Menjadi manusia bukanlah suatu hal yang mudah. Manusia yang setiap harinya harus melawan keegoisannya, melawan nafsunya, menjalani getir pahitnya kehidupan dunia, dan bahkan harus menundukkan dirinya dihadapan Sang Pencipta (Yang Maha Esa). 

"Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya" (Gus Dur / KH. Abdurrahman Wahid). Betapa hati tersentuh dan tergerak dari kata-kata seorang Gus Dur ini. Makna yang begitu dalam dan sangat mengetuk diri bagi yang memakainya.

Gus aku ingin bertanya, jadi kenapa manusia selalu mencaci memaki bahkan merendahkan manusia lainnya, hanya karena tak sejalan, hanya karena berbeda pandangan, apakah hanya karena mereka ingin menjadi Tuhan!.

Bahkan aku temui semua itu, saat banyak manusia berebut kekuasaan, saat berpolitik, saat menyuarakan hal-hal baik kata mereka dll. Tapi Gus aku rasa semua itu bukanlah memanusiakan manusia bahkan malah menjadikan manusia rendah dari kata manusia Gus. 

Lantas menjadi manusia yang manusia adalah sebuah tantangan bagi manusia. Dimana-mana manusia ingin dimanusiakan bahkan tidak terkecuali dengan saya. Manusia yang juga makhluk sosial, dikelilingi oleh manusia-manusia lainnya. Berinteraksi dalam lingkungan sekitarnya, yang mana semua manusia membutuhkan manusia lainnya. 

Manusia itu lihai dengan semua keegoisannya, tak sepaham dan sejalan lalu didalam hati dan juga sikapnya menghakimi manusia lainnya. Manusia juga lihai bersandiwara, untuk mencapai semua tujuannya ia berpura-pura sepaham namun pada akhirnya lambat laun ia akan mengeluarkan tutur kata salah benar terucap dari bibirnya. 

Bisakah manusia tanpa ada kebencian yang bertahta pada hatinya. Dapatkan manusia itu melakukan sesuatu tanpa harus meminta rasa iba pada manusia lainnya. Akankah manusia harus dimanusiakan dulu oleh manusia hingga memanusiakan manusia. Entah, paling tidak manusia memang harus dimanusiakan dengan cinta. 

Saling tenggang rasa, berbelas kasih sayang, menolong sesama, berbagi canda tawa, merahasiakan aib sesama, saling mengingatkan karena cinta, membunuh semua rasa benci yang ada, hingga pada akhirnya semua adalah kepatuhan pada Sang Pencipta (Yang Maha Esa). 

Gus, engkau mengingatkan kami untuk saling memanusiakan satu sama lain. Tidak terkecuali walaupun berbeda agama, ras bahkan suku bangsa juga budaya. Semua kau buktikan dengan semua ketenangan mu dalam mengahadapi kebencian yang datang padamu, bahkan kepada mereka yang tidak menyukaimu. Ketenangan mu adalah bukti kau memanusiakan manusia Gus. Seperti semua seolah baik-baik saja bagimu Gus. 

Aku menjadi malu pada diriku Gus. Sangat jarang aku bisa mengendalikan egoku, lisanku, bahkan sikapku pada orang lain Gus. Diam yang ku buat seolah-olah aku adalah bumerang yang melawan secara diam-diam dimata orang-orang yang menurut mereka aku tak sejalan pada mereka Gus. Tapi mau gimana lagi Gus, hal-hal baik aku yakini akan selalu hidup di hati sanubari setiap insan Gus. 

Terkadang tanggungjawab terbesar di dunia ini aku merasa adalah tanggungjawab kepada diri sendiri. Bahkan agar bisa bertanggungjawab pada orang lain, aku harus berjanji pada diriku sendiri. Menjadi manusia memang lah tidak semudah yang diucapkan maupun yang aku tuliskan saat ini, tapi bukan berarti juga kesulitan ini adalah sebuah alasan untuk tidak memanusiakan manusia. 

Selepas semua tentang memanusiakan manusia, semua adalah kewajiban bagi seorang hamba yang akan di pertanggung jawabkan dihadapan Tuhan yang Maha Esa. Bagaimana aku kelak dihadapan Tuhan, jikalau hidup ku di dunia masih banyak melakukan kesalahan pada manusia lainnya ciptaan Tuhan yang Maha Esa. 

Menjadi manusia pun serba salah, kadang diam dianggap tak bersahaja, kadang banyak omong dianggap tak beradab. Lalu bagaimana lagi, manusia memang selalu hidup dalam sebuah anggapan-anggapan namun entah sudut pandang seperti apa yang dipakai adalah sebuah alasan dari setiap ujaran-ujaran yang di perspektifkan. 

Benar salah pun kadang menjadi persolan, apakah dipandang salah benar menurut Tuhan atau hanya mengikuti benar salah ego manusia itu sendiri. Seperti halnya suatu kesalahan yang dibuat oleh manusia, kadang sebabnya tidak ingin diketahui oleh orang namun menyudutkan adalah jalan yang sering dijadikan sebuah pilihan. Seakan-akan salah benar ditangan manusia yang menentukan. 

Dalam dekapan Tuhan, semua menginginkannya. Berlaku dengan perintah Tuhan merupakan jalan satu-satunya menuju Rahmat dari-Nya. Namun manusia seringkali lupa dengan semua tipu daya dunia, sama halnya seperti saya. Barangkali semua hidup adalah jalan menuju akhirat, maka salah dan khilaf menjadi teman untuk berlaku tapi tidak untuk selamanya. Bagian terbaik, dari sebuah kehidupan yang kita jalani ialah mensyukuri nikmat dari-Nya. 

Menjadi manusia adalah memanusiakan manusia. Bahkan pada kesempatan itu terus ada pada manusia, bagi mereka yang benar-benar meresapi dengan keikhlasan ego dunia bahkan dapat mengendalikan nafsu dunia. Kepada diri yang jauh terkadang dari kata manusia, berusahalah terus sadar bahwa kita manusia harus memanusiakan manusia. Panjang umur hal-hal baik.

selangkah.juang 2021