Hari ini adalah hari keduaku hidup di Jakarta, setelah kemarin datang dari Makassar untuk melakukan wawancara dan presentasi makalah seleksi Sekolah Maarif, Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Buya Syafii Maarif (SKK) periode 3. Hari ini giliran gelombang kedua wawancara dan presentasi makalah, makanya, kami dapat satu hari yang free. 

Pagi ini, aku tidak perlu terburu-buru bangun dari pembaringan. Tidak perlu kaget juga di waktu sebelum subuh, jam empat melihat Ais teman kamarku dari NTB yang bangun untuk belajar, membaca, dan memperbaiki makalahnya kemarin. Gadis keren ini memang kuat dan rajin sekali membaca.

Aku pun bermalas-malasan, seperti lagu yang berjudul The lazy song milik Bruno Mars: Today, I don't feel doing anything, I just wanna lay in my bed.

Ya, ingin tiduran atau rebahan saja sambil main hape, buka medsos atau dengar podcast atau lagu di Spotify. Tiba-tiba lagu dari Maudy Ayunda mengalun, lagu yang pas sekali menggambarkan situasi hari dan suasana hatiku, Jakarta ramai hatiku sepi;

Pagi memanggil kota yang lelap ini, dia bertanya, bagaimana harimu. Apa kabar mimpi-mimpimu, apa kau tinggal begitu saja, apa kabar angan-anganmu hari ini. Jakarta ramai, hatiku sepi. Jangan kau tanya mengapa sedih, kutak tahu, kutak tahu. Apa arti resah ini, entah apa yang kumau, penuh tanya dalam diri. Jakarta ramai.

Apa arti resah ini? Menunggu pengumuman masuk tidaknya diriku pada seleksi SKK 3 ini? Sehingga, bisa menjadi peserta yang nyata. Ataukah resah-resah yang lainnya, mengingat ibu di rumah yang lansia, merindukan seseorang, atau...

"Kakak, sarapan yuk?" kata Ais tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Dia bangkit dari pembaringan.

Aku melirik jam, sudah jam sembilan lewat rupanya. Kami pun turun untuk sarapan yang semalam memang sudah ditawarkan pilihan menu. Kami disuruh memilih makanan, di antaranya: nasi goreng kampung, nasi campur, nasi kuning, nasi gudeg, dan lain sebagainya.

Aku memilih yang terakhir, nasi gudeg. Sudah lama rasanya lidah ini tidak merasakan manisnya makanan, apalagi manisnya cinta (eaaa).

Sebelum sarapan, aku sempat meminta Ais mengambil gambar diriku, memfoto diriku dengan latar belakang pohon natal, kado natal, boneka Sinterklas, dan sebagainya. Aku ikut bahagia, bersuka cita. 

Setelah sarapan, Ais mengajakku jalan-jalan di sekitar hotel, kami masuk pasar. Ah, murah-murah, kerudung segi empat misalnya, lima belas ribuan doang, di Makassar dengan model yang sama dihargai tiga puluh lima ribuan tuh.

Kaos kaki tiga pasang seharga dua puluh ribu, apalagi ya? Ah, pasar tradisional memang selalu murah meriah. Namun, semalam, kami sempat heran setelah membeli merek susu yang bergambar beruang, di Makassar dihargai delapan ribuan, di sini kena sepuluh ribu. Jelas, beli di toko yang dekat hotel dan tempat kuliner. 

Sekolah Sadra

Sehabis duhur, Aku, Ais, dan seorang teman dari Madura peserta SKK 3 juga, Fauzy, jalan bertiga. Teman-teman yang lain juga melakukan hal sama, punya tempat dan ruang masing-masing untuk dikunjungi. Kami memesan car online ke toko buku Sadra press yang kata Ais lagi diskon gede-gedean. 

Sepanjang perjalanan, Ais dan Fauzy banyak berdiskusi tentang Islam kanan dan kiri, pluralisme, budaya, dan organisasi mahasiswa. Diskusi itu baru berhenti ketika kami sudah tiba di Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) College of Islamic Philosophy, Sadra.  Ternyata, Sadra press berada di lantai empat. 

Mungkin karena ketahuan "baru" ke sana, kami akhirnya diantar oleh seseorang, langsung ke tujuan. Di sana, kami senang sekali melihat banyak buku-buku menarik mata dan perhatian. Si Ais yang sudah sedari awal mau memborong banyak buku sudah semangat 45 untuk mencari. 

Di sana, terlihat juga, dua orang mahasiswi yang sedang membeli buku. Mereka terlihat ramah melihat kami yang antusias. Jangan-jangan karena ketahuan orang baru lagi yang datang di Sadra. Kami akhirnya berkenalan.

Segala puji bagi Tuhan, salah satu dari mahasiswi itu adalah perempuan yang berasal dari "kampung" yang sama dariku, Polewali Mandar. Dia kami bertanya tentang aktifitasku di Jakarta, aku bilang, aku lagi akan mengikuti short course Sekolah Maarif. Kami saling terbuka, ketika kutanyakan tentang kuliahnya, jika dia adalah mahasiswi Sadra yang lagi menyusun skripsi.

Tiba-tiba, kata dia; kok, saya kayak kenal kakak, ya? Aku juga bingung. Aku lalu meminta kontaknya, nomor WhatsApp (WA). Siapa tahu besok ketemu lagi, pikirku.

Kata dia lagi, kayaknya kita berteman kak, di Facebook (fb). Aku mencari namanya langsung di Fb, benar, ada. Wah! Kata dia, aku membaca beberapa tulisan kakak di Qureta. Waduh, aku hanya suka curhat kataku. Padahal, ketika aku membaca tulisan dia sendiri di status-statusnya di Fb sangat keren penuh kritik.

Tuhan tahu tapi menunggu, God sees the Truth but Waits, meminjam istilah penulis Rusia, Leo Tolstoy. Tuhan tahu tapi kita, hamba yang menunggu untuk dipertemukan kataku. Kami berlima berkenalan dan saling mengobrol. Wah, senangnya bertemu dengan teman baru.

Ternyata, jalan-jalan hari ini sangat seru; kami membeli buku dari toko buku Sadra press yang sudah diskon, dikasih bonus jurnal juga. Berkenalan dengan dua mahasiswi Sadra dari Sulawesi Barat dan Jambi. Makan di warung Tegal (Warteg) yang murah-meriah. Naik kereta api listrik, MRT pertamakali dengan katrok, cuci mata di kompleks blok M sebelum naik busway yang akhirnya tidak jadi, karena kami memilih naik car online lagi.

Dan malamnya dapat pengumuman, kami semua (diterima) resmi menjadi peserta SKK ASM. Alhmamdulillah, Tuhan tahu tapi menunggu...