus jitu mereka untuk meraih hati pelanggan.

Setidaknya, setelah keluar dari tempat cukur ini, maka akan ada dua masalah yang menjadi makin ringan. Yakni, beban rambut di kepala dan beban pikiran.

Saya sebenarnya bisa saja membeli alat cukur sendiri untuk memotongi rambut saya.  Akan tetapi, yang jelas, saya tidak akan mendapatkan sensasi kenikmatan yang luar biasa seperti halnya yang saya dapatkan ketika saya mendatangi tukang cukur rambut itu.

Untuk alasan itulah, maka saya cenderung mengurungkan niat saya untuk membeli alat pemotong rambut, agar saya terus mendapatkan sensasi kenikmatan semacam itu.

Selain itu, hal ini akan membuka peluang bagi saya untuk mengamalkan apa yang pernah disampaikan oleh Gus Baha' pada salah satu pengajiannya.

Suatu ketika, Gus Baha' pernah berpesan, "Berbelanjalah pada tetanggamu meskipun kamu tidak terlalu membutuhkannya. Sebab, hal itu akan mendatangkan dua kebahagiaan bagi mereka. Pertama, mereka merasa bahagia karena dagangannya laku. Kedua, mereka juga senang sebab mendapatkan untung".

Beliau juga menambahkan, "Hal itu—dengan membeli pada tetangga meskipun tidak begitu butuh—akan lebih menjaga martabat mereka dibandingkan memberi sedekah secara langsung, yang mungkin, bagi mereka yang menerimanya akan merasa malu. Oleh sebab itulah, berbelanja ke tetangga ini juga termasuk sedekah".

Namun, hal ini bukan berarti dengan memberi secara langsung itu tidak baik. Keduanya sama-sama baik selama kita mampu menjaga perasaan orang yang menerimanya.

Kembali ke bahasan tukang cukur itu lagi. Dengan tetap berlangganan ke tukang cukur, apalagi memberikan uang kembaliannya pada mereka, saya kira hal ini akan mendatangkan kebahagiaan yang luar biasa bagi mereka.

Biarlah, jika mungkin ada yang mengatai saya ini riya' atau kurang ikhlas. Dalam angan saya, bukankah sebagian kebaikan itu harus ditampakkan agar dapat menjadi teladan bagi pihak lain.

Dan, dalam hal ini saya tidak meminta siapa saja untuk meneladani saya yang hanya sebagai orang saleh amatiran ini. Akan tetapi, saya hanya menyarankan untuk merenungi pesan dari Gus Baha' yang menurut saya amatlah bijak.

Dan pada akhirnya, karena bapak tukang cukur sudah hampir selesai memotong rambut anak saya, maka saya harus menyudahi tulisan ini. Sebab saya harus segera membayar ongkos cukur pada beliau. Mudah-mudahan uang saya tidak tertinggal di rumah.