Orang Jepang yang beragama Shinto, percaya akan tuhan jamak. Tuhan yang mereka percaya berada dimana saja. Di rumah, hutan, sawah, sungai laut bahkan di benda seperti mobil handphone atau komputer. Mereka juga percaya bahwa setiap benda yang akan dibuat, tuhan akan menghinggapinya saat benda itu jadi. Ini jelas berbeda dengan konsep tuhan tunggal yang dianut oleh agama samawi seperti islam, nasrani dan yahudi.

Hal ini yang mendasari mengapa orang-orang jepang mengajarkan ke setiap anak-anak mereka untuk menjaga setiap benda, apapun itu. Mulai dari yang penting sampai yang bisa jadi tidak terlalu penting. Misal seperti mobil, orang jepang rata-rata sangat perhatian dengan mobil mereka. Jarang mereka membiarkan mobil dalam keadaan kotor. Karena ini sama saja mengotori tuhan yang ada di mobil itu. Bahkan, jika ada sedikit goresan saja, mereka begitu tekun untuk memperbaikinya.

Tidak hanya mobil, sampah plastik pembungkus makanan yang mereka beli dari supermarket, juga sangat mereka jaga. Mereka tidak serta merta membuang begitu saja sampah itu. Pemahaman ini sudah dipercaya oleh orang-orang jepang sejak dulu, dan membudaya dari generasi ke generasi.

Kepercayaan orang jepang terhadap tuhan jamak yang bersemayam di setiap benda, adalah fakta yang saya ketahui setelah saya beberapa kali melakukan diskusi dengan teman-teman satu lab. Saya melihat ini sebagai hal yang berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Jadi cara pandang terhadap suatu benda, apapun itu, akan memunculkan sikap dan kebiasaan yang bisa menguntungkan atau merugikan manusia itu sendiri.

Sepengetahuan saya, dalam Islam, ada pandangan tentang akhirat lebih penting daripada duniawi. Karena duniawi dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat kebendaan, material, maka benda-benda itu juga kurang dipentingkan. Saya pikir, ini yang banyak melatarbelakangi orang-orang untuk tidak belajar lebih, bekerja lebih baik.

Jika anda merasa tidak demikian, mungkin anda bukan golongan yang demikian, tapi anda bisa lihat realita seperti itu di daerah-daerah. Di jawa timur, saya banyak menjumpai daerah yang orang-orangnya masih memiliki pola pemikiran seperti itu.

Sederhananya, cara pandang orang jepang tentang kebendaan membuat mereka terbiasa berhati-hati untuk menjaga dan merawat. Sedangkan bagi sebagian orang di Indonesia yang jauh lebih mementingkan akhirat, sikap mereka tentang kebendaan tidak seperti orang jepang dalam menjaga apa yang mereka miliki. Bahkan, terkadang, terhadap keselamatan diri mereka juga tidak terlalu peduli. Karena mereka berfikir, kalau sudah waktunya mati toh akan mati juga.

Konsep tuhan jamak yang dipercaya oleh orang-orang jepang memang berbeda dengan konsep tuhan tunggal yang dipahami orang Islam. Urusan mana yang benar itu relatif, bisa jadi topik yang gak habis-habis untuk diperdebatkan. Namun, saat ini bagi saya yang terpenting adalah seberapa besar manfaat yang bisa direlasisasikan dari konsep ketuhanan tersebut untuk mewujudkan kehidupan manusia yang lebih baik, lebih damai dan sejahtera.