Saya hanya menggelengkan kepala, ketika membaca berita Bupati Banyuasin, Sumatera Selatan, ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) seusai acara pengajian untuk menunaikan ibadah haji.

Usut punya usut, KPK merendus ongkos naik haji yang digunakan sang bupati, uangnya diduga berasal dari korupsi. Bahkan saat ditangkap, petugas KPK memergoki bukti setoran naik haji itu dari anak buahnya sang bupati.

Saat di gelandang dari rumah dinasnya pada 4 September lalu, isterinya seolah tak percaya, kalau sang suami bakal menempati jeruji besi dan batal menunaikan ibadah ke Tanah Suci.

Begitulah penggalan kisah operasi tangkap tangan KPK dan buruknya imajinasi, mental dan kepemimpinan Yan Anton Fediyan, begitu nama Bupati Banyuasin.

Politikus Golkar itu, meletakan Tuhan jauh dari hati. Imajinasi yang ia bangun, seolah tak masalah jika ibadah menggunakan uang dari hasil korupsi. Terpenting bisa menunaikan rukun islam kelima demi reputasi dan gengsi.

Potret Yan Anton, adalah contoh kalau korupsi Indonesia sudah menggurita. Semakin nyata pula, bahwa semakin jauh seorang politikus dengan Sang Pencipta, akan rentan perilaku korup dan perbuatan nista.

Seorang politisi dan pejabat, jika jauh dari nilai-nilai ketuhanan, akan menghalalkan segala cara mengejar pulus. Tak peduli uang haram. Ia akan menomorduakan Tuhan diatas segepok uang demi kultus dan status.

Kehadiran Tuhan bagi para politisi terkadang hanya formalitas di hamparan sajadah saat shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Tuhan hanya ada saat safari politik ketika Ramadhan tiba. Tuhan hanya melekat dalam baju kokok sebagai pelengkap kuasa dan tahta.

Lihatlah, kasus korupsi program aspirasi di Komisi V DPR RI. Atau  korupsinya Bupati Musi Banyuasin Fahri Azhari. Serta korupsi dana bansos oleh Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho.

Tuhan dianggap tak memberikan langsung siksa di dunia.  Mereka berjamaah menyedot uang rakyat tanpa takut disiksa. Mereka seenaknya menggunakan uang negara seolah tanpa dosa.

Padahal sudah jelas wahai politisi! Sungguh Neraka bagi mereka yang menerima dan memberi suap. Tapi mengapa ancaman itu belum cukup jadi peringatan agar berhenti korupsi.

Faktanya korupsi semakin liar. Sudah menjalar dari ketua DPD, hakim, bupati, gubernur dan DPR. Sementara, KPK terus mengintai dan mengejar para pelaku korup dengan radar.

Faktanya lain juga, banyak pejabat martabatnya oleh Tuhan direndahkan dengan penyakit stroken dan kanker, itu karena banyak memakan uang hasil korupsi.

Atau anaknya banyak terjerat narkoba dan kehidupan rumah tangga yang tak pernah reda dari masalah. Itulah rentetan simbolis siksaan dari Tuhan bagi pelaku korupsi di dunia.

Mengabaikan Tuhan

Menurut hemat saya, merajalelanya ‘korupsi politik’ dan ‘korupsi birokrasi’ di Indonesia, salah satunya disebabkan oleh persepsi bahwa Tuhan dianggap tak dekat dan tak melihat.

Sementara, serangkaian ayat dan surat, dilanggar tanpa ada nilai patut dan taat. Memang, Tuhan tidak memberikan sipat berani anti korupsi kepada manusia langsung sejak dari rahim. Akan tetapi, Tuhan memberikan akal agar manusia bisa membedakan yang baik dan lazim.

Itulah mengapa, manusia diberikan kekuatan imajinasi yang menurut  Yasraf Amir Piliang (2011:xxi), sebuah mekanisme psikis dalam melihat, melukiskan, membayangkan atau memvisualisasikan sesuatu di dalam struktur kesadaran yang menghasilkan sebuah citra.

Artinya, seberapa bagus imajinasi para pejabat di daerah terhadap korupsi, akan terlihat dari cara mengatasi masalah dan menggunakan anggaran daerah. Apakah kebijakannya anti korupsi? Atau hanya menguntungkan kerabat dan kroni?

Lihatlah sosok Ahok! Ia bukan seorang muslim. Akan tetapi jiwa anti korupsinya lahir dari sebuah keyakinan bahwa Tuhan membenci perbuatan korup.

Padahal, ujian Ahok luar biasa. Ia diuji saat menjadi Bupati Belitung sampai menjadi Gubernur Jakarta. Jika mau korupsi, baginya akan sangat mudah. Tapi sebaliknya, Ahok malah menganggap korupsi sebagai perbuatan laknat dan jahat.

Imajinasi Ahok membuktikan, bahwa mekanisme fsikis dirinya terhadap korupsi sudah melahirkan kebijakan yang transparan dan tegas terhadap para mafia. Termasuk para pengusaha yang mencoba hanya semata mencari untung dari proyek-proyek di ibukota.

Ahok menjadi satu-satunya gubernur di Indonesia yag pertama kali memublikasikan penghasilan sebagai gubernur melalui internet. Mana gubernur lainnya?

Terkait imajinasi ini, saya suguhkan cerita dari seorang penulis Kanada, Yann Martel. Dialah penulis yang berani menguji imajinasi pemimpin negaranya.

Hampir tiga tahun, Martel mengirimkan novel, kumpulan puisi, maupun drama kepada Stephen Harper, Perdana Menteri Kanada. Karya sastra yang dikirimkan, memiliki maksud menguji kualitas imajinasi sang perdana menteri.

Selama berkorespondensi, Martel tak pernah memeroleh surat balasan dari Harper. Martel meyakini, seorang pemimpin yang tidak membaca, atau tidak ingin mengetahui tentang orang lain akan punya visi yang membutakan.

Nah, jika gubernur, bupati dan walikota Anda misalkan terindikasi berbuat korup, sudah pasti diperlihatkan dengan kebijakan yang membutakan dan menyalahi aturan.

Kesimpulan

Esai tentang Tuhan, korupsi dan politisi ini, akan saya lengkapi dengan cerita dari Adhitya yang menamakan diri Gabbar dalam film dengan judul sama yang diproduksioleh Panorama Studios tahun 2015.

Gabbar yang diperankan oleh Akshay Kumar adalah sosok yang berani membunuh dan menggantung para koruptor. Ia juga menjadi inspirasi mahasiswa di Universitas India untuk tidak melakukan korupsi.

Bahkan dalam sebuah penggalan cerita, seorang mahasiswa yang merupakan putera dari pejabat terkorup, ikut unjukrasa ke jalanan bersama ribuan temannya agar Gabbar tidak ditahan.

Gabbar memang menyerahkan diri setelah selesai melaksanakan misinya memberantas korupsi. Gabbar sudah menjadi inspirasi.  Sikap mental yang anti korupsi dan meyakini Tuhan Maha Melihat, sudah menjadi obat ampuh untuk tidak korupsi. 

#LombaEsaiPolitik