Semua yang terdapat di muka bumi ini tak lain adalah hasil dari “campur tangan” Tuhan.

Eh, tidak hanya di muka bumi ini saja sih. Saya perlebar lagi jangkauannya sampai pada pemilihan kata “Alam Semesta” Tidak hanya di muka saja, di bagian dalam bumi juga adalah hasil campur tangan Tuhan. Bumi yang tampak berbentuk seperti bola (bagi kaum bumi bola) itu adalah hasil campur tanganNya. Bumi yang tampak datar (bagi kaum bumi datar) juga tak lain dan tak bukan adalah hasil campur tanganNya. 

Eh, lalu bagaimana dengan yang tidak percaya Tuhan? Nah, justru itu jawabannya sudah terkandung pada pertanyaan tersebut. Ketidak percayaan pada Tuhan itu sebenarnya, jangan kaget lho, LAH  itu juga hasil dari campur tangan Tuhan!  Ha-ha-ha, heuheu..

Wes pokok’e Tuhan itu sukanya nyampuri apa yang diciptakanNya kok.

Seorang dosen Saya pernah bercerita. Sebelumnya, Saya cerita dulu. Pada suatu hari.. Tidak, tidak. Begini saja, waktu perkuliahan berlangsung, dosen membentuk beberapa kelompok untuk membahas satu materi tentang disiplin jurusan kami. Setelah kelompok dibentuk, berembuklah kawan-kawan membicarakan materi yang didapatnya masing-masing. 

Kira-kira diberi waktu 10 menit. Setelah itu, si dosen ini memerintahkan tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya masing-masing. Tiba giliran pada kelompok Saya, karena dalam kelompok hanya Saya cowok satu-satunya, otomatislah “hukum alam” pada kelompok menunjuk Saya sebagai presentator.

Bla bla bla, ngalo- ngidul.. Tiba-tiba Saya terhenti pada pertengahan saat menjelaskan. Saya bingung mau berkata apa lagi yang mesti Saya utarakan di depan. Refleks saja Saya berkata “Nah, jadi teman-teman, berhasil tidaknya proses konseling itu tergantung pada tiga hal dasar yaitu, konseli kita masing-masing, kemampuan kita dalam menggunakan keterampilan,  dan juga tidak luput dari campur tangan Tuhan yang berada pada tiap-tiap sesi konseling kita." 

Saya masih meneruskan, "Mengapa demikian? Lah, kita saja masuk jurusan sini pasti ada yang tidak sesuai dengan kehendak dan kemauan masing-masing. Ya ,tho?  Karna itu, di situlah proses 'kelancangan' Tuhan yang memainkan tanganNya pada diri kita supaya berada di jurusan sini..”

Anehnya, akhir kata Saya dibarengi oleh tepuk tangan yang meriah dari kawan-kawan. Dalam hati Saya, “Wah pemilihan kata ‘campur tangan Tuhan’ ini dahsyat heuheu.” Semua kelompok sudah presentasi, giliran dosen Saya unjuk gigi dan suara. Lah kok ndilalah dosen Saya nyeletuk “Ya, bicara soal campur tangan Tuhan. Saya ini juga satu dari beberapa orang yang merasa dicampuri tangan oleh Tuhan.”

Semua mahasiswa memasang muka serius dan telinga dibuka lebar-lebar persis seperti kuping gajah. Dosen melanjutkan, “Saat hendak kuliah dulu, Saya memilih jurusan Pendidikan Agama Islam. Tapi, setelah pengumuman Saya diterima di Bimbingan Penyuluhan Islam(sebelum menjadi Bimbingan Konseling Islam). Merasa tidak cocok, Saya ikut tes lagi melalui jalur yang berbeda, hasilnya ya sama lagi! Saya diterima di Bimbingan Penyuluhan Islam..”

Akhirnya, dosen Saya pasrah dan diambilnya jurusan tersebut. Dosen meneruskan, “Coba kalian pikir? Apa itu namanya kalau tidak campur tangan Tuhan? Saya yang ingin masuk di jurusan Pendidikan Agama Islam, tapi disuruh masuk sama Tuhan ke Bimbingan Penyuluhan Islam. Sampai dua kali campur tangan lagi!”

Walau begitu, sekarang dosen Saya sudah malang-melintang di dunia perkonselingan. Selain menjadi dosen, beliau menjadi guru BK di sekolah menengah. Beliau juga menjabat di perkumpulan guru BK di salah satu kota di Jawa Timur. Nah, kelancangan Tuhan pada dosen Saya tersebut, yang menjadikan dosen saya seperti sekarang ini, menjadi dosen sekaligus guru plus pejabat dalam perkumpulan disiplin ilmunya.

Hei! Saya juga merasakan campur tangan Tuhan lho. 

Dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, Saya disekolahkan di sekolah umum. Umum semua! Tidak ada embel-embel agamanya. Kalau ada agamanya, toh cuma dalam salah satu pelajaran dan kegiatan formalitas keagamaan saja. Saya lahir dari latar belakang keluarga yang tidak seberapa khusyuk dalam beragama. Sudah menjalankan kewajiban beragama saja, sudah dianggap baik.

Sewaktu kecil, Saya juga seperti anak-anak pada umumnya. Di desa, kalau sore Saya juga berangkat mengaji. Bedanya, setiap bulan Saya selalu pindah tempat mengaji! Iqra’ pun Saya tak ingat dulu pernah mengkhatamkan atau tidak. Dampaknya, saat tumbuh dewasa, Saya mengalami kegagapan dalam mengaji. Untuk ayat-ayat yang pendek, Saya masih  bisa membacanya, tetapi untuk ayat-ayat yang terdapat pada juz  1-29 duh! Saya angkat tangan.

Saya yang dari taman kanak-kanak sampai sekolah menengah atas tidak pernah sekolah agama. Lah kok waktu kuliah Saya diterima di Universitas Islam! Pendidikan pertamaku yang ada embel-embel agamanya: Universitas! Kerjaan siapa lagi ini kalau bukan; Tuhan.

Sebelum masuk Universitas tersebut, Saya di tes mengaji, membaca bahasa arab dan menulis bahasa arab. Hasilnya tidak perlu Saya jelaskan, kalian sudah mafhum. Karena keadaan sekitar, Saya dituntut untuk bisa mengaji, memahami bahasa arab paling tidak dasarnya, menulis arab paling tidak bismillahirrahmanirrahim dan alhamdulillahirrabil ‘alamin. 

Maaf. Tidak maksud hati Saya untuk sombong. Benar, Saya tidak bermaksud.

Dulu yang hanya bisa baca Tabbat yada, qulhu, falaq, Annas. Perlahan, Saya bisa membaca surat-surat di juz 30, Al-Mulk, Yasin. Walaupun hanya beberapa surat dari total 114 surat, Saya bersyukur atas “kelancangan” Tuhan yang menempatkanku pada lingkungan di mana Saya harus dituntut untuk bisa sesuatu. Andai kata, Saya tidak dimasukkan oleh Tuhan di Universitas Islam, mungkin sampai saat ini Saya hanya berputar pada empat surat terakhir dalam Alquran.

Begitulah ajaibnya campur tangan Tuhan. Sesuatu yang tidak kita kehendaki bisa jadi Tuhan sangat kehendaki. Campur tangan Tuhan bisa menerangkan yang gelap. Melapangkan yang sempit. Menjernihkan yang keruh. Membesarkan yang kecil. Bahkan mengecilkan yang besar.

Semenjak merasakan campur tangan Tuhan, Do'a Saya selalu begini:

“Tuhan, campuri aku dalam setiap urusanku. Aku rela engkau lancang kepadaku, Tuhan. Aku rela. Kalau bisa, obok-obok Aku selalu, Tuhan Yang Maha Lancang”