Ibnu Arabi dalam buku Misykatul Anwar (Pelita Cahaya) kumpulan 101 Hadis Qudsi yang diterjemahkan oleh Stephen Hirtenstein and Martin Notcutt (2004) dengan judul Divine Sayings 101 Hadith Qudsi Miskat Al-Anwar mencoba mengikat diri kita kepada Muhammad dan Allah agar kiranya hidup secara spiritual. Minimal meresapi seteguk makna dan hakikat dari keadilan. Sesuatu yang kecil tapi berat dilakukan dalam kehidupan.

Tentu, hidup secara spiritual adalah salah satu jalan hidup yang layak dijalani tanpa meninggalkan bumi dengan merefleksikan pesan-pesan Tuhan yang sederhana seperti pesan keadilan tetapi  relevan hari ini. Dan beruntunglah, jika setiap kebaikan bisa diimplementasikan dalam level kebijakan politik yang lebih besar.

Salah satu potongan hadis Qudsi yang dikemukakan Syaikhul Akbar ini:

“O My servants, I have forbidden injustice to Myself and I have made it forbidden amongst you. So be not unjust to one another.

"Hai hamba-hamba-Ku, Aku telah melarang ketidakadilan kepada diri Aku sendiri dan Aku pun telah membuatnya terlarang di antara kalian. Jadi, janganlah zalim satu sama lain.

Nalar subjektif saya yang sederhana beranjak dari premis sebagai berikut: Allah adalah maha adil dan mustahil zalim. Adil adalah salah satu sifat Allah. Adil itu baik bagi semua sehingga Allah perintahkan berbuat adil kepada siapa pun. Adil itu wajib hukumnya.

Allah berfirman dalam Al-Quran: “sungguh Allah memerintahkan kalian berbuat adil dan kebaikan yang tulus dst”. Pram menuliskan juga dalam bumi manusianya sebagaimana sering dikutip: “adil harus dimulai sejak dari dalam pikiran dan terlihat dalam perbuatan.”

Allah tahu bahwa manusia secara individu teramat berat berbuat adil atas sesamanya. Lebih banyak dipicu oleh ketololan. Banyak faktor penyebab lain, dari individu yang tamak atau lingkungan sekitar yang korup secara sistemik misalnya pemerintah, politisi, birokrat, penegak hukum, negara yang terbiasa dan keterlaluan korup kepada yang dilayani yaitu rakyat.

Allah melarang kepada kita baik sebagai orang biasa atau sebagai orang yang diberi amanah untuk berbuat zalim. Hukumnya lebih haram dari haram itu sendiri.

Muhammad sebagai manusia sempurna adalah teladan yang baik. Beliau mengajarkan kepada kita untuk tak menzalimi orang lain agar tak jatuh dalam kebodohan yang tersusun. Beliau dalam banyak catatan tak pernah menzalimi orang lain.

Hingga seorang sahabat bernama Ukasyah ibnu Muhsin pernah berpura-pura berkasus terzalimi demi memeluk nabi. Yang tercatat, nabi pernah terzalimi salah satunya di Thaif yang memancing kemarahan Jibril. “Akankah kau titahkan mengangkat gunung dan menimpakan kepada mereka wahai Nabi? Nabi berkata, jangan. Mereka zalim karena tak tahu atau bodoh”.

Maka sikap untuk selalu berbuat adil di samping meneladani Rasul, merefleksikan pesan Allah, juga baik secara filosofis menciptakan kepercayaan kepada orang lain dan menciptakan kemakmuran dalam batas yang bisa diupayakan serta tentu saja keluar dari maqom kebodohan dan ketololan.

Salah satu contoh kecil menarik dari keadilan yang diamalkan dalam beragam dimensi sehingga menciptakan kemakmuran, terlihat dalam kehidupan sehari-hari dan sistemik orang-orang Jepang dan negara Jepang, yang tentu saja makin intensif pasca perang dunia kedua oleh karena proses industrialisasi yang demikian dahsyat.

Orang Jepang akan selalu bekerja keras, tepat waktu dan menghargai sesamanya dan siapa pun pendatang dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mereka saling menyapa dan membantu. Pola sosial dan interaksi sederhana ini adalah modal sosial yang memantik mutual trust di mana efeknya Jepang salah satu negara paling maju secara ekonomi dan aman di dunia.

Kemakmuran tinggi dan kriminalitas sangat rendah sehingga orang Jepang bisa plesiran ke mana pun, memodali negara-negara Asia dan Afrika. Siapa pun bisa pulang larut kapan pun. Tak terlihat sedikit pun bahwa Jepang punya sejarah yang kelam di perang dunia kedua. Waktu telah membuat Jepang beradab dan berubah drastis. Transformasi ekonominya sejalan dengan pembangunan institusi politik demokrasinya yang melayani.

Pemerintah Jepang merancang kebijakan politik yang diupayakan inklusif bagi semua kalangan terutama para penyandang cacat demi keberlangsungan bangsa dan negara Jepang yang demokratis. Ketika pajak naik, pemerintah telah menyiapkan lapangan pekerjaan dengan gaji yang layak secara merata dan memberikan uang tunai kepada anda yang hanya berpendapatan rendah misalnya.

Contoh lain, anak, ibu rumah tangga dan para lansia diproteksi secara sistemik, paling tidak bisa membahagiakan mereka di tengah sistem kapitalistiknya yang tak terelakkan dan harus dirayakan dengan nalar. Jadi, Kerja keras, tepat waktu, menghargai, kebijakan sistematis sebagai manifestasi dari keadilan terlihat di negeri matahari terbit ini.

Apakah di Jepang tak ada kezaliman. Jelas ada, tapi paling tidak bisa diminimalkan oleh masyarakat dan pemerintahnya. Hingga kata Hannah Arendt dalam dialog imajiner sekte kebahagiaan di negeri matahari terbit ini berkata, “Jepang adalah negara sosialisme modern yang memperhatikan sesama”. Jika sempurna, itu artinya surga di dunia sana yang tak tersentuh.

Adil kepada diri sendiri dan orang lain serta adil secara sistemik tanpa pandang identitas itu adalah salah satu pesan Tuhan kepada kita, terutama kepada penguasa dan jika dibawa ke level kebijakan, sesungguhnya bisa mengubah Indonesia menjadi negara inklusif yang maju dan beradab. Ini pesan Tuhan. Mana pesan kamu?