Hatiku gaduh. Dia terus mengaduh, mengaduh, dan mengaduh. Sementara tubuhku tak ingin ricuh. Lelah. Selalu saja seperti ini, aku dibekap kebingungan dan ditodong keingintahuan tentangmu. Tubuhku bisu, hatiku rindukan temu.

"Mampus aku," pikirku. Aku bisa mati menanggung akar-akar penasaran yang kian menyerabut ini. Apalagi larutan pekat rindu dendam sulit dipisahkan.

Delapan. Seperti bentuk makanan ringan yang biasa kusebut klanting. Berwarna kuning, renyah, dan gurih. Cemilan ini tentu mudah didapatkan di warung-warung dekat tempat tinggalku atau di swalayan. Yang menemaniku bergelut dengan duniawiku. Tentu saja nikmat, senikmat menyesap manis di wajahmu! Tapi, mendapatkanmu tak semudah beli klanting.

Oh, delapan! Bisa terjumlah dari angka enam ditambah dua, empat ditambah empat, atau dua dikali empat. Banyak unsur penyusunnya. Sedangkan kamu, tiada tanda-tanda yang bisa kubaca untuk melegakan dahaga penasaran batinku.

Tubuhku kelu. Selera makan dan tidurku sirna sudah diputus layang. Pertahananku terkoyak-koyak atas bayang dirimu. Kau yang tak lebih dari sebuah "delapan".

Bagiku, delapan adalah utuh. Tidak ada awal dan akhir. Aku setengah ampun benci awal dan akhir. Argh, kenapa harus ada A dan Z, ada 1 dan 9, lalu di mana seharusnya letak 0 berada? Lalu, kenapa aku harus mengenalnya jika harus berpisah dengannya? Argh!

Kata "kenapa" berjejal berlompatan di kepalaku. Pusing! Ah, bisa jadi aku tak benci awal dan akhir. Aku benci dengan perpisahan kita. Astaga, aku terlalu menyeret objek lain dalam hubungan kita.

Sebab itu aku menggilaimu, delapan.

Ada tuntutan balas atas tiap-tiap rinduku. Meskipun tak sepatah kata pun kau ketikkan untukku. Ya, kita terpisah pulau.

Hanya layang doa yang tersematkan di antara langit-langit biru. Melangitkan namamu. Mengangkasakan rinduku. Dan, tercenung sendiri dengan kelakuanku selama ini. "Aku jatuh cinta, tapi berkilah tak mengakuinya."

Apakah hati kita juga berpulau? Inilah yang memualkan tiap mengingat keadaan kita.

Berjauhan. Long distance relationship. Beda keyakinan (aku yakin denganmu, kau tidak yakin denganku, hiyaa).

Demimu, delapan, aku kerap terjaga tiba-tiba. Terkaget. Terhenyak. Seolah ada bisikan bahwa "delapan" menjadi ujung pencarianku. Atas dasar apa aku bisa yakin?

Kecamuk tak hendak sirna. Malah berapi-api membakar damai. Lenyap sudah ketentramanku kau renggut, "delapan". Siluetmu membabi buta menyita keheningan hatiku. Hatiku ricuh. Sungguh, sunyi namun berguruh!

Delapan, kupikir bisa menjadi tiga deret angka empat. Empat-empat-empat. Dan, tidak ada suatu bentuk ketidaksengajaan pun di dunia ini kecuali pasti ada artinya. Kode demi kode seolah menjadi pertanda. Sayang, kita tak jarang ingkar.

Entah mengapa, aku suka deret angka kembar. Tak butuh alasan lain, cukup "suka".

Kau memenuhi pengharapanku. Pemberhentian paling final menurut inginku. 

Tuan dari segala gundah gulana. Tuan dari segala rindu dendam. Tuan dari hati dan duniawi. Tuan dari sepanjang perjalanan yang melelahkan. Tuan tempat saling ke peraduan.

Delapan mewakili sepotong asa yang menyelusup ke guratan hati. Sisa-sisa patah kemarin. Sepotong senja yang makin renta tanpa peduli usia. Bukankah makin tua makin memesona? Dan kau, makin jauh makin membuat hatiku berpeluh.

*

Aku tujuh. Konon katanya, tujuh istimewa. Penuh dengan berkah dan indah.

Tujuh bidadari, langit tujuh lapis, tujuh keajaiban dunia, upacara tujuh bulanan, tujuh hari, dan "aku".

Angin segar yang sedikit menyejukkan hatiku. Semoga saja aku termasuk dalam jajaran keberkahan di dunia ini berbentuk "tujuh".

Aku merindukan kepingan pelengkapku. Bisa jadi, aku jatuh hati dengan "tetanggaku": delapan!

Sayangnya, tujuh punya sudut. Mungkin karena ini perasaanku sering tersudut. Ah, semoga saja tak lebih dari halu.

Tujuh adalah angka yang dihasilkan dari jumlahan empat ditambah tiga, dan dua ditambah lima. Itu saja. Tujuh termasuk bilangan prima. Dalam matematika, bilangan prima adalah bilangan asli yang lebih besar dari angka 1, yang faktor pembaginya adalah 1 dan bilangan itu sendiri. Ya, aku bersemoga selalu "prima"!

Tujuh dan "tujuan". Aku berusaha meraba arah dalam hidupku. Tapak demi tapak. Pun jarak dan jejak. Biar saja jejak kaki terhapus hujan, asal gurat asa untuk kita abadi.

Aku ingin hidup sedamai percik sinar mentari pagi. Sehangat dia memeluk dunia. Pun hangatnya memelukku, perlahan membakar tungku rindu semesta. Agar sumbunya dapat memelitakan sekitar kita.

Orang bilang, aku memesona. Tapi, dia tak bilang apa-apa. Ah, sudahlah. Aku mulai memutar perasaan, ingin enyah darimu.

Orang bilang, hendak menua bersamaku. Pun dirimu. Tapi, kutunggu tak hendak menemuiku. Ah, biarlah. Aku mulai enggan mengisahkan kita.

*

Demi kisah kita, rasa tidak bisa diterka. Tarik ulur kadang menyiksa. Namun, konspirasi semesta lebih suka menggoda 

Tujuh-delapan. Barangkali suratan takdir atau pertanda semesta bahwa kita adalah utuh. Tujuh-delapan: "Ar-Rahman".

"Maka nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan?" (55:13)