2 tahun lalu · 173 view · 6 menit baca · Cerpen vassily_kandinsky_1913_-_composition_6.jpg
"Kau akan dipotong menjadi tujuh puluh tiga bagian, tujuh dan tiga! Tuhan menyenangi angka ganjil, dan angka ganjil yang paling disukai-Nya adalah tujuh dan tiga!"

Tujuh Puluh Tiga Tubuh Fulan

            Fulan terbangun terkejut dalam kalut malam itu karena sebuah mimpi buruk. Tidak sepatutnya seorang pendakwah seperti dirinya bermimpi yang bukan-bukan. Namun jika mimpi adalah sebuah takdir yang juga diatur oleh Tuhan, bukankah Tuhan menakdirkannya untuk berpikiran aneh?

            Dalam mimpinya itu, ia bermimpi bahwa ada seseorang yang mengejarnya. Ia berusaha lari sekencang-kencangnya, namun ia tetap dapat ditangkap oleh orang yang tak jelas wajahnya itu. Ia lalu mengeluarkan sebuah golok besar dan mulai memotong tangan dan kaki Fulan; masing-masing tangan dan kakinya, baik kanan maupun kiri, dipotong menjadi empat belas bagian.

Dalam mimpinya, Fulan sudah kabur pandangannya karena rasa sakit dan darahnya yang terus mengucur deras dari tubuhnya. Lalu tanpa aba-aba, orang itu langsung memotong kepalanya. Hilang sudah kesadaran Fulan ketika itu, namun masih bisa ia lihat orang itu memotong badannya menjadi tujuh belas bagian. Secara keseluruhan, orang itu sudah memotongnya menjadi tujuh puluh tiga potongan.

            Pagi harinya Fulan menceritakan mimpi itu kepada istrinya, dan seperti apa yang sudah ia sangka, sang istri hanya menepis kisahnya dengan suara cemas.

            “Mas Fulan tidak lupa berdoa kan?” tanyanya.

            “Ya tidaklah! Masa sudah segini umurku masih diingatkan doa sebelum tidur?” jawab Fulan dengan sedikit kesal.

            “Ah, iya. Maaf, aku hanya kaget mendengar Mas bermimpi seperti itu. Mas adalah seseorang yang sudah diberi mukjizat oleh Tuhan sejak masih belia. Mas sudah diberikan nikmat yang luar biasa. Tidak mungkin rasanya jika mimpimu bermakna sesuatu yang buruk. Mungkin Mas hanya lelah.”

            Fulan hanya terdiam. Ia sendiri tidak tahu mengapa Tuhan memilihnya untuk sebuah tanggung jawab besar yang dikatakan istrinya sebagai mukjizat itu. Ia masih ingat kisah ibunya dulu bahwa ia lahir tanpa ayah, membuat orang-orang sempat heboh. Sang ibu lalu mengatakan bahwa sebenarnya ia sudah hamil ketika berpindah ke kampung ini. Namun kehebohan tidak berhenti hingga disitu.

Fulan sudah bisa mengaji dengan tartil dan indah pada umur satu tahun, padahal bicara pun ia belum bisa. Pada umur sepuluh tahun, tiga kali sudah ia khatamkan kitab suci. Maka sejak umur dua belas tahun hingga dua puluh lima tahun kini, ia sudah mengemban tanggung jawab sebagai seorang pendakwah.

            Semua berlangsung begitu cepat bagi Fulan. Ketika ia membuka kitab suci pertama kali dahulu, yang ia ingat hanyalah ketika itu ia seakan sedang membaca buku cerita, dan melafazkannya dengan bahasanya sendiri. Ketika ia membaca kisah-kisah sejarah agama dan hadits, ia merasa sedang membaca kisahnya sendiri dan merasa dekat dengan semua itu. Maka dalam sekejap, ia sudah diberi beban sebagai panutan di kampung tempat ia tinggal.

            Tanggung jawabnya yang berat mungkin melelahkan pikirannya, entahlah. Terkadang, ia hanya ingin menjadi seseorang yang biasa-biasa saja. Namun tentu saja, tidak baik menolak mukjizat Tuhan. Ini adalah nikmat, juga tanggung jawab. Jika ia berhasil melewatinya, maka surgalah balasannya.

***

            “Apa, kamu mimpi dipotong sampai jadi tujuh puluh tiga potongan?”

            “Iya, begitulah. Aku jadi iri samamu, Yud. Nggak perlu merasakan hal-hal yang aneh seperti ini.”

            Fulan memutuskan untuk menceritakan mimpinya itu kepada kawan baiknya, Yudha, ketika setelah Solat Dhuha. Sebagai pendakwah, Fulan juga masih perlu bergaul dengan orang-orang sebayanya. Namun begitulah, anak muda kini hanya menyibukkan diri dengan lawan jenis dan hura-hura mereka. Hanya Yudha, anak seorang tukang kayu, yang masih matang dan memiliki pemikiran luas untuk seorang pemuda dua puluhan.

            “Kalau masalah makna mimpimu, coba ditanyakan kepada kakek sesepuh saja. Selain dirimu, dia adalah salah satu orang yang paling luas pikirannya di kampung ini.”

            “Ah, tapi istriku bilang mimpi itu tidak bermakna apa-apa, kok!”

            “Tapi kamu ragu kan, Lan? Sebaiknya, kita meminta pendapat orang lain supaya tidak ragu. Nanti bisa kita menentukan apa yang benar untuk diri kita.”

            Sang sesepuh, tidak ada orang yang tidak mengenalnya di kampung ini. Orang yang katanya berumur sudah hampir seabad itu dikatakan sebagai penduduk pertama di kampung ini, dan luas ilmunya. Maka, Fulan dan Yudha langsung bergegas menuju rumah sang sesepuh untuk mendapatkan satu atau dua wejangan darinya tentang mimpi Fulan.

            Di luar dugaan Fulan, sang sesepuh malah menganggapnya suatu kebaikan. Setelah ia meneliti Fulan mulai dari atas kepala hingga ujung jempol kakinya, ia tepekur sebentar dan berdoa-doa. Tasbih terus ia gerakkan dengan jari-jarinya. Setelah selesai tepekur, matanya tiba-tiba melotot dengan sebuah binar bahagia. Ia lalu mengucapkan kepada Fulan tentang kabar baik yang ia terima setelah tepekur itu.

            “Itu berarti pertanda baik, Fulan!” ujarnya.

            “Pertanda baik? Bagaimana pula itu?” tanya Fulan kaget.

            “Ini seperti kisah Nabi Ismail yang akan dikorbankan oleh ayahnya! Kau akan dikorbankan dan itu akan menjadi penyerahan terbesarmu untuk Tuhan! Kau akan dipotong menjadi tujuh puluh tiga bagian, tujuh dan tiga! Tuhan menyenangi angka ganjil, dan angka ganjil yang paling disukai-Nya adalah tujuh dan tiga! Kau akan dipotong bukan untuk apa-apa, tapi untuk persembahan kepada Tuhan, seperti Nabi Ismail!”

            “Be-berarti… saya benar-benar akan dipotong?”

            “Ya, benar itu. Kurasa begitulah.”

            “Lalu saya akan mati?”

            “Mungkin. Aku juga tidak tahu. Mungkin juga kau akan diganti menjadi seekor kambing ketika kau dipotong, seperti Nabi Ismail. Hahaha!”

            Fulan merasa sedikit geram dengan ucapan itu. Dalam perasaannya sudah mantap olehnya bahwa kakek tua itu agak tidak waras. Tanpa basa-basi lagi, Fulan mengucapkan salam dan langsung melangkah keluar rumah sang sesepuh dengan diikuti Yudha yang kebingungan. Panggilan sang sesepuh tidak mereka hiraukan.

            “Demi Allah, Yud. Aku rasa dia sudah sedikit kacau pikirannya,” ujar Fulan.

            “Lalu, bagaimana sekarang?” tanya Yudha.

            “Mungkin aku bisa tanya Pak Kepala Kampung. Beliau arif, bijaksana, dan lebih masuk akal pemikirannya. Aku sering berdiskusi kepadanya tentang materi-materi dakwah yang akan kuucapkan, dan sebenarnya beliau lebih luas pemikirannya dariku.”

            Maka, dua pemuda itu pun bergegas menuju rumah Pak Kepala Kampung. Ia adalah seorang pria separuh baya yang dari wajahnya saja sudah terlihat bahwa ia adalah seseorang yang telah mengenyam pendidikan sebaik-baiknya. Memang, dari seluruh penduduk kampung ini, ia adalah satu-satunya pemegang gelar S2 di bidang pendidikan Islam. Tidak aneh jika Fulan menganggap bahwa ia adalah orang yang tepat untuk diajak berdiskusi.

            Namun sayang, jawaban Pak Kepala Kampung tidaklah yang seperti ia sangka. Pria itu berpikir sebentar, lalu masuk ke dalam ruangannya, dan setelah lama berada di dalamnya ia keluar dengan ekspresi yang terlihat agak bingung.

            “Sesungguhnya mimpi memang dijadikan Tuhan sebagai pesan untuk orang-orang tertentu. Terutama untuk orang sepertimu, mimpi-mimpi itu memiliki makna tersendiri. Namun tentu saja, tidak semua mimpi seperti itu,” ujarnya.

            “Lalu, apakah mimpi saya ini ada maknanya, Pak?” tanya Fulan tak sabar.

            “Saya tidak bisa mengatakan secara pasti. Mimpi itu terdengar seperti sebuah mimpi buruk orang yang kelelahan, tapi terlalu buruk sebenarnya untuk sekadar itu. Saya merasa ada pesan tertentu yang belum terpecahkan dalamnya. Sudah diskusi dengan sesepuh?”

            Fulan mendesah. Dengan engan ia menceritakan pertemuannya dengan sang sesepuh. Pak Kepala Kampung mendengarkan dengan seksama, dan akhirnya tertawa kecil sedikit.

            “Itu berlebihan, saya rasa. Tapi entahlah, sang sesepuh tidak segila yang kamu sangka. Saya rasa, pesan dalam mimpimu itu harus kamu temukan sendiri. Maaf, saya tidak bisa banyak membantu.”

            Fulan akhirnya pulang dengan kecewa. Di rumah, kerjanya hanya berdoa dan berdoa. Makan sesekali, dan kegiatan dakwahnya ia hentikan sementara. Selama seminggu, begitulah kegiatan setiap hari. Hingga pada hari kesepuluh, ia memutuskan untuk keluar kampung.

            “Mau kemana, Mas?” tanya istrinya.

            “Aku ingin mencari makna mimpiku itu. Tolong izinkan aku,” ujarnya.

            Maka, tanpa menghiraukan permohonan istrinya, ia pun berangkat keluar kampung, pergi entah kemana. Hingga empat puluh hari, ia masih belum kembali. Kini, penduduk di kampung ini sudah kehilangan seorang pendakwah. Bukan sembarang pendakwah, tapi pendakwah yang sudah mendapat mukjizat langsung dari Tuhan; panutan utama mereka dalam perihal keagamaan. Maka, mereka memerlukan orang-orang yang bisa memberi mereka wejangan.

            Setelah dicari-cari, ditemukanlah tujuh puluh tiga orang penduduk kampung yang juga tinggi ilmu agamanya, walau tidak setinggi Fulan. Maka tujuh puluh tiga orang inilah yang terus memberi wejangan kepada semua penduduk kampung. Namun begitulah; tujuh puluh tiga orang, tujuh puluh tiga pikiran pula. Masing-masing dari mereka memiliki ijtihad sendiri. Maka kampung ini, yang biasanya berkumpul dalam satu ijtihad yaitu ijtihad Fulan, kini sudah terpecah menjadi tujuh puluh tiga kelompok. 

Artikel Terkait