Mengapa Tuhan menciptakan alam raya? Tak lain karena Ia telah jatuh cinta. Pada siapa? Siapa lagi kalau bukan Muhammad sang manusia mulia yang kemudian menjadi kekasih abadi-Nya sepanjang masa, bahkan sejak sebelum adanya masa. 

Rasa cinta itu dideklarasikan dalam Hadits Qudsi: Lauláka, lauláka, ya Muhammad, má khalaqtul afláq. Kalau tidak karena engkau, kalau tidak karena engkau, wahai Muhammad, Aku tak akan menciptakan alam raya se-isinya.

Betapa indah dan menggetarkannya cinta itu.

Saat Adam diciptakan sebagai manusia pertama ketika ia harus menikahi Ibunda Hawa, satu-satunya mahar yang disyaratkan adalah shalawat atas Muhammad sebagai rasul Allah, padahal saat itu Muhammad belum lahir, tapi nur (cahaya)-nya sudah ada di genggaman Allah.

Dan memang begitulah sesungguhnya. Nur Muhammad adalah asal muasal penciptaan alam raya. Allah berfirman: Aku ciptakan Muhammad dari NurKu, dan Aku ciptakan alam raya dari Nur Muhammad.

Jelas sudah bahwa sumber penciptaan adalah cinta. Cinta itulah yang menggerakkan Allah menciptakan Muhammad dari NurNya dan kemudian cinta itu diejawantahkan menjadi kehidupan yang agung melalui penciptaan alam raya dan segala isinya. Kita tahu, alam raya adalah ketidakterbatasan, kemahaluasaan, dan sebuah keagungan.

Itu pula yang membuat kita sadar dari mana dimensi ilahiah (ketuhanan) kita itu berasal. Ternyata dari Nur Muhammad saat semua makhluk mulai diciptakan. Dimensi ilahiah itu yang tertanam di dalam diri setiap manusia, sehingga akan selalu ada dorongan untuk menciptakan kebaikan, untuk selalu berbuat kebaikan, dan merasa berdosa ketika berbuat keburukan. Mengapa bisa begitu?

Karena dimensi ilahiah itu suci, sepi dari noda, nihil dari dosa, sehingga ketika ada keburukan yang kita lakukan, maka ketidaktenangan hidup, kegelisahan, ketakutan, dan penyesalan tak akan pernah bisa kita hindari. Karena dimensi-dimensi suci dalam diri kita menolak untuk bersentuhan dengan keburukan.

Cinta itu suci. Cinta itu murni. Cinta itu jernih. Nafsulah yang kemudian merangsek ingin menguasai setiap diri. Dan nafsu pulalah yang menggerakkan rasa benci.

Maka pergulatan manusia adalah pergulatan abadi. Pergulatan antara cinta dan benci. Bolehlah dibilang bahwa benci itu tidak ada. Yang ada adalah ketiadaan cinta. Tapi apakah tiadanya cinta berati adanya benci? Sesungguhnya tidak. Tiadanya cinta adalah sebuah kehampaan, sebuah kekosongan yang menyiksa, sebuah siksaan hidup tanpa jiwa.

Sementara benci adalah soal lain. Benci adalah ketidakterkendalian hawa nafsu yang kemudian berhasil menguasai hati. Ia telah menjajah jiwa yang sebelumnya merdeka. Jiwa yang penuh cinta. Maka untuk mengendalikannya, manusia butuh ilmu, butuh belajar, dan butuh mendekati energi positif yang dihembuskan oleh cinta.

Tapi bukankah nafsu adalah bagian dari fitrah manusia? Ya. Memang demikian. Nafsulah yang membuat manusia bisa melangsungkan hidup, karena itu juga bagian dari mekanisme biologis. 

Menghilangkan nafsu adalah menghilangkan hidup manusia. Karena itulah, bukan nafsu yang harus digugat, tapi kemampuan manusia untuk mengendalikannya. Justru manusia menjadi mulia karena memiliki nafsu di dalam dirinya.

Bagaimana bisa? Tentu saja. Nafsu memungkinkan manusia menapaki derajat-derajat kemuliaan ketika ia bisa mengatasi dan melampauinya. Itulah kenapa malaikat-malaikat dan iblis disuruh bersujud, karena dimensi kemuliaan yang dimiliki manusia melalui pergulatan individualnya antara mengumbar nafsu dan mengendalikannya memungkinkannya untuk menjadi yang paling mulia.

Lihatlah malaikat. Ia makhluk yang taat. Makhluk yang tak tersentuh dosa. Tapi karena tak punya nafsu, ia menjadi makhluk yang statis, tak punya kebudayaan, tak bisa menikmati seni dan keindahan. Bisanya hanya menjalankan perintah saja. Tak punya kehidupan kreatif. Tak punya tradisi argumentatif. Mulia memang, dari sisi ketaatan, tapi masih kalah mulia dengan manusia karena punya pikiran, dan cinta.

Cintalah yang sesungguhnya membuat kemuliaan manusia melampaui makhluk lainnya. Cintalah yang membuat segalanya ada. Cintalah yang membuat diri kita ada.

Kalau tidak karena cinta Allah pada Muhammad, maka alam raya ini tak akan pernah ada. Kalau tidak karena cinta ibu bapak kita, maka kita tak akan pernah ada di dunia. Kalau tidak karena cinta kita dengan pasangan kita, tak akan terlahir anak-anak kita. Begitulah seterusnya. Bahkan kalau tak ada cinta yang kita pancarkan ke dunia, maka kehidupan ini akan punah dengan segera.

Mari kita jaga cinta. Mari kita lestarikan cinta. Mari kita gelorakan cinta di mana-mana. Karena itu sumber ketenteraman kita.

Percayalah, butuh seribu alasan untuk membenci, tapi kita hanya butuh satu alasan untuk mencintai. Bukan begitu, kawan?