Mahasiswa
3 minggu lalu · 494 view · 6 min baca · Budaya 33331_19582.jpg
Pixabay

Tuhanku Bernama Apofenia

Sebagai pendaki gunung yang sering bersentuhan dengan awan, bebatuan, dan pepohonan, sudah selayaknya saya akan terus berusaha secara maksimal untuk memahami tiga komponen semesta tersebut. Caranya banyak sekali, termasuk lewat ilmu meteorologi, geologi, dan biologi hutan.

Walaupun itu tidak mendalam seperti yang dipelajari di bangku-bangku perkuliahan, paling tidak saya sudah berusaha untuk mendapatkan bagian-bagian fundamentalnya guna mendukung kelancaran dan keselamatan hobi petualangan alam bebas tersebut.

Fundamental ketiga ilmu di atas sering mendapat titik uji ketika berada di jalur-jalur pendakian atau kegiatan alam bebas lainnya, khususnya yang bersifat supranatural.

Salah satunya ketika saya lumayan frustrasi saat melakukan operasi SAR pencarian survivor yang hilang di Gunung Arjuno beberapa bulan yang lalu. Hingga melirik opsi-opsi lucu yang diharapkan atau dimungkinkan untuk bisa menjadi jalan keluar.

Dengan berbasis ilmu pencarian ala SARDuk (SAR Dukun) yang juga tidak diajarkan di forum-forum pembelajaran Search And Rescue rasa orsinal, saya pun mulai menyasar fenomena-fenomena unik yang telah disediakan oleh alam.

Fenomena tersebut berbahan sesuatu yang mudah ditangkap indra, khususnya visual. Bahan-bahan tersebut, seperti awan, bebatuan, pepohon, dan semua komponen abiotik di lingkungan terdekat dari subjek yang bisa ditangkap dengan oleh mata. 

Tak perlu terlalu tinggi membayangkan fenomena berat lainnya, seperti penampakan demit atau penampakan malaikat yang super suci.  


Langkah metafisika sudah biasa mewarnai tahapan sebuah operasi SAR. Setelah mentok dan menemui jalan buntu, mereka tak canggung menggunakan segala cara dan metode pencarian survivor alternatif lainnya. 

Pergeserannya berawal dari persepsi epistemik yang rata-rata berawal dari karakteristik pribadi yang merefleksikan kapasitas pengetahuan manusia, semisal ilmu SAR, meteorologi, geologi, dan biologi hutan. Kemudian pelan-pelan bergeser berbarengan dengan kegagalan-kegagalan komponen epistemik tadi.

Pergeseran diiringi oleh alasan klasik, yaitu kita sebagai makhluk yang berketuhanan tidak boleh putus asa dari rahmat Tuhan. Maka ditempuhlan cara metafisika. Dengan tujuan akhir dapat membantu merefleksikan hakikat dan realitas pada level-level abstrak. 

Tentunya hal ini akan memancing keliaran kita untuk brutal meraba-raba fenomena alam agar cepat memberikan simbol dan tanda-tanda. Opsi metafisika ini sangat dipengaruhi oleh sikap, motif, minat, kepentingan, pengharapan, serta pengalaman dari masa lalu masing-masing individu. 

Agar terkesan tidak paganis, maka dimunculkanlah apa yang disebut dengan etika.  Tujuannya untuk membalut hakikat sebuah tindakan agar tampak halus dan beradab.

Pada tahap metafisika ini, awan yang saya lihat tidak lagi sebuah logos tentang proses pengembunan atau pemadatan uap air jenuh di udara. Namun awan yang sudah saya perkosa untuk memberikan simbol dan tanda-tanda sebagai petunjuk.

Awan yang saya lihat juga tidak lagi sebagai telaah ilmu meteorologi yang fungsinya untuk melindungi kita dari radiasi sinar ultraviolet, penunjuk arah angin, indikator suhu, ataupun prediksi cuaca dan iklim. Kini sudah saya paksa lagi untuk memberi informasi koordinat sang survivor yang hilang.

Pun begitu, awan yang semula telah ditentukan jenisnya oleh Komisi Cuaca Internasional pada tahun 1894 dengan berbagai sebutan, semisal kumulus, stratus, nimbus, dan sirus, kini saya reka-reka kasar untuk membentuk formasi yang dapat dibaca sebagai tanda dan simbol yang memberi arti dan arah keputusan.

Persepsi-persepsi liar tersebut tetap saja mendorong untuk melakukan tindak memilih (ikhtiyar), memilah (tafriq), membedakan (tamyiz), serta vonis (tahkim). Sebagaimana yang telah diajarkan oleh agama jika melihat suatu permasalahan.

Maka di sinilah agama kita bisa terancam berganti Tuhan baru yang disebut dengan Apofenia. Tuhan baru yang satu ini merupakan cara kita mendeskripsikan fenomena di mana subjek (saya) melihat sebuah pola atau hubungan dalam data yang acak dan tak bermakna.


Angin yang bertiup kencang atau kabut tiba-tiba turun setelah kita mengatakan sesuatu atau berteriak, seperti yang terjadi di wilayah Danau Taman Hidup, Gunung Argopuro. Kemudian hal tersebut kita hubung-hubungkan dengan keberhasilan atau kegagalan sebuah keputusan.

Kecenderungan mencari koneksi atau kecenderungan untuk mencari makna dari benda acak tersebut mempunyai harapan tertinggi, yaitu agar dapat membantu memperingatkan individu dari bahaya yang akan datang ataupun memberi kabar-kabar gembira lainnya.

Tuhan Apofenia ini beranak pinak. Ada dua anaknya yang terkenal, yaitu Pareidolia dan Mimetolith. Pareidolia semisal awan yang membentuk formasi tertentu seperti lafaz Allah atau lainnya yang kemudian kita hubung-hubungkan dengan keberpihakannya kepada tindakan yang akan kita putuskan.

Kadang juga pereidolia awan berformasi bak malaikat bersayap yang dipaksakan reka bentuknya oleh visual kita. Kemudian hal tersebut diklaim sebagai kebenaran ajaran agama yang kita anut.

Kecenderungan ini akan mendorong kita untuk terus mengganas dan berspekulasi tentang masa depan, memprediksi apa yang mungkin terjadi, serta memutuskan tindakan apa yang sesuai. Lain lagi dengan Leonardo da Vinci; dia memandang pareidolia sebagai sebuah anugerah dalam nilai artistik.

Pandangan seninya membuat dinding yang kotor atau efek bahan pembuatnya akan tampak baginya sebuah gambaran seni yang indah. Kemudian berkembang menjadi coretan-coretan lanskap ataupun bentuk unik lainya. 

Dalam bidang seni, fenomena pareidolia merupakan manifes yang berharga untuk menciptakan kreasi baru. Fenomena pareidolia itu tak lebih dari sekadar fenomena alam biasa yang terjadi secara acak. 

Tak ada hubungannya dengan doktrin ajaran agama tertentu. Persepsi kitalah yang kemudian bekerja menyesuaikan pola dan menghubung-hubungkannya dengan pengharapan supertinggi.

Hal ini telah dijelaskan oleh Barkeley, seorang sophis modern, bahwa sesungguhnya objek yang kita indra itu hanyalah manifes alam pikiran kita. Barkeley juga menjelaskan bahwa objek itu ada atau eksis ketika kita sukses memproyeksikan lewat pengindraan kita.  

Sophis modern juga menyatakan bahwa objek itu tidak ada disebabkan karena pikiran kitalah yang membuat objek itu ada. Pada dasarnya, indra itu banyak melakukan kesalahan. Satu kesalahan indra saja akan bisa menjadi landasan untuk menggugurkan semua kesaksian yang telah dibuat.


Pengalaman rohani para Nabi dan Rasul tentang awan sebatas awan sebagai tutupan akbar atau naungan panas. Sedang di Kitab Suci, awan terkenal sebagai alat siksa dengan istilah shahaaban dan ghomamah. Dalam sains disebut sebagai awan Cumulonimbus yang dapat menghasilkan petir melalui jantung awan dan badai yang mengerikan.

Pareidolia bisa dikatakan sebagai tahap awal psikosis. Keadaan yang merujuk pada gangguan mental yang disebabkan oleh delusi atau halusinasi. Delusi adalah kesalahpahaman atau pandangan yang salah terhadap suatu hal, sementara halusinasi adalah persepsi kuat atas suatu peristiwa yang dilihat atau didengar tetapi sebenarnya tidak ada.

Dengan membaca pareidolia awan, mereka seolah sedang mengalami fenomena paranormal. Pareidolia ini bersifat sangat subjektif sekali. Pada tingkatan psikosis tertentu, penderita bisa dikategorikan sebagai paranoid.

Fenomena pareidolia bukan diproduksi oleh awan saja. Pohon yang berbentuk orang sujud, belukar yang berbentuk monster, ataupun wajah bulan yang seperti lambang Playboy, kelinci.

Anak Tuhan lainnya yang bisa menjadi Tuhan bernama Mimetolith. Calon Tuhan yang satu ini terjadi ketika hamba-hamba Apofenia memandang bentukan alam seperti formasi dan kontur pegunungan, khususnya untuk unsur bebatuannya sebagai makhluk hidup atau benda mati lainnya yang dapat memberikan pengaruh dalam pengambilan keputusan dan tindakan.  

Kontur pegunungan yang memanjang dengan konsep mimetolith akan terbaca sebagai putri tidur. Semisal Gunung Argopuro salah yang berkontur seperti putri tidur. Mimetolith Argopuro memberi persepsi visual lengkap yang tergambar dengan tonjolan hidung, dada, hingga ujung jempol kakinya. Kemudian persepsi tersebut dibalut mitos dan berakhir sebagai Tuhan.

Mimetolith banyak diproduksi di alam terbuka. Contohnya Puncak Singa, sebuah formasi bebatuan mirip wajah singa di Gunung Sumbing. Kemudian Gunung Tangkuban Perahu yang memproduksi mimetolith bak perahu terbalik.

Segala stimulus yang diterima oleh subjek pada kasus penuhanan fenomena apofenia dengan dua kutub kuatnya (pareidolia dan mimetolith) akan berakhir sukses menjadi Tuhan jika dibarengi dengan kekuatan klaim fatalis berbumbu ayat-ayat. Dengan lantang mereka akan mengatakan bahwa itu semua adalah pesan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Selamat, Anda berhasil!

Artikel Terkait