Cafe Resensi siang itu serasa bukan café. Pasalnya, hari itu, mahasiswa semester enam STIT AL Chaeriyah, Mamuju, Sulawesi Barat belajar di luar kampus, di café Resensi, dengan materi Epistemologi Pendidikan, mata kuliah Etika Profesi Guru. 

Materi kali ini dibawakan oleh Hartono Tasir Irwanto atau panggilan pendeknya, Tonton. Materi Epistemologi Pendidikan dibaginya dalam pendahuluan, alat pendidikan, dan sumber pengetahuan.

Pendahuluan

“Epistemologi” adalah kata yang pernah atau bahkan sering kita dengar, tetapi terkadang kita tidak tahu arti dan maknanya. 

Epistemologi terdiri dari dua akar kata, epistem dan logos. Epistem berarti teori, dan logos adalah ilmu pengetahuan atau pemikiran. 

“Ketika kita berbicara tentang epistemologi, berarti kita berbicara tentang ilmu pengetahuan,” kata Tonton. “Apa itu sumber pengetahuan, apa itu alat pengetahuan, dan perbedaan ilmu dan pengetahuan?” lanjutnya.

Epistemologi menjadi hal penting bagi para guru atau calon guru untuk mengetahui perkembangan epistemologi pendidikan di Indonesia seperti apa. Tonton kemudian bertanya kepada mahasiswa tentang defenisi pendidikan dari Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1 (1).

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Kesimpulannya adalah adanya upaya sadar pembelajaran secara kontinu untuk menciptakan karakter (yang) beradab.

Hasil dari pendidikan adalah beradab, bukan menciptakan pekerja!

Selama ini, pendidikan ditujukan untuk mencetak pekerja. Sehingga belajar (sekolah dan kuliah) bukan untuk bekerja. Selama ini, mindset yang ada di kepala kita belajar untuk mendapatkan yang terbaik.

Misalnya, kita belajar keras waktu di sekolah dulu agar mendapat nilai yang bagus. Ketika nilai kita bagus, kita bisa melanjutkan di sekolah favorit. Kemudian setelah kita dari dari sekolah favorit, kita bisa berkuliah di kampus yang terkenal dan terkeren. 

Setelah lulus atau wisuda dari kampus tersebut, kita bisa melanjutkan S2 sampai S3. Lalu kita, ujung-ujungnya, diharapkan mendapatkan kerja yang bagus bahkan mungkin menikah dengan pasangan yang sempurna.

Sehingga, tujuan pendidikan selama ini adalah agar kita mendapatkan kerja yang bagus. Padahal, tujuan pendidikan adalah untuk memahami bahwa pekerjaan kita nanti akan lebih baik dengan mendapatkan waktu senggang untuk belajar lagi. 

Jadi, tujuan bekerja kita adalah untuk belajar. Bahkan bekerja menjadi pembelajaran itu sendiri, apalagi bagi mahasiswa jurusan keguruan, guru-guru.

Paradigma dari belajar untuk mendapat kerja yang bagus menjadi bekerja untuk pembelajaran yang lebih luas. Belajar bukan proses berhenti, misalnya, ketika kita sudah lulus S1, kita berpikir cukup sudah kita belajar karena waktunya bekerja. 

Karena tidak boleh ada periodesasi dalam kehidupan dalam belajar dan bekerja, ketika belajar dari SD sampai S3. Sementara bekerja dari selesai kuliah S1 sampai mati karena setelah kita bekerja kita akan malas belajar lagi. Padahal, setiap individu memiliki waktu yang sama 24 jam.

Lagi pula, siapa yang memetakan bahwa pekerjaan bagus dan tidak bagus?Misalnya, pekerjaan dokter lebih bagus daripada petani misalnya. Atau pekerjaan sebagai anggota dewan lebih mulia daripada pekerjaan sebagai nelayan. 

Padahal, inti kerja yang sesungguhnya ada pada petani dan nelayan, karena bukan pekerjaan yang “diada-adakan”.

Belajar membuat kita melihat realitas sosial yang terjadi di sekitar kita. Belajar bukan cuma sekadar menyimak pelajaran, tetapi juga menciptakan kritik sosial. Kritik yang bukan nyinyir, apalagi hate speech, tetapi menuntut pemenuhan hak-hak kita sebagai manusia sekaligus menjalankan kewajiban.

Lebih lanjut, Tonton berkata bahwa berbicara tentang epistemologi pendidikan berarti berbicara tentang pengetahuan yang terkonstruk atau terbentuk dalam pikiran kita. Pengetahuan terbagi dua, yaitu pengetahuan yang sifatnya konsepsi dan preposisi.

Pengetahuan konsepsi atau dalam logika Islam disebut sebagai pengetahuan tashaujurri dan pengetahuan preposisi sebagai pengetahuan tashdiqi.

Pengetahuan konsepsi adalah pengetahuan yang belum bisa dihukumi benar salahnya. Konsepsi ini terbagi dua, yaitu tunggal dan jamak. 

“Contohnya, konsepsi tunggal ketika saya mengatakan spidol. Atau saya mengatakan Jokowi, kita tidak bisa (langsung) menghukumi Jokowi tersebut. Belum tentu saya mendukung Jokowi, misalnya. Selama ini kita selalu menghukumi konsep, padahal konsep itu tidak dapat dihukumi,” kata Tonton.

Sedangkan contoh konsepsi jamak adalah (kata) spidol hitam. Tonton memegang spidol hitam yang dipegangnya. 

“Ini masih konsep, belum bisa dihukumi. Parahnya, di negeri kita, konsep pun bisa dihukumi, dinilai,” katanya sambil mengajak mahasiswa berpikir tentang realitas yang terjadi.

Pengetahuan preposisi adalah pengetahuan yang sudah bisa dinilai benar salahnya. Jika kita mengatakan “Ini spidol hitam”, itu sudah bisa dinilai karena preposisinya benar bukan spidol berwarna putih. Wilayah ini sudah bisa dihukumi atau dinilai.

Maka, defenisi pengetahuan adalah segala realitas yang hadir di dalam akal. Semua realitas yang ada dalam akal itu adalah pengetahuan. Misalnya, pengetahuan tentang spidol, meja, saya, pagar, dan lain sebagainya adalah pengetahuan. Walaupun (banyak) pengetahuan itu masih bersifat konsepsional belum bisa dihukumi.

Pengetahuan tentang epistemologi yang pernah kita dengar masih terbatas pada konsep, ketika kita sudah mengetahui arti dan maknanya menjadi preposisi. 

Selama ini kita masih banyak menguasai konsep tanpa diimbangi dengan mengetahui preposisi. Padahal, salah satu persyarat (menjadi) guru atau orang cerdas adalah sudah banyak mengetahui preposisi atau penilaian-penilaian.

Jadi, epistemologi pendidikan berbicara mengenai bagaimana teori-teori pengetahuan itu hadir dalam akal kita.

Alat Pengetahuan

Defenisi alat adalah sesuatu yang digunakan untuk memperoleh sesuatu yang lain. Misalnya, alat musik. Sesuatu yang digunakan untuk memperoleh musik. Misalnya, gitar, gendang, seruling. Sementara alat pengetahuan untuk memperoleh pengetahuan, secara garis besar, ada tiga, yaitu indra, khayal, akal.

Indra terbagi dalam lima, yaitu (1) pendengaran yang organnya telinga berfungsi menangkap gelombang, (2) penglihatan yang organnya mata berfungsi menangkap cahaya atau warna, (3) penciuman yang organnya hidung berfungsi menangkap aroma, (4) perasa atau pengecap yang organnya lidah yang berfungsi sebagai menangkap rasa, dan (5) peraba yang organnya kulit yang berfungsi menangkap tekstur.

Dari hal-hal di atas, seorang guru diharapkan dapat memahami Epistemologi murid atau siswa cenderung ke mana dengan mengaktifkan seluruh indra tadi. Bukan cuma guru, ruang belajar yang bagus pun dapat (membantu) mengaktifkan seluruh indra.  

Contohnya, pendengaran. Di negara-negara Barat, beberapa ruang kelas menggunakan musik klasik untuk membantu proses belajar mengajar. Kemudian, pendengaran. Ruang kelas yang bagus adalah ruang visual yang  memiliki banyak nuansa warna hijau. Seperti salah satu kelas di Finlandia memiliki ruangan eco-room atau kelas lingkungan. 

Lalu, penciuman. Di ruang kelas, guru diharapkan dapat menebarkan aroma wangi atau menciptakan ruangan yang harum. Dan peraba yang ditandai dengan banyaknya benda-benda sebagai alat peraga.

Dalam Epistemologi Pendidikan, pada bagian alat pengetahuan yang kedua, yaitu khayal. Khayal memiliki kemampuan untuk mengkoparasi atau membandingkan dan mengkombinasi atau menggabungkan.

Dalam mengkoparasi, khayal bertanggung jawab membandingkan antara besar dan kecil, tinggi dan rendah, baik dan buruk, dan sebagainya. Kita tidak bisa menilai papan tulis yang kita gunakan besar ketika kalau kita tidak punya perbandingan dengan yang lain dalam dunia khayal atau imajinasi, kita sudah banyak melihat papan tulis yang lain (sudah mengetahui sebelumnya).

Sebagai mahluk yang beragama, kita percaya bahwa hanya Tuhan satu-satunya yang tidak memiliki pembanding. Artinya bahwa segala mahluk sifatnya hanyalah sementara. 

Mungkin saja Anda pintar dalam suatu bidang, tetapi ketika dibandingkan dengan orang lain yang lebih pintar, Anda menjadi bodoh. Maka dari itu, kita sebagai hamba dilarang untuk sombong.

Sementara dalam mengkombinasi, khayal memiliki kemampuan untuk menggabungkan. Misalnya, gunung dan emas. Kita hanya bisa menjadikan gunung emas nyata dalam dunia khayal kita. Lalu, bidadari yang ada di film-film. Semuanya, berangkat dari imajinasi manusia.

Seorang guru yang baik adalah yang bisa mengaktifkan imajinasi peserta didiknya. Guru bisa mengajak siswanya berimajinasi selama tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.

Kemudian, penjelasan tentang akal. Akal terbagi dua, yaitu akal jatuh atau hati dan akal murni atau rasio. Posisi akal berada pada indra dan organnya adalah otak.  Otak itu di dalamnya mengandung hati sekaligus mengandung rasio atau otak kanan dan kiri.

Ketika seseorang jatuh cinta, dia akan merasakannya di otak. Bukan di (organ) hati atau liver yang berfungsi sebagai penetralisir racun. Sehingga, guru yang baik bisa memainkan perasaan atau hati, akal peserta didiknya. Namun, bukan berarti juga menyukai peserta didiknya.

Ada kalanya, kita menggunakan akal jatuh (hati) atau terkadang kita menggunakan akal murni (rasio). Pada posisi saat apakah kita menggunakan hati atau rasio? Pada hal-hal yang sifatnya subjektif kita menggunakan hati. Dan pada hal-hal yang sifatnya objektif yang digunakan adalah akal jatuh atau rasio.

Contohnya subjektif adalah (rasa) lapar. Lapar itu subjektif, tidak dapat diobjekfikasi. Ada siswa yang lapar pada jam 12 siang. Ada juga yang masih kenyang. Semuanya, tidak dapat diseragamkan. Ada murid yang menyukai pelajaran Biologi ada juga yang menyukai Geografi. Semuanya, tidak dapat diseragamkan.

Namun, yang terjadi di sistem pendidikan di Indonesia adalah penyeragaman minat dan bakat. Bahkan penyeragaman defenisi kecerdasan bahwa cerdas adalah peserta didik yang menguasai Matematika dan Bahasa Inggris. 

Jika Matematika kalian mendapatkan nilai enam berarti kamu bodoh. Sehingga, disiplin ilmu lain tidak mendapatkan tempat yang layak. Contohnya, Penjaskes atau kecerdasan kinestetik. Kesenian atau kecerdasan artistik.

Nah, epistemologi pendidikan mengajarkan kita untuk berlaku adil pada minat dan bakat pada peserta didik. Tugas kita sebagai pengajar adalah menggali minat dan bakat peserta didik dan mengoptimalkannya.

Sumber Pengetahuan

Sumber pengetahuan adalah sesuatu yang padanya sesuatu yang lain diperoleh. Sumber pengetahuan merupakan asal pengetahuan diperoleh. Sumber pengetahuan ini terbagi tiga, yaitu alam materi, wahyu, dan akal.

Penjelasan tentang alam materi sumbernya diperoleh dari alam materi, misalnya peredaran siang malam, perputaran bumi, pohon, binatang, buku, dan lain sebagainya. Dalam Alquran juga telah dijelaskan dalam Al Baqarah 164:

“Dan Dia sebarkan di bumi segala jenis hewan dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”

Sehingga, menurut Alquran, alam materi sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan bagi kaum yang berpikir. Ketika kita terlalu cenderung pada alam materi, kita akan terjerembab pada mazhab berpikir materialisme. 

Makanya, kebanyakan pola pendidikan kita itu bersifat materialis, karena pola pendidikannya itu materialisme (hanya menganggap materialis sebagai sumber pengetahuan).

Wahyu sebagai firman Tuhan yang tertuang dalam Taurat, Injil, sampai Alquran merupakan sumber pengetahuan. Namun, jangan juga terlalu cenderung pada teks suci saja lalu menafikan alam materi karena menganggap alam materi adalah fana, karena bisa terjerembab pada mazhab berpikir yang namanya skriptualisme. 

“Mana dalilnya, Bro?” kata Tonton. “Tanpa melihat realitas materinya seperti apa, itu tidak adil.”

Akal menjadi sumber pengetahuan juga. Pernahkah kita merenung atau melakukan refeksi tanpa melihat materi, tanpa melihat buku, tanpa membaca kitab suci, tetapi ada ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui perenungan filosofis? Ini kemudian menjadi (bukti) bahwa akal adalah sumber pengetahuan juga.

Tetapi ketika kita terlalu cenderung pada akal dan menafikan wahyu dari Allah dan alam materi yang telah diciptakan Allah, maka kita akan menjadi kaum rasionalisme.

Lalu, pertanyaannya, di manakah kita harus berpihak? Apakah kita harus menjadi materialisme, skriptualisme, atau rasionalisme? Apakah kita harus cenderung ke materi, wahyu, atau akal? Sebagian dari teman-teman kita banyak bermazhab materialisme, skriptualisme, dan rasionalisme (mutazilah).

Tiga-tiganya itu harus digunakan sehingga melahirkan mazhab baru yang namanya realisme. Realisme ini yang mengakomodasi ketiganya bahwa tiga-tiganya merupakan sumber pengetahuan yang valid dan sahih.

Pada konteks pendidikan di Indonesia sangat materialistik yang kurang berpedoman pada Qurani (kitab suci) dan mengkerangkeng akal, kita dilarang melakukan kritik filosofi. Sehingga, epistemologi pendidikan yang kami sarankan adalah realis, berpijak pada kenyataan. Kenyataan (pada) materi, qurani, dan filosofis.

Ketika ingin lebih banyak tahu mengenai ilmu pengetahuan, pendidikan, harusnya lebih banyak melakukan merenungi alam semesta, baik secara luas maupun yang terpaparkan dalam buku, membaca Al Quran bagi kaum muslim, perenungan filosofis atau tafakkur, dan zikir.