Film pendek yang sedang viral itu mengisahkan tentang perjalanan rombongan ibu-ibu kampung dalam rangka menjenguk Bu Lurah di rumah sakit. Selama perjalanan menggunakan truk, tidak afdhol rasanya kalau para ibu tidak ngrumpi dan bergosip ria, bukan?

Kebetulan semua adegan bergosip ini diperankan oleh ibu-ibu. Yang menjadi menarik adalah kenyinyiran Bu Tejo kepada Dian, si kembang desa idaman. Tetapi yang lebih menarik lagi bagi saya adalah adegan nyinyirnya Bu Tejo diperankan dengan memakai jilbab. Bu Tejo seorang muslimah!

Film Tilik bisa menjadi potret atas kebiasaan buruk kita. Menggosip atau menggunjing. Ya, suatu hal yang sering kita lakukan tanpa sadar dan rasa bersalah, karena telah terbiasa lalu membudaya. Bila tidak sesuai dengan kenyataannya, maka termasuk fitnah yang merupakan perbuatan dosa dan dilarang dalam agama.

Orang yang beragama secara normatif akan mengikuti nasihat kebaikan dari agamanya. Islam, contohnya, melarang gosip karena dapat membahayakan dan merugikan orang lain. Lalu, apakah Film Tilik ingin menampilkan sosok muslimah pemakai jilbab yang abai atas nasehat agamanya?

Tulisan ini akan memaparkan realitas jilbab dan para pemakainya. Di antaranya berisi sejarah singkat awal mula jilbab dikenal masyarakat dan pandangan saya mengenai fungsi jilbab melihat dari perspektif para pemakainya. Tujuannya jelas, agar kita tidak terjebak pada stigma “lambe turah” untuk para muslimah dengan jilbabnya.

Sejarah Jilbab

Ternyata nun jauh sebelum kedatangan Islam, jilbab sudah ada dan dipakai para wanita dalam peradaban Yunani dan Romawi. Peradaban silam tersebut mewajibkan jilbab bagi kaum wanita. Hal ini bertujuan untuk menghormati dan memuliakannya, sehingga nilai dan norma-norma sosial dan agama mereka tidak runtuh.

Gereja-gereja terdahulu dan biarawati-biarawati yang berkerudung memakai kebaya panjang menutupi seluruh tubuhnya. Walaupun gaya jilbabnya berbeda dengan pemakaian saat ini, jilbab juga digunakan oleh para wanita Yahudi untuk menutupi kepala mereka.

Murtadha Muttahari dalam bukunya, Wanita dan Hijab, mengatakan bahwa bila seorang wanita (kelompok Yahudi) melanggar syariat Talmud, maka suami boleh menceraikannya tanpa membayar mahar padanya. Hal yang termasuk melanggar syariat Talmud antara lain keluar tanpa mengenakan jilbab.

Berarti, budaya memakai jilbab sudah ada sejak pra Islam dan bukan merupakan warisan Islam. Walaupun demikian, Islam melestarikan budaya yang baik ini dengan memerintahkan agar wanita menutup auratnya dengan berjilbab.

Di Nusantara sendiri, sejarah menyebutkan bahwa jilbab pertama kali dipakai oleh muslimah bangsawan asal Makassar, Sulawesi Selatan pada abad ke-17. Dalam perkembangannya, jilbab menjadi ikon untuk pakaian muslimah. Walaupun realitasnya banyak pula muslimah yang belum memakai jilbab.

Alasan Memakai Jilbab

Seorang antropolog dari Mesir, Saba Mahmod menyatakan bahwa alasan muslimah memakai jilbab karena identitas agama dan ekspresi kesalehan seseorang. Artinya, dengan memakai jilbab seorang muslimah percaya bahwa dirinya lebih saleh daripada mereka yang memutuskan untuk tidak menggunakannya.

Alasan ekspresi kesalehan itulah yang menimbulkan adanya citra dan penilaian tersendiri di beberapa kalangan masyarakat. Bahwa wanita berjilbab adalah wanita yang menjunjung etika dan adab sesuai syariat. Wanita berjilbab dinilai anggun dan baik perilaku serta tutur katanya.

Sayangnya bila realitas tidak sesuai harapan, tentu menimbulkan beberapa pertanyaan bernada “pakai jilbab kok gitu?”. Hal yang kemudian menjadi kurang bijak adalah apabila jilbab di-kambing hitam-kan atas semua perbuatan yang melanggar etika dari para pemakainya.

Fungsi Jilbab

Menurut penulis, fungsi jilbab tidak lepas dari niat para pemakainya. Berikut beberapa alasan muslimah dalam memakai jilbab:

1. Tradisi Keagamaan

Tidak mengherankan apabila ada tetangga yang sehari-harinya tidak memakai jilbab. Namun, ia memakainya saat ada acara tahlilan kampung, atau acara pengajian akbar saja. Hal ini dikarenakan fungsi jilbab sebatas kain yang dipakai untuk tradisi keagamaan. Sehingga, ia akan memakai jilbab saat menghadiri pengajian, tahlilan orang meninggal ataupun ziarah kubur.  

2. Fashion style

Ada muslimah yang sering berganti-ganti model jilbab dengan alasan gaya ataupun kenyamanan. Tak pelak jilbab sudah menjadi tren berbusana di kalangan muslimah. Bahkan tren peningkatan pemakaian jilbab menjadi peluang bisnis yang menggiurkan.

Para perajin jilbab berlomba-lomba untuk memproduksi jilbab modern. Hal ini karena jilbab modern memiliki gaya yang simpel dan nyaman untuk digunakan sehari-hari. Buktinya, salah satu produsen jilbab asal Jepara, Jawa Tengah mengaku kebanjiran pesanan jilbab instan. Penjualannya meningkat sekitar 78% terutama pada saat awal Ramadhan.

3. Aturan

Apabila ada muslimah yang memakai jilbab karena tuntutan pekerjaan, lingkungan ataupun agama, jilbab difungsikan sebagai aturan. Dia memakainya karena ingin menaati aturan dan takut akan sanksi yang diterima. Bisa jadi, dia hanya memakainya tanpa mengetahui esensi perintah pemakaian jilbab.

4. Identitas muslimah

Inilah fungsi jilbab yang paling tinggi, sebagai identitas muslimah. Pada tingkatan ini, para pemakainya merupakan sosok yang terus-menerus berbenah demi merepresentasikan nilai-nilai ajaran dan misi dari agamanya. Nilai ajarannya adalah nilai tentang kebaikan dan misinya adalah kedamaian bagi seluruh mahluk di alam semesta.

Untuk mewujudkan kedamaian, pemakainya harus memberi rasa aman kepada orang lain baik melalui lisan maupun perbuatan. Terutama lisan, agamanya melarang bergosip dan menyebarkan hoax. Sebaliknya menyuruh mereka agar memeriksa kebenaran kabar apa pun sebelum disebarluaskan.

Fenomena Bu Tejo bergosip ria belum mencerminkan muslimah yang pandai menjaga lisannya dari menyakiti hati orang lain. Bergosip adalah kebiasaan buruk yang merugikan orang lain. Diperlukan kesadaran diri untuk mengubahnya. Sehingga kita tidak perlu anti melihat muslimah berjilbab, karena jilbab tergantung pada para pemakainya.

Demikianlah, bila saya melihat keterkaitan antara perbuatan Bu Tejo dan kawan-kawannya dengan jilbab yang dipakainya, itu menunjukkan bahwa jilbab belum difungsikan pada tingkat yang paling tinggi sebagai identitas muslimah sejati. Bisa jadi, jilbab hanya difungsikan sebatas gaya berpakaian ataupun tradisi keagamaan saja.