“You will not punished for your anger, you will be punished by your anger”-Buddha

Siapa yang tidak pernah marah? Semua orang pasti marah. Ada yang marah karena ditinggalin kekasih, ada yang marah akibat ditipu sama orang yang tak dikenal, ada yang  marah karena tak lulus mata kuliah, ada yang marah karena di-bully sama teman-teman, ada yang marah karena penyakit tertentu, dan singkatnya semua pasti marah.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata marah adalah sangat tidak senang (karena dihina, dipermalukan tidak sepantasnya dan sebagainya).

Dalam arti lain, marah  menurut DiGiuseppe, Raymond & Chip Tafrate marah  merupakan perasaan internal, mental dan subjektif yang diasosiasikan dengan perubahan kognisi dan psikologis pada seseorang.

Dari beberapa pengertian di atas maka disimpulkan bahwa marah adalah perasaan subjektif yang lahir dari keadaan psikologi seseorang karena faktor yang diperlakukan tidak semestinya.

Oleh karena itu,  saya berpikir marah itu nomal-normal saja, sebab sebagai manusia  rasa marah adalah cara tepat melampiaskan perasaan yang membebankan dan menyakitkan. 

Tapi jika berlebihan, saya pikir sudah di luar rasa manusiawi. Maka dari itu, ini beberapa cara praktis yang saya rekomendasikan untuk kamu yang sering marah tapi tidak tahu cara meredahkanya.

Tujuh cara praktis ini merupakan hasil yang dirangkum dari  pembacaan saya terhadap Norman Canfield dalam bukunya “Dasyatnya Kekuatan Berpikir Positif”.

1. Ketika marah jangan mengatakan apa-apa

Apa pun itu, ketika kamu marah jangan mengatakan apa-apa. Tutup mulut dan berusahalah untuk berpikir positif. Abaikan segala perasaan yang berkecambuk di dalam diri.

Mengapa? Karena ketika kamu marah dan, kamu berusaha untuk tidak mengatakan apa-apa kepada orang yang membuat kamu marah, maka sesungguhnya kamu sedang berusaha mempelajari sejauh mana ketahanan diri kamu, sejauh mana rasa kesabaran kamu terhadap orang lain, dan yang terpenting adalah sejauh mana kamu mengelolah seluruh pikiran negatif  kamu.

Jadi ketika kamu marah, berusahalah untuk semaksimal mungkin untuk tidak mengatakan apa-apa


2. Acuhlah terhadap orang yang membuatmu marah

Saya pikir, hal yang membuat kamu semakin marah ialah ketika kamu tidak sanggup mengabaikan segala perkataan orang lain, tidak mampu mengatasi situasi, dan tidak sanggup mengendalikan diri. 

Maka, untuk tidak membuat kemarahan kamu semakin meledak seperti bom, bersikaplah acuh terhadap  siapa pun yang membuat kamu marah, terhadap situasi yang mengekang, dan berusahalah untuk mengendalikan diri. 

Bersikap acuh bukan berarti kamu  cuek, tapi itu adalah cara praktis bagaimana kamu memahami bahwa setiap orang memiliki perbedaan dan ciri khas tertentu.

Jadi, berusahalah untuk acuh terhadap siapa pun dan apa pun yang membuat kamu marah.

3. Gunakan alternatif untuk menghentikan kemarahanmu

Kalau saya marah, hal pertama yang saya lakukan adalah meninggalkan orang yang membuat saya marah. Ini dapat membantu meredahkan amarah saya.

Setelahnya, saya akan berusaha untuk mencari alternatif lain seperti, berjalan ke taman kota, ngopi di kafe, atau menonton film. 

Kegiatan-kegiatan sederhana ini adalah alternatif yang biasa saya praktekan supaya bisa menghentikan kemarahan saya, entah kepada orang-rang tententu, kepada situasi, atau kepada diri sendiri.

Jadi, itulah saya. Bagaimana denganmu? Pikirkan alternatif, praktekan itu, dan yakinlah kamu bisa menghentikan kemarahanmu.

4. Bersikap baik kepada orang lain

Siapa yang sering membuat kamu marah? Orang tua, sahabat dekat, guru, dosen, atau kekasih? 

Jika salah satu dari mereka adalah sosok yang sering membuat kamu marah, entah karena malas kerja, menipu,  telat kumpul tugas,  nilai ipk menurun, ataukah selingkuh? 

Maka hal pertama yang kamu lakukan adalah bersikap baik kepada mereka. Ini membantu kamu untuk mengoreksi diri kamu, dan membantu kamu untuk memahami situasi dan keadaan mereka. 

Jadi, apabila kamu marah, bersikap baiklah kepada orang yang membuatmu marah.

5. Tarik nafas dalam-dalam

Menarik nafas adalah cara paling praktis mengatasi rasa marah. 

Mengapa? Pertama, dengan  menarik nafas membuat kamu sadar bahwa marah bukanlah cara terbaik menyelesaikan persoalan. Kedua, dengan menarik nafas, kamu akan semakin memiliki upayah untuk bisa mengendalikan diri.

Jadi ketika marah, tariklah nafas, hembuslah, dan kamu akan mampu mengendalikan amarahmu.

6. Tersenyum

Obat mujarab yang praktis yang mampu mengendalikan situasi adalah senyuman. Karena senyuman adalah simbol keceriaan, kegembiraan, keriangan, dan kebahagiaan. 

Senyuman yang kamu  pancarkan kepada orang lain adalah jawaban atas setiap situasi yang kamu alami. Dan orang lain akan memahaminya sebagai rahmat yang menguatkan dan menuntun mereka. 

Maka, ketika kamu marah, tersenyumlah kepada siapa saja yang membuat kamu marah, tersenyumlah kepada segala situasi, dan tersenyumlah kepada diri sendiri. 

Karena sejatinya senyuman adalah obat yang mampu menyembuhkan segala kekesalan dan amarah. Jadi, berusahalah untuk selalu tersenyum kepada siapa saja yang membuat kamu marah.   

7. Berdamailah

Adanya  perdamaian membuat jiwa kamu teduh, membuat kamu bahagia, mambuat kamu merasakan bahwa di kehidupan ini, kamu selalu membutuhkan orang lain. 

Ada orang lain baru kamu dikatakan hebat, ada orang lain baru kamu merasakan nikmanya jatuh cinta, dan lebih dari itu ada  orang lain, pribadi dan karakter kamu dibentuk, dibina, sehingga kamu tumbuh menjadi sosok yang dikagumi banyak orang. 

Maka, ketika kamu marah, berusahalah untuk berdamai,  sebab, perdamaian adalah kunci utama membangun relasi satu sama lain.