Tuhan sedang membelai pipiku, ketika aku menangis tersedu-sedu. Tuhan sedang memelukku erat, ketika aku ketakutan yang teramat.

Aku tidak pernah ingin siapa pun melihat air mataku mengalir, tapi aku tidak pernah bisa bersembunyi dari-Nya. Ketika kehidupan yang kutata sedemikian rapi diterjang badai, Tuhan menggenggam erat tanganku.

"Tuhan, aku tidak kuat." Lirihku dalam hati.

Aku selalu mendengar dia menjawab, "Jangan menyerah!"

Benar, aku tidak pernah menyerah. Bahkan sampai penyerahan itu yang akhirnya menyerah sendiri. Aku hanya perlu merintih sejenak menikmati duka ini.

Ujian hidup nan bertubi-tubi datang silih berganti. Satu belum usai, masih datang yang baru lagi. Bak jatuh tertimpa tangga.

Bagaimana aku bisa sekuat karang di laut? Kadang aku bisa, kadang aku tidak tahu harus bagaimana. Aku pun ingin selalu setegar karang itu.

Kadang aku sadar, ujian manusia berbeda-beda kadarnya, kadang aku merasa orang yang paling menderita. Ujian hidup sering menghilangkan rasionalnya pikiran manusia. Mungkin ini faktor kerap ingin mengakhiri hidup.

Aku juga begitu, kadang aku merasa ingin hidup seribu tahun lagi, kadang aku ingin menggantikan nasib orang dalam keranda. Begitu luar biasanya ujian hidup ini menimpaku.

Aku manusia biasa. Aku tidak bisa sebijak falsafah hidup yang sering kubaca. Pun kata mutiara orang lain, aku hanya merasa dunia ini gelap. Dan, aku ingin bebas.

Ketika ada badai, kita bisa berusaha berlari. Tapi, ini "badai" yang mengikat kakiku agar menikmatinya sampai usai. Pertanyaan yang selalu terucap dan belum tentu terjawab seketika, "Aku harus bagaimana?"

Adalah ketidakmungkinan ketika Tuhan membiarkan kita diamuk badai kehidupan. Tapi, yang kualami adalah mati tidak, hidup juga tidak. Masihkah Tuhan memegang erat tanganku?

Masih. Kutahu badai-badaiku yang telah lalu mungkin lebih parah dari ini, tapi aku masih berdiri kokoh. Sampai badai kali ini kembali datang menerjang tanpa peduli permohonan ampunku.

Ternyata, aku bukan manusia yang adil. Aku tidak bisa memperlakukan "suka" dan "duka" dengan porsi sama. Aku selalu ingin mengusir jauh-jauh "duka" yang menghampiriku.

Untuk apa semua ini, Tuhan? Apakah pengisi antara lahir dan ajalku seberat ini?

Aku merenung sejenak. Mungkin, aku harus menghabiskan dahulu jatah dukaku, sebelum Tuhan memberikan jatah sukaku. Keyakinan yang menghujam tajam di hatiku adalah Tuhan tidak mungkin tidak sengaja menciptakan aku ke dunia ini. Tuhan tidak se-konyol itu.

Meskipun aku bukan orang yang taat beragama, aku meyakini bahwa yang kualami bukan sesuatu yang tanpa makna. Jika satu huruf saja berperan dalam terbentuknya kata, apalagi ujian hidup yang bertubi-tubi dalam hidup seseorang.

*

Tuhan sedang membelai pipiku, ketika aku menangis tersedu-sedu. Tuhan sedang memelukku erat, ketika aku ketakutan yang teramat.

Aku sering merasa asing di dunia ini, bahkan dengan diriku sendiri. Tapi, Kau tak pernah asing bagiku. Aku selalu merasa hangat dalam pelukan-Mu.

Aku selalu anak kecil yang tersandung-sandung, lututku luka dan berdarah, dan Engkau yang mengobatinya. Aku selalu merengek minta ini-itu, Engkau yang memilihkan apa-apa yang terbaik untukku.

"Tuhan, lapangkan hatiku selapang langit di angkasa," pintaku mengalah pada keadaan.

Kau selalu menjawab segala risauku, "Jangan menyerah!"

Baik, Tuhan. Aku tidak pernah menyerah. Aku tidak berhenti belajar berjalan meski aku sering terjatuh dan lututku berdarah. Aku selalu ingin berlari meski badai kapan saja datang. Aku tidak peduli. Aku ingin belajar memperlakukan apa pun di dunia ini dengan adil, termasuk suka dan duka. Aku ingin menikmati pahit dan manis hidup ini, seperti secangkir kopi.

Kau telah mengajari, bahwa gelap malam akan berganti terang siang. Apalagi, badai ini. Ternyata, aku terlalu tinggi berharap. Aku berharap bisa mengenyahkan duka, padahal itu kewenangan-Mu. Sekarang, aku berharap Engkau menguatkan dan melapangkan hatiku menikmati badai ini. Bahwa, aku hanya manusia biasa yang tiada daya apa-apa.

*

Tuhan sedang membelai pipiku, ketika aku menangis tersedu-sedu. Tuhan sedang memelukku erat, ketika aku ketakutan yang teramat.

Tuhan sedang mengajariku, bahwa untuk menjadi tajam harus diasah sedemikian rupa. Dan, itu sakit sekali.

Kenapa aku harus menjadi tajam, Tuhan? Aku selalu merasa cukup dengan keadaanku. Ah, Kau terlalu menyayangiku! Aku lupa, jika parang yang tajam akan lebih berguna untuk memotong balok kayu.

Meskipun aku bukan orang yang selalu memuja-Mu, keyakinan menghujam tajam di hatiku bahwa tiada satu hal pun di dunia ini sia-sia. Termasuk tiap ujian nan silih berganti ini mengandung pembelajaran.

Kau membuatku belajar, bahwa kebaikan harus ditebarkan kepada apa dan siapa saja tanpa harap kembali. Kepada alam, binatang, benda, apalagi sesama manusia.

Kau mengajari bahwa semua di kehidupan ini tak harus dimiliki dan dipaksakan. Ada hal-hal yang harus diikhlaskan tanpa pertanyaan sebabnya. Aku ikhlas. Kau selalu mencintaiku dan tak pernah berhenti membuatku jatuh cinta. Kau lembutkan hatiku selaras Kau menguatkannya.

Aku ingin kembali kepada-Mu dan meninggalkan sesuatu yang berharga dari sekadar nama. Aku ingin mengisi jarak lahir dan mati lebih dari sekadar meratapi diri. Aku ingin berbagi kebaikan kepada orang lain sebagaimana aku ingin hidup seribu tahun lagi. Aku ingin melihat orang-orang selalu tersenyum bahagia seberat apa pun duka menimpanya.

Mungkin itu sebabnya Engkau menempaku sedemian rupa. Salam rinduku, Tuhan. Aku pun rindu ingin kembali damai di pangkuan-Mu.