Buku tipis dengan judul Man’s Search For Meaning karya Viktor E. Frankl masih jadi salah satu buku favorit saya untuk beberapa waktu ke depan sebelum akhirnya dapat menemukan kembali penggantinya. 

Buku memoar para penyintas (survivors) entah mengapa selalu mendapat tempat di hati saya. Di tengah kejam dan fananya kehidupan, mereka mampu melewatinya dengan sisa-sisa kekuatan yang ada. (When Breath Becomes Air karya Paul Kalanithi dan Night dari Elie Wiesel adalah dua buku memoar lain dari dua orang penyintas yang saya kagumi).

Viktor Frankl mampu bertahan sebagai tahanan di camp konsentrasi Auschwitz setelah melewati begitu banyak penderitaan lahir dan batin. Alih-alih ingin mengakhiri hidup, Frankl memilih untuk melanjutkan hidup di tengah segala keterbatasan, yang tentu saja tidak semua orang mampu untuk bisa sekuat dan setegar dirinya.

Frankl di kemudian hari dikenal sebagai psikiater dengan metode psikoterapi yang ia ciptakan sendiri bernama “logoterapi”. Logos berasal dari bahasa Yunani yang berarti “makna”. 

Logoterapi memusatkan perhatian pada pencarian makna dalam setiap tragedi kehidupan yang dilewati. Frankl meyakini bahwa seberat apapun ujian kehidupan mendera, kita pasti bisa menemukan makna di dalamnya yang bisa menjadi alasan mengapa hidup layak untuk dilanjutkan. Manusia memiliki tujuan dan maknanya sendiri-sendiri.

Makna hidup, kata Frankl, bisa ditemukan masing-masing manusia melalui kebebasan spiritual dan kebebasan berfikir. Meskipun mereka berada dalam kondisi mental dan fisik yang sangat tertekan. 

Kita simak kata-kata Frank yang dalam buku ini dikutip begitu indah: “Apa pun bisa dirampas dari manusia. Kecuali satu: kebebasan terakhir seorang manusia—kebebasan untuk menemukan sikap dalam setiap keadaan. Kebebasan untuk memilih jalannya sendiri.”

Dalam melewati probelamatika eksistensial, kehampaan jiwa bisa menjadi faktor penentu munculnya masalah-masalah neurosis (ketidakseimbangan mental yg menimbulkan gejala seperti stress dan depresi). Sikap psimis dalam menjalani hidup bisa jadi salah satu contohnya. 

Seseorang yang psimis dalam penderitaan acapkali tidak berhasil dalam melewatinya. Penderitaan telah mematahkan semua alasan yang menjadikannya bisa bertahan. Itulah yang ingin dihilangkan oleh Frankl. Setiap manusia memang pasti melewati penderitaan. Hidup ini sendiri—meminjam istilah Schopenhauer—adalah “dosa asal” (original sin is the crime of existence itself) yang memang meniscayakan kita untuk menderita. 

Masih menurut Schopenhauer, hidup adalah manifestasi dari keinginan-keinginan dan ambisi-ambisi yang tak akan pernah terwujud. Sekalipun terwujud, manusia tak akan pernah terpuaskan. 

Sehingga manusia menderita. Laqod khalaqna al-insāna fī kabad, sesungguhnya Kami ciptakan manusia dalam kesusahpayahan. (QS Al-Balad: 4). Bagaimana cara kita menjalani kehidupan lah yang akan membuatnya bermakna.

Dalam pergulatan penderitaan tak terkira akan selalu ada makna di baliknya. Agama mengajarkan bahwa akan selalu ada kebaikan dalam setiap peristiwa. Ia melazimkan kita untuk senantiasa bersyukur atas apa-apa yang kita terima, baik saat kita bersuka maupun saat gurat-gurat wajah pancarkan derita.

Wa annahụ huwa aḍ-ḥaka wa abkā. Wa annahụ huwa amāta wa aḥyā. Dan bahwasanya Dialah yang menjadikanmu tertawa dan menitikan air mata. Dan bahwasanya Dialah yang menjadikanmu sirna dan mengada. (QS. An-Najm : 43-44). Lalu adakah Tuhan tidak memiliki maksud tertentu di balik semuanya?

Kita menganggap semuanya berlawanan. Suka cita berhadapan dengan dukanya. Kehidupan bertolak belakang dengan kematian. Tetapi sekali-kali tidak. Kedua hal tersebut harus menjadi entitas tak terpisahkan yang harus selalu kita syukuri keberadaannya. 

Bahkan dalam kematianpun ada pujian kita pada Sang Maha Pemberi, bahwa kehadirannya membimbing kita pada kesabaran. Ada makna dari setiap beratnya beban. Dia masih mempercayakan kita untuk menanggungnya. Inna ma'al-'usri yusrā. Bahwasanya tiap-tiap kesulitan beriringan dengan kemudahannya. (QS. Al-Insyirah : 6).

Apa jawaban Sayyidah Zaynab Al-Qubra, seorang perempuan keturunan Rasulullah Saw. ketika menyaksikan penderitaan bertubi-tubu di depan matanya? Mā ra-aytu illa jamīlan. Sungguh tidak aku menyaksikannya kecuali keindahan.

Imam Ali bin Abi Thalib kw. suatu saat menasehati sahabatnya untuk tidak segera mengambil kesimpulan dalam setiap peristiwa. “Ada sesuatu berwarna putih yang kau anggap baik, namun kau hindari. 

Ada seuatu berwarna hitam, yang kau anggap buruk, namun kau senantiasa rindukan”, katanya. “Apa itu yang berwarna putih yang selalu senantiasa dihindari dan hitam yang dirindukan?”, tanya sahabat. “Yang putih itu kain kafan dan yang hitam itu Kabah Baitullah”.

Derita layaknya berjalan di kegelapan dengan bebatuan kasar di bawah kaki kita. Sebagian orang memungutnya beharap bebatuan kasar itu akan berguna untuknya. Sebagian lagi ia anggap bebatuan biasa yang hanya jadi malapetaka, ingin segera ia meninggalkannya. 

Mereka tidak tahu bawa setelah dibawa keluar dari kegelapan, bebatuan itu ternyata intan permata yang tak ternilai harganya. Begitulah masalah mendera, setiap orang pasti akan mendapat makna darinya, sebagian lagi mengutuk dan menyesalinya.

Belajar dari Frankl, hiduplah dalam pencarian makna. Sekeras apapun ujian berusaha menjatuhkan kita, keyakinan akan mengalahkannya. “What doesn’t kill you makes you stronger”, kata Nietzsche. 

Apa-apa yang tidak membunuhmu akan membuatmu semakin kuat. Akan ada secercah harapan di luar sana yg menanti kita untuk tetap melanjutkan hidup. Kalaupun harus berakhir dengan kematian, jadikanlah kematian tersebut bermakna.